Ketua PWI Sidoarjo, Mustain, memotong tumpeng dalam tasyakuran dan doa bersama dihadiri seluruh pengurus dan anggota PWI Sidoarjo serta Forkopimda dan elemen masyarakat Sidoarjo.

bongkah.id – Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 dan Hari Ulang Tahun (HUT) PWI ke-80 di Balai Wartawan Sidoarjo tak diwarnai gegap gempita, tanpa panggung megah, tapi sarat makna. Denyut pers justru terasa jujur dan sederhana mengalir di kantor Balai Wartawan PWI Sidoarjo, Jumat (6/2/2026).

Doa-doa dipanjatkan, tumpeng dibagi, dan cerita panjang tentang perjuangan jurnalistik untuk tetap berpihak pada kebenaran kembali dikenang.

ads

Ketua PWI Sidoarjo, Mustain, mengingatkan bahwa HPN sejatinya diperingati setiap 9 Februari. Namun lebih dari sekadar tanggal, ia menyebut HPN sebagai ruang bercermin bagi insan pers.

“Selama 80 tahun, PWI telah menjadi rumah bagi insan pers Indonesia dan berjuang menjaga kebebasan pers serta profesionalisme wartawan,” ujar Mustain.

Di tengah arus digital yang deras, tantangan pers kian kompleks. Disrupsi teknologi, tekanan ekonomi media, hingga banjir informasi kerap mengaburkan batas antara fakta dan sensasi.

Namun bagi Mustain, komitmen pers tak boleh berubah. “Komitmen kita tetap menyajikan informasi yang akurat, berimbang, dan bermanfaat bagi masyarakat,” tegas wartawan Harian Bangsa dan bangsaonline.com itu.

Menurutnya, pers yang kredibel adalah pilar demokrasi. Ia mengajak wartawan menjaga solidaritas, meningkatkan kompetensi, dan tetap memegang teguh etika profesi. “Pers Indonesia harus tetap profesional, berintegritas, dan bermartabat,” ucapnya.

Dari sudut pandang pemerintah daerah, Kepala Dinas Kominfo Sidoarjo Eri Sudewo menilai usia 80 tahun PWI adalah bukti keteguhan organisasi pers dalam mengawal perjalanan bangsa.

“PWI telah menjadi saksi perjalanan bangsa, pengawal informasi, dan mitra penting dalam pembangunan demokrasi,” kata Eri.

Namun kebebasan pers, lanjutnya, tak boleh kehilangan tanggung jawab. Media diharapkan menggunakan ruang publik untuk menyebarkan pesan yang mencerahkan, mengedukasi, dan memperkuat solidaritas sosial.

Harapan senada disampaikan Ketua DPRD Sidoarjo Abdillah Nasih. Ia menyebut HPN dan HUT PWI sebagai momentum evaluasi peran wartawan bagi masyarakat.

“Ini momentum luar biasa untuk melihat sejauh mana wartawan dan organisasi pers telah berkontribusi,” ujarnya.

Dalam konteks yang lebih luas, Ketua Dewan Pers berulang kali menegaskan bahwa pers bukan sekadar penyampai informasi, melainkan penjaga nurani publik.

Pers dituntut tetap memberi ruang suara bagi mereka yang terpinggirkan—kaum kecil, minoritas, dan warga yang kerap luput dari sorotan kekuasaan.

Pers, menurut Dewan Pers, harus berani berdiri di sisi korban, bukan semata di dekat pusat kekuasaan.

Di sanalah idealisme jurnalistik diuji: ketika keberpihakan pada kemanusiaan lebih diutamakan daripada kepentingan politik atau ekonomi.

Di Balai Wartawan Sidoarjo, peringatan HPN dan HUT PWI ke-80 menjadi pengingat bahwa jurnalisme bukan hanya tentang kecepatan dan viralitas.

Ia adalah kerja sunyi merawat akal sehat, menjaga demokrasi, dan memastikan tak ada suara yang benar-benar hilang.

Delapan dekade PWI bukan sekadar angka. Ia adalah perjalanan panjang tentang keberanian menulis, kejujuran bersuara, dan kesetiaan pada publik—terutama mereka yang selama ini berada di pinggir sejarah. (anto)
.

4

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini