bongkah.id – Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat mengingatkan satu hal yang tak boleh dipangkas: kepekaan.
Di saat industri media bergulat dengan tekanan ekonomi dan gelombang pemutusan hubungan kerja, ia mengajak insan pers tetap menoleh ke bawah—ke arah mereka yang terpinggirkan, mereka rakyat yang hidupnya miskin.
Bagi Komaruddin, krisis yang dialami pers hari ini adalah kenyataan pahit. PHK menjalar dari satu perusahaan media ke media lain, meninggalkan kecemasan di balik meja redaksi.
Namun, ia menegaskan, kesulitan itu tak seharusnya membuat pers menutup mata terhadap nasib masyarakat kecil yang setiap hari berjuang dalam senyap.
“Sekarang ini problem pers adalah bertahan hidup secara ekonomi. PHK terjadi di mana-mana, itu agenda yang sangat dirasakan pers,” ujarnya di Jakarta, Jumat, (6/2/2026).
Ia lalu berhenti sejenak, seolah memberi ruang pada kalimat berikutnya. “Tapi cobalah, sempatkanlah. Kepedulian pada nasib rakyat yang terpinggirkan itu harus sering, harus lebih banyak disuarakan.”
Pernyataan itu ia sebut sebagai alarm—bunyi peringatan agar dunia pers tidak larut dalam urusan internalnya sendiri, sementara persoalan sosial terus berjalan di luar pagar redaksi.
Alarm itu mengeras setelah publik menyoroti kasus bunuh diri seorang siswa sekolah dasar yang diduga tak mampu membeli alat tulis. Sebuah tragedi kecil yang memukul kesadaran besar.
Di mata Komaruddin, peristiwa itu bukan sekadar berita duka, melainkan serpihan dari kemiskinan struktural yang masih kokoh mencengkeram. Ia melihat bagaimana tragedi semacam ini kerap muncul sebentar, lalu menghilang, tertutup isu lain yang lebih gaduh.
“Kan ada ungkapan no viral, no justice. Kalau nanti ramai-ramai baru diperhatikan. Tapi kalau hanya satu, nanti lupa lagi,” katanya.
Kalimat itu meluncur pelan, namun menyimpan kritik tajam tentang cara publik dan kekuasaan memberi perhatian.
Komaruddin menggambarkan struktur sosial Indonesia seperti piramida besar: semakin ke bawah, semakin banyak jumlahnya, namun semakin tipis terdengar suaranya.
Kelompok miskin berada di lapisan paling dasar—menopang, tetapi jarang disapa. Karena itu, menurutnya, pemerintah dan para pemangku kebijakan perlu terus diingatkan agar kemiskinan struktural ditangani dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar janji pertumbuhan.
Ia juga mengajukan pertanyaan yang kerap terlewat dalam euforia angka-angka ekonomi. “Kalau mengejar pertumbuhan, tapi siapa yang tumbuh?” ujarnya. “Sekarang ini yang tumbuh banyak orang kaya-kaya, tapi yang miskin kan tidak berubah.”
Di tengah semua itu, pers—meski pincang dan tertatih—tetap ia tempatkan sebagai penjaga nurani publik. Pers, kata Komaruddin, bukan hanya pencatat peristiwa, tetapi pengawas sosial yang memastikan ketimpangan dan kemiskinan tak tenggelam dalam lupa.
Dari sanalah, ia berharap, suara-suara kecil terus dipantulkan, hingga akhirnya memaksa kebijakan berpihak pada mereka yang selama ini hidup di pinggir cerita. (anto)
.



























