Pedagang jajanan merupakan salah satu pilar perekonomian nasional.

bongkah.id – Pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terdengar keras, bahkan terasa menampar. Justru di situlah letak kejujurannya.

Ia menegaskan bahwa pelemahan ekonomi nasional tidak bisa terus-menerus ditimpakan pada situasi global.

ads

Jika ekonomi domestik terseok, itu lebih sering karena kita sendiri yang tidak becus mengelolanya.

Selama ini, narasi “ekonomi global sedang tidak baik-baik saja” kerap menjadi alasan serba guna. Setiap pertumbuhan melambat, setiap daya beli melemah, yang disalahkan selalu faktor luar.

Purbaya menyebut pola pikir semacam itu sebagai cara cari aman untuk menutupi kelemahan kebijakan dan pengelolaan ekonomi di dalam negeri.

Padahal, struktur ekonomi Indonesia bukan kapal kecil di tengah badai global. Lebih dari sekadar ekspor-impor dan arus modal asing, denyut ekonomi negeri ini digerakkan oleh konsumsi rakyatnya sendiri.

Warung di gang sempit, pasar tradisional, UMKM yang bertahan dari pagi ke malam, itulah mesin utama ekonomi nasional. Jika mesin itu pincang, rasanya janggal bila yang disalahkan selalu angin dari luar negeri.

Purbaya menyebut kecenderungan menyalahkan global sebagai excuse. Kata yang sederhana, tapi pedas. Sebab di baliknya tersimpan kritik bahwa ada yang keliru dalam cara kita mengelola anggaran, menjaga daya beli, dan membaca realitas sosial.

Alih-alih mengakui kekurangan, kita lebih nyaman menunjuk arah lain, seakan masalah selalu datang dari luar pagar.

Satirnya, semakin sering global dijadikan kambing hitam, semakin kita lupa bercermin. Kebijakan yang tak sinkron, belanja negara yang kurang produktif, hingga keputusan ekonomi yang jauh dari kebutuhan riil rakyat, pelan-pelan lenyap dari ruang evaluasi.

Global dijadikan tersangka utama, sementara kesalahan sendiri dibebaskan tanpa pemeriksaan.

Namun justru di situlah sisi humanis dari kritik Purbaya. Ia tidak sedang merendahkan bangsa ini, melainkan mengajak dewasa. Jika masalah ekonomi bersumber dari dalam, maka kita punya kendali untuk memperbaikinya.

Mengakui ketidakbecusan bukan akhir dari segalanya, melainkan titik awal untuk belajar dan membenahi.

Purbaya seperti hendak berkata, bangsa ini tidak miskin ide, tidak kekurangan sumber daya, dan tidak sepenuhnya tak berdaya.

Yang sering hilang adalah keberanian untuk jujur, bahwa kegagalan tidak selalu datang dari luar. Bahwa menyalahkan global terlalu sering hanya menjadi selimut tipis bagi manajemen yang rapuh.

Pada akhirnya, kritik ini menyentuh inti persoalan, apakah kita ingin terus menjadi penonton yang mengeluh pada keadaan dunia, atau menjadi pengelola yang berani bertanggung jawab atas rumah tangganya sendiri.

Sebab ekonomi nasional tak butuh alasan yang terdengar pintar melainkan keberanian untuk mengurusnya lebih becus. (kim)

9

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini