Pengasapan (fogging) di lingkungan dan rumah-rumah warga adalah salah satu langkah mencegah penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang ditekankan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa kepada para kepala daerah di wilayah masing-masing.

Bongkah.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengingatkan bupati/wali kota untuk bergerak cepat mengantisipasi ancaman demam berdarah dengue (DBD). Penyakit ini kembali mewabah dengan angka kematian di Jatim mencapai belasan orang hanya selama periode tiga minggu, 1-27 Januari tahun 2022.

Pada periode tersebut, jumlah warga yang terjangkit DBD di Jatim 1.000 orang. Kondisi ini membuat Gubernur Khofifah meminta seluruh kepala daerah kota/kabupaten di wilayahnya segera bertindak melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan.

ads

“Para kepala daerah harus meningkatkan kewaspadaan atas DBD, tapi juga tetap serius mencegah penyebaran COVID-19,” kata Khofifah di Surabaya, Jumat (28/1/2022).

Sebelumnya, Dinas Kesehatan Jatim merilis data kasus DBD selama 1-24 Januari 2022. (Baca: Demam Berdarah Serang 997 Orang di Jatim, 17 Meninggal Dunia).

Namun, angka tersebut per 27 Januari 2022 melonjak lagi menjadi 1.220 orang yang didominasi usia 5-14 tahun. Dari jumlah tersebut, sebanyak 21 orang atau 1,7%.

Kasus terbanyak tercatat ada di Kabupaten Bojonegoro sebanyak 112 orang, Nganjuk 82 orang, Kabupaten Malang 73 orang, Ponorogo 64 orang, Tuban 61 orang, Ponorogo dan Sidoarjo masing-masing 53. Sementara angka kematian tertinggi akibat DBD yakni Kabupaten Pamekasan 3 orang, Bojonegoro dan Nganjuk masing-masing 2 orang.

Khofifah meminta agar bupati/wali kota terus memantau perkembangan terhadap kedua penyakit berbahaya itu, sekaligus menyiapkan sarana pelayanan kesehatan, tenaga dan logistik dalam upaya pengendaliannya. Mantan Menteri Sosial itu mengeluarkan Surat Edaran tentang Kewaspadaan Demam Berdarah Dengue (DBD) tertanggal 28 Oktober 2022.

“Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur juga telah melakukan berbagai langkah antisipasi. Di antaranya mengirim surat terkait kewaspadaan ke Dinkes Kabupaten/Kota tentang Penatalaksanaan DBD untuk disampaikan ke fasilitas layanan kesehatan daerah,” ungkapnya.

Selain itu, penekanan pada upaya pencegahan dan pelaporan 1×24 jam agar dapat segera dilakukan oleh Puskesmas/Dinkes Kabupaten/Kota. Terakhir, melakukan pengasapan (fogging)

“Termasuk sosialisasi antisipasi DBD melalui media elektronik atau media cetak untuk mengajak masyarakat melakukan PSN 3M Plus melalui kegiatan Satu Rumah Satu Jumantik,” ucapnya.

Di sisi lain, gubernur meminta masyarakat yang mulai merasakan demam untuk tidak hanya mencurigai atau mewaspadai COVID-19. Lebih dari itu juga harus mempertimbangkan kemungkinan gejala infeksi DBD.

“Karena salah satu ciri terserang penyakit DBD yakni mengalami demam tinggi selama dua hari hingga tujuh hari,” ucapnya.

Menurut Khofifah, beberapa faktor yang mempengaruhi penyebarluasan DBD. Seperti kepadatan penduduk, mobilitas penduduk, perilaku masyarakat, perubahan iklim global, pertumbuhan ekonomi hingga ketersediaan air bersih.

“Kami meminta masyarakat bila ada kecurigaan DBD lebih baik rawat inap, karena terapi demam berdarah yang paling penting salah satunya cairan infus. Rawat inap juga memudahkan pengawasan dari tenaga kesehatan agar tidak menimbulkan gejala serius,” jelasnya. (bid)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini