bongkah.id – Sungai Brantas, nadi panjang sungai di Jawa Timur yang membentang melewati 17 kabupaten dan kota, kembali menjadi fokus upaya pelestarian lingkungan.
Di tengah ancaman pencemaran sampah yang terus menggerus kualitas airnya yang semula bersih, Perum Jasa Tirta (PJT) I menyatakan dukungan terhadap pelaksanaan Zero Waste Academy (ZWA).
Zero Waste Academy ini digagas oleh Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), sebagai ruang belajar untuk memperkuat pengelolaan sampah dari sumbernya serta menjaga Sungai Brantas dari beban limbah.
Sungai Brantas bukan sekadar aliran air. Sungai sepanjang 320 kilometer ini menyuplai air baku bagi hampir 19 juta orang di Jawa Timur, termasuk sebagai sumber air mentah untuk Surabaya, Sidoarjo, Gresik, dan Mojokerto.
Sungai Brantas juga menjadi basis irigasi lahan pertanian seluas ratusan ribu hektar, mengendalikan banjir, dan menopang sektor pembangkit listrik serta perikanan lokal.
Namun peran strategis ini terancam oleh pencemaran yang kian akut.
Limbah padat dari rumah tangga, termasuk plastik, kantong, bahkan popok sekali pakai yang diperkirakan jutaan unit masuk ke sungai setiap bulan. Selain itu limbah cair dari industri dan rumah tangga kini mencemari aliran Brantas hingga ke hilirnya.
Direktur Utama PJT I, Fahmi Hidayat, menegaskan pentingnya keterlibatan perusahaan dalam program ZWA sebagai bagian dari komitmen menjaga keberlanjutan kualitas sumber daya air.
“Perlindungan sungai tidak dapat hanya mengandalkan upaya di badan air, tetapi harus dimulai dari pengelolaan sampah di sumbernya,” katanya saat membuka kegiatan di Kediri, Kamis (5/2/2026).
Aulia Agusta Alamsjah, narasumber dari PJT I, berbagi pengalaman lapangan dalam pengendalian sampah di badan sungai. Ia memaparkan kegiatan pemasangan trash barrier di titik strategis untuk mencegah sampah masuk ke infrastruktur sumber daya air.
Disebutkannya, volume sampah yang dikelola di beberapa titik, misalnya di Waduk Sengguruh, Malang, mencapai sekitar 35.000 meter kubik per tahun.
Namun tantangan terbesar tetap di akar permasalahan: cakupan layanan persampahan di banyak kawasan pedesaan di sepanjang DAS Brantas masih rendah, kurang dari 15 persen.
Kondisi ini membuka peluang besar sampah rumah tangga bocor ke aliran sungai, bahkan menyebabkan kontaminasi mikroplastik pada ikan sungai, yang berpotensi mengancam kesehatan manusia dan ekosistem.
Program ZWA ini diikuti lebih dari 50 peserta dari 12 kota/kabupaten di Pulau Jawa, termasuk perwakilan Bappeda, dinas lingkungan hidup, pemerintah desa dan kelurahan, akademisi, serta organisasi lingkungan hidup.
Kegiatan ini dirancang tidak hanya sebagai diskusi, tetapi sebagai upaya sistemik untuk mendorong perlindungan Sungai Brantas dari hulu hingga hilir melalui pencegahan timbunan sampah di tingkat rumah tangga dan komunitas.
Dengan kolaborasi multipihak yang diperkuat, diharapkan ekosistem pengelolaan sampah berbasis pencegahan bisa diperkuat.
Harapannya, Sungai Brantas sebagai nadi kehidupan masyarakat di Jawa Timur, tidak hanya terselamatkan dari sampah, tetapi juga tetap berfungsi sebagai sumber kehidupan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang. (anto)



























