Tindakan pencegahan dan penanggulangan Virus Ebola di Kongo.

Bongkah.id – Wabah Virus Ebola kembali menyerang warga Republik Demokratik Kongo (DRC). Ada enam kasus Ebola baru yang merebak di negara tersebut, Senin kemarin (1/6/2020), lima di antaranya berakhir kematian.

United Nastions Chilrdes’s Fund (Unicef) melaporkan salah satu korban yang terjangkit Ebola ialah remaja putri berusia 15 tahun. Menurut Unicef, enam kasus tersebut baru terkonfimasi kemarin di luar kasus kematian yang terjadi pada 18 dan 30 Mei 2020 lalu.

Padahal, wabah pertama mulai berakhir. Pada 14 Mei 2020, Kementerian Kesehatan Kongo memulai 42 hari hitung mundur deklarasi berakhirnya wabah ebola ke-10.

Petinggi WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus lewat akun Twitter, Senin dini hari, berkicau, bahwa enam kasus baru ebola itu dilaporkan terjadi di Mbandaka, sebelah barat laut Kongo.

Gubernur provinsi Bobo Boloko Bolumbu mengatakan sampel-sampel telah dikirim ke INRC, markas riset medis nasional di Kinshasa, untuk konfirmasi kedua. Warga didesak tetap tenang, menjaga kebersihan, dan tidak bersalaman.

Ini merupakan wabah ke-11 dari virus mematikan tersebut. Tingkat fatalnya kasus ebola yang berakhir kematian dilaporkan antara 25 persen dan 90 persen, tergantung seberapa besar wabah.

Republik Demokratik Kongo terus berjuang untuk mengakhiri wabah yang dimulai pada 2018 lalu di sebelah timur negara tersebut. Kota Mbandaka merupakan lokasi wabah ebola kesembilan yang terjadi pada Juli 2018. Wabah ebola terakhir berlokasi di tiga kawasan, yaitu North Kivu, South Kivu, dan Provinsi Ituri. Outbreak ini belum selesai.

WHO mencatat 4.306 kasus, dan 2.243 kematian. Pengumuman teranyar ini menurut WHO muncul di tengah sulit dan kompleksnya tahap akhir penanganan virus di wilayah timur itu.

Di sisi lain, Kongo juga harus berhadapan dengan Covid-19 yang juga mewabah di seluruh dunia.  Negara di Afrika tengah itu mencatat 3.195 kasus Corona, dengan tingkat kematian 72 orang.

Ebola memang merupakan virus endemik Afrika, pertama ditemukan pada 1976. Selain di Republik Demokratik Kongo, ebola juga menjangkiti beberapa negara lainnya di Afrika, seperti Sierra Leone dan Liberia.

WHO menyebut virus ebola hidup di kelelawar dan wabah baru mungkin kembali terjadi di negara tersebut. Berdasarkan catatan terakhir, epidemi ebola terparah sejak penyakit tersebut pertama ditemukan pada 1976, terjadi pada 2014-2016 di negara-negara Afrika Barat seperti Liberia, Sierra Leone dan Guinea. Lebih dari 28 ribu orang terinfeksi dan sedikitnya 11 ribu orang meninggal.

Virus ebola termasuk dalam famili Filoviridae yang mencakup tiga kelompok, yaitu Cuevavirus, Marburgvirus, dan Ebolavirus. Dalam genus Ebolavirus, enam spesies ditemukan yaitu di Zaire, Bundibugyo, Sudan, Tai Forest, Reston, dan Bombali.

Ebola Virus Disease (EVD) atau Ebola haemorrhagic fever merupakan penyakit dengan tingkat keparahan yang tinggi. Penyakit ini menginfeksi manusia dan primata, serta kerap berujung pada kematian.

Transmisinya wama seperti Covid-19 yakni virus kategori penyakit zoonosis yang ditransmisikan dari satwa liar. Para ilmuwan percaya bahwa inang dari virus ebola adalah kelelawar dari famili Pteropodidae, jenis kelelawar pemakan buah.

Selain kelelawar, beberapa satwa liar yang menjadi inang ebola adalah landak, simpanse, gorila, monyet, dan antelop. Mayoritas penduduk Afrika terinfeksi ebola karena kontak langsung dengan hewan yang ditemukan sakit atau mati di hutan setempat.

Virus ebola kemudian menyebar antar-manusia melalui kontak langsung dengan darah, sekresi, organ, atau cairan tubuh lainnya dari orang yang terinfeksi. Tak hanya kontak langsung, tetapi juga melalui benda mati yang terpapar cairan tubuh orang yang terinfeksi. (bid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here