bongkah.id – Fenomena “Zero Click” membawa kegelisahan bagi dunia wartawan. Dunia bergerak terlalu cepat, sementara jurnalisme dituntut tetap berpijak pada ketelitian.
Pada Retreat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) 2026 di Bogor, Jumat (30/1/2026), Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, berbicara bukan sekadar tentang perubahan teknologi, melainkan tentang pergeseran cara manusia mengakses kebenaran.
Perkembangan teknologi digital, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence—AI), menurut Nezar, telah mengubah ekosistem media secara mendasar.
Bukan hanya alat bantu kerja redaksi, AI kini menjelma menjadi pintu utama distribusi informasi.
Berita tidak lagi sepenuhnya mengalir dari ruang redaksi ke pembaca, melainkan singgah dan disaring lebih dulu oleh mesin, algoritma, dan platform digital.
Dalam lanskap baru ini, muncul satu istilah yang kian akrab sekaligus mengkhawatirkan yakni zero click.
“Kita menghadapi fenomena zero click, di mana publik cukup membaca ringkasan berita dari AI tanpa mengunjungi sumber aslinya,” kata Nezar.
Fenomena zero click menandai perubahan perilaku konsumsi informasi. Mesin pencari, terutama Google, kini mampu menyajikan jawaban instan, ringkasan berita, bahkan analisis singkat, langsung di halaman pencarian.
Pembaca mendapatkan informasi tanpa perlu mengklik tautan, tanpa masuk ke portal media, tanpa berinteraksi dengan karya jurnalistik secara utuh.
Bagi industri pers, perubahan ini bukan sekadar soal teknologi, melainkan soal keberlanjutan. Peralihan media dari cetak dan siaran ke platform digital yang semula dianggap sebagai jalan keluar, justru melahirkan tantangan baru.
Dominasi platform digital dan teknologi berbasis algoritma membuat distribusi berita tak lagi berada sepenuhnya di bawah kendali redaksi.
AI, dengan kecepatan dan kecanggihannya, mampu menyerap, merangkum, dan menyajikan ulang berita dalam hitungan detik.
Informasi beredar tanpa konteks yang lengkap, tanpa kedalaman pelaporan, dan sering kali tanpa menyebutkan sumber secara jelas. Di titik inilah karya jurnalistik tetap dikonsumsi, tetapi nilai ekonominya tergerus.
Menurut Nezar, kecanggihan teknologi AI yang berkembang sangat pesat memungkinkan masyarakat mengakses berita tanpa harus melalui platform resmi media pers.
Dampaknya terasa langsung pada trafik media dan model bisnis industri pers yang selama ini bergantung pada kunjungan pembaca.
“Akses arus berita saat ini tengah dikendalikan oleh platform yang bekerja dengan AI,” ujarnya.
Pernyataan itu diperkuat oleh data riset Reuters Institute bekerja sama dengan University of Oxford. Dalam riset tersebut, Nezar mengungkapkan adanya penurunan optimisme di kalangan pelaku media terhadap masa depan jurnalisme.
Trafik media digital disebut mengalami penurunan lebih dari 40 persen, seiring meningkatnya konsumsi informasi melalui platform dan layanan berbasis AI.
Informasi kini bergerak lebih cepat dari sebelumnya, tetapi kecepatan itu kerap mengorbankan kedalaman.
Algoritma menentukan apa yang muncul di hadapan pembaca, sementara redaksi perlahan kehilangan kendali atas bagaimana, kapan, dan kepada siapa berita mereka disampaikan.
Di tengah perkembangan teknologi yang kian agresif, dunia pers dihadapkan pada paradoks: kebutuhan masyarakat akan informasi meningkat, tetapi keberlanjutan media justru melemah.
Jurnalisme berada di persimpangan antara beradaptasi dengan mesin atau mempertahankan nilai-nilai yang selama ini menjadi fondasinya yakni verifikasi, akurasi, dan tanggung jawab publik.
Fenomena zero click telah menjelma jadi ruang perenungan tentang masa depan profesi wartawan. Tentang bagaimana jurnalisme bisa tetap relevan di tengah dunia yang semakin menyukai jawaban singkat, cepat, dan instan, meski sering kali tanpa menengok dari mana kebenaran itu berasal. (anto)
























