Kelompok Warumas - wartawan usia emas, aktif menerbitkan buku kompilasi.

bongkah.id — Komunitas Wartawan Usia Emas (Warumas) kembali menghadirkan karya yang meneguhkan bahwa kreativitas tak kenal batas usia.

Buku antologi puisi terbaru mereka, Tanpa Jeda, menjadi bukti nyata dari semangat berkarya para wartawan senior yang terus hidupkan literasi di tengah dinamika zaman.

ads

Diprakarsai oleh Kris Maryono, pensiunan reporter RRI Surabaya, Tanpa Jeda merupakan antologi puisi kedelapan yang diterbitkan Warumas sejak komunitas ini lahir pada masa pandemi COVID-19.

Perjalanan panjang Warumas dimulai dari pertemuan sederhana di sebuah pusat perbelanjaan yang lengang, lalu berkembang menjadi rutinitas berkarya yang produktif.

Buku ini dihimpun dari karya 12 wartawan penyair. Setiap penulis menyerahkan kekaryaan sekitar 5 sampai 10 tema.

Diantaranya Rokimdakas, Adam A. Chevny, Achmad Pramudito, Amang Mawardi, Arieyoko, Imung Mulyanto, Ida Nursanty Nicholas, Sasetya Wilutama, , Toto Sonata, dan Widodo Basuki, serta sejumlah penulis tamu yang turut memberikan warna dalam kompilasi puisi ini.

Menurut catatan sejarah Warumas, antologi pertama mereka berjudul Kutulis Puisi Ini diluncurkan di kampus Untag, Semolo Waru, Surabaya.

Sejak itu komunitas ini konsisten menerbitkan buku antologi yang berbeda-beda tema dan gagasan. Di antaranya Kucinta Negeri, Kutulis Puisi; Wartakan Kemanusiaan, Kutulis Puisi; Seronce Sedep Malam; Bunga Rampai Suara Nurani; Eksotika Jawa Timur; hingga Menulis dengan Nurani.

Buku kompilasi Warumas edisi ke-8 bertajuk “Tanpa Jeda”.

Peluncuran Tanpa Jeda dijadwalkan pada 13 Februari 2026 di Balai Wartawan Surabaya, dengan kehadiran Ketua PWI Jawa Timur Lutfil Hakim sebagai pembicara kunci, menandai kembali semangat komunitas ini dalam menjembatani pengalaman serta pemikiran lewat kacamata seni puisi.

Lebih dari sekadar buku kumpulan puisi, Tanpa Jeda adalah bentuk “reuni dalam karya” — bukti bahwa persaudaraan antarsesama jurnalis senior dapat terus menyemai kreativitas, menginspirasi generasi muda, serta mendokumentasikan pengalaman panjang hidup dan profesi mereka dalam literatur Indonesia.

Format “reuni dalam bentuk kekaryaan” semacam ini sepatutnya direplikasi oleh komunitas lain agar cerita dan jejak keberadaan para anggotanya terdokumentasi secara panjang dan menyentuh. (kim)

3

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini