ILUSTRASI. KOMITMEN dalam mendukung ketahanan pangan nasional, PT Pupuk Indonesia (Persero) membuktikan dengan meningkatan kapasitas produksi pupuk majemuk (pupuk NPK). Juga membangun pabrik CO2 sepanjang 2020. Demikian pula dalam melakukan optimalkan digitalisasi untuk mendukung semua sistem yang dibutuhkan perusahaan.

bongkah.id – PT Pupuk Indonesia (Persero) membuktikan komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Sebuah komitmen dalam menyediakan produk dan solusi pertanian yang terintegrasi. Sikap itu ditunjukkan melalui peningkatan kapasitas produksi pupuk majemuk (pupuk NPK). Juga membangun pabrik CO2 sepanjang 2020. Demikian pula dalam melakukan optimalkan digitalisasi untuk mendukung semua sistem yang dibutuhkan perusahaan.

“Pada tahun 2020 ini ditandai dengan beroperasinya pabrik pupuk NPK Fusion II milik anak usaha, yakni PT Pupuk Sriwidjaja Palembang. Kapasitas produksinya 2×100 ribu ton per tahun,” kata Kepala Komunikasi Korporat PT Pupuk Indonesia (Persero) Wijaya Laksana dalam keterangan tertulis yang diterima bongkah.id, Selasa (3/11/2020).

Selain PT Pupuk Sriwidjaja Palembang (PSP), menurut dia, PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) yang berlokasi di Lhoksemauwe, Aceh, juga tengah proses pembangunan pabrik NPK. Kapasitas produksinya mencapai 500 ribu ton per tahun. Pabrik NPK PT PIM ditargetkan rampung pada 2021.

Pabrik-pabrik NPK tersebut, dikatakan, diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pasar NPK di Indonesia. Produk NPK sendiri merupakan pupuk majemuk. Yang mengandung unsur hara nitrogen, phosfat (P) dan kalium (K) yang dibutuhkan tanaman. Manfaatnya untuk meningkatkan hasil pertanian maupun perkebunan.

Tidak hanya itu, PT Pupuk Indonesia juga melakukan program transformasi. Menjadi penyedia solusi pertanian dan nutrisi tanaman di Indonesia. Terlebih dalam penggunaan pupuk NPK, yang sejalan dengan program pemerintah dalam pemupukan berimbang. Yang menggunakan pupuk majemuk spesifik komoditi. Juga, spesifik lokasi agar lebih efisien, tepat guna dan ramah lingkungan.

Perseroan melalui anak usahanya yakni PT Pupuk Kujang, diakui, juga telah merampungkan pembangunan pabrik CO2 pada September 2020 lalu. Keberadaan pabrik itu bertujuan memanfaatkan gas ekses, dari proses produksi pabrik Kujang 1A dan 1B. Gas ekses diubah menjadi produk CO2 cair yang bisa digunakan oleh industri lainnya. Pabrik CO2 tersebut memiliki kapasitas produksi sekitar 50 ribu ton per tahun. Produk akhir pabrik berupa CO2 murni standard food grade ini sangat diperlukan oleh berbagai jenis industri.

Dalam industri makanan dan minuman misalnya. Menurut dia, CO2 murni digunakan untuk pembuatan minuman berkarbonasi, pengawetan makanan perikanan dengan dry ice, pemutihan gula, hingga pembuatan filter rokok. Tak hanya itu, CO2 murni juga bisa digunakan dalam industri manufaktur pengelasan, pemutihan kertas, fumigasi pada sektor pertanian, serta secondary oil recover.

Perusahaan pupuk pelat merah itu, dikatakan, berharap pengembangan produk pupuk majemuk dan produk samping ini dapat meningkatkan pangsa pasar (market share), mengingat makin tingginya tren permintaan pasar dalam negeri dan ekspor. Target itu selaras dengan program kerja Pupuk Indonesia untuk lebih fokus pada diversifikasi produk yang mampu meningkatkan daya saing.

OPTIMALKAN DIGITALISASI

Pada kesempata berbeda, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia Bakir Pasaman mengatakan, perusahaan yang dipimpinnya itu terus memperkuat digitalisasi dalam menjalankan operasional. Kebijakan tersebut guna menjaga performa perusahaan tetap produktif dan adaptif dengan perubahan yang terjadi akibat pandemi. Salah satu terobosan yang dioptimalkan, yakni aplikasi Digital Fertilizer.

Optimalisasi digital perusahaan itu, menurut dia, sejalan dengan lima prioritas kerja Kementerian BUMN dalam 365 hari di bawah kepemimpinan Erick Thohir. Yang antara lain meningkatkan nilai ekonomi dan sosial, inovasi model bisnis, kepemimpinan teknologi, peningkatan investasi, serta pengembangan talenta.

Sementara itu, Wijaya Laksana sebagai Kepala Komunikasi Korporat menambahkan, Digital Fertilizer merupakan aplikasi yang dapat memonitor seluruh aspek kinerja pabrik. Aplikasi ini berpotensi menunjang kinerja produksi, seperti peningkatan efisiensi bahan baku dan biaya pemeliharaan, meningkatkan reliability serta menurunkan angka shutdown di pabrik.

“Penerapan Digital Fertilizer terdiri atas process monitoring, asset monitoring, reliability & maintenance dan digital asset. Aplikasi ini mampu memberikan informasi secara dini tingkat kesehatan peralatan pabrik, sebagai dasar dalam rencana perbaikan yang diperlukan tiap pabrik,” katanya.

Saat ini, dikatakan, ada empat pabrik yang telah menjadi pilot plant dalam pengembangan program ini antara lain pabrik Pusri-IIB, Kujang-1B, PKT-5, dan PKG-1B. Keempat pabrik itu dipilih, memadai karena dari segi teknologi. Kondisi itu membuat keempatnya dapat dilakukan digitalisasi, bahkan tiga di antara keempatnya itu merupakan pabrik baru yang kapasitasnya besar. Karena itu, perlu dijaga kehandalannya.

Di samping itu, tambahnya, dalam menjalankan proses bisnis, Perusahaan juga mengimplementasikan Single System Enterprise Resources Planning (ERP) SAP. Kebijakan ini bertujuan membuat proses bisnis lebih terintegrasi antara satu dan lainnya. Implementasi ERP mencakup proses bisnis produksi, pemeliharaan, pemasaran, pengadaan, akuntansi, keuangan, hingga sumber daya manusia.

“Kami juga telah memaksimalkan penggunaan aplikasi Digital Office, Web Anggaran, dan E-Proc yang dapat diakses secara online dan paperless. Kebijakan ini dapat mengurangi biaya,” ujarnya.

Pengelolaan risiko di Pupuk Indonesia Grup, menurut dia, juga dilakukan secara sistematis, terstruktur, dan terintegrasi melalui sistem Pupuk Indonesia Risk Management Application (PRISMA). Aplikasi PRISMA ini menjadi sarana dalam melakukan proses identifikasi, analisis, dan evaluasi risiko (Risk Control Self Assessment/RCSA) berbasis teknologi informasi.

Selain itu, PRISMA juga berfungsi sebagai dashboard bagi Manajemen Perusahaan, untuk melakukan pemantauan terhadap pengelolaan risiko di Pupuk Indonesia Group. Juga, mendukung pengambilan keputusan.

Sementara interaksi Pupuk Indonesia dengan stakeholder telah menggunakan Sistem Layanan Pelanggan Terintegrasi dan Whistle Blowing System. Hasilnya, tersedia sarana komunikasi dan informasi antara Pupuk Indonesia Grup dengan pelanggan, serta calon pelanggan, secara terintegrasi. Juga, tersedia publikasi seputar mekanisme dan dugaan pelanggaran yang dilakukan secara transparan yang dapat diakses secara online.

Salam mendukung tugas penyaluran pupuk bersubsidi, ditegaskan Wijaya, Perseroan telah mengembangkan aplikasi Web Commerce (WCM), Aplikasi Gudang (APG), dan Sistem Informasi Niaga (SIAGA). Program SIAGA merupakan aplikasi berbasis web dan mobile, yang menyajikan informasi penebusan dan stok pupuk subsidi yang diakses secara real-time dan akurat.

“Aplikasi SIAGA mampu menunjang penerapan aturan e-RDKK, sehingga penyaluran dan pengendalian stok pupuk bersubsidi dapat lebih tepat sasaran, valid dan terverifikasi. Sekaligus mencegah terjadinya duplikasi penerima pupuk bersubsidi,” ujarnya.

Sebagai penyempurna, Pupuk Indonesia telah mengoptimalkan teknologi digital dalam pengelolaan arsip dan surat menyurat, pelaksanaan rapat virtual, hingga absensi kehadiran melalui aplikasi absensi online berbasis geo-tagging. Sedangkan untuk memantau kondisi kesehatan pegawai, Perusahaan juga telah memiliki Aplikasi Pantau COVID-19 (PanCO). Dengan aplikasi PanCo, perusahaan dapat mengetahui kondisi kesehatan terkini, riwayat pemantauan dan pemeriksaan terhadap karyawan, tenaga alih daya beserta keluarga. (ima)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here