Siswi berprestasi, Aristawidya Maheswari, (kanan) hanya tinggal dengan neneknya Siwi Purwanti di rumah susun, kawasan Jatinegara, Jakarta Timur, gagal menembus PPDB lantaran terganjal sistem zonasi dan faktor usianya, 15 tahun lebih 8 bulan 3 hari.

Bongkah.id – Prestasi tak selalu menentukan posisi. Pengalaman pahit ini yang dialami Aristawidya Maheswari (15). Pelajar SMP yang mengoleksi ratusan penghargaan tingkat daerah hingga nasional itu malah tidak tersaring masuk daftar siswa dalam PPDB SMA Negeri di Jakarta.

Sejak bangku taman kanak-kanak (TK) hingga tamat sekolah dasar (SD), Aristawidya berhasil merengkuh total 700 penghargaan dari berbagai ajang di bidang pendidikan. Namun, deretan prestasi itu tak membuat rute pendidikan formal yang akan ditempuhnya berjalan mulus.

Nenek Aristwidya, Siwi Purwanti, mengatakan, ia telah mendaftarkan cucunya ke 6 sekolah negeri lewat jalur yang telah ditetapkan oleh Dinas Pendidikan. Tapi dari 6 sekolah tersebut, tidak satupun yang bisa menerima Aristawidya.

Alumni SMPN 92 Jakarta Timur itu gagal mendaftar di seluruh jalur penerimaan peserta didik baru (PPDB) Jakarta 2020 karena sejumlah faktor. Mulanya, peraih rata-rata nilai rapor 8,2 dari lima mata pelajaran dasar itu mendaftar lewat jalur prestasi.

Namun sayangnya, jalur tersebut memberlakukan aturan hanya menerima siswa yang meraih penghargaan dalam bentuk lomba pada kurun tiga tahun terakhir. Sementara penghargaan terakhir diterima lebih dari tiga tahun lalu, ketika dirinya baru menyelesaikan pendidikan SD.

Ketidakberuntungan kembali menghampiri Aristawidya ketika ia melewati dua jalur alternatif PPDB. Ia juga gagal diterima lewat jalur afirmasi Kartu Jakarta Pintar (KJP) dan prestasi akademik lantaran usianya yang kini menginjak 15 tahun lebih 8 bulan 3 hari.

Rangkaian kegagalan yang dialami Aristawidya mendaftar sekolah ini sejatinya menguak celah yang menganga dari sistem zonasi dalam PPDB. Tak adanya SMAN yang terletak di wilayah tempat tinggalnya nyaris menutup akses Aristawidya untuk melanjutkan jenjang pendidikannya. Anak yatim piatu itu hanya tinggal dengan neneknya di Rumah Susun Jatinegara Kaum, Pulo Gadung, Jakarta Timur.

Masalah ini sangat mungkin juga dialami oleh siswa berprestasi lain di berbagai daerah. Mereka bahkan terancam putus sekolah hanya karena tidak ada sekolah negeri di wilayah rumahnya.

Meski demikian, rangkaian kegagalan tadi tak membuat Aristawidya patah arang. Dengan dukungan penuh dari keluargnya, ia masih terus berusaha mencari jalan lain agar bisa diterima masuk SMA Negeri di ibukota.

Siwi mengatakan, ada satu jalur terakhir yang bisa ditempuh cucunya. Itu pun sangat tergantung sisa kuota siswa baru di sekolah-sekolah yang ada di Jakarta dan harus menunggu hingga akhir PPDB.

“Biasanya di akhir PPDB ada sekolah yang kuotanya belum terisi penuh. Bisa daftar lagi nanti kalau ada yang kosong,” cetus Siwi di Jakarta, Sabtu sore (4/7/2020).

Siwi menyebutkan, biasanya sisa kuota itu ada di jalur inklusi. Jalur tersebut disediakan untuk menampung siswa yang memiliki kelainan atau potensi bakat maupun kecerdasan istimewa.

“Jalur inklusi tiap sekolah menyediakan jatah untuk dua murid. Kalau tidak ada yang daftar, kuota dua kursi itu akan dibuka untuk umum di tahap akhir PPDB,” paparnya.

Hanya, menurut Siwi, peluang berhasil masuk dari jalur sisa kuota inklusi itu juga cukup tipis. Pasalnya, kuota itu akan diperebutkan oleh peserta PPDB jalur bina RW yang dibuka pada 4 Juli 2020 hingga 6 Juli 2020, yakni sebelum jadwal lapor diri bagi calon siswa yang diterima.

“Kalau ikut jalur bina RW tidak mungkin karena SMA negeri di kelurahan ini tidak ada,” tuturnya. (bid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here