bongkah.id – Proses panjang transformasi Dewan Kebudayaan Surabaya (DKS) akhirnya memasuki babak baru.
Dari 29 peserta yang menjalani fit and proper test pada Sabtu (21/2/2026) di Gedung Siola, Jalan Tunjungan, sebanyak 13 orang dinyatakan lolos dan berhak melanjutkan ke tahap pembentukan struktur organisasi, Kamis 26 Februari 2026.
Seleksi tersebut merupakan rangkaian lanjutan dari musyawarah transformasi DKS yang sebelumnya digelar di Balai Pemuda, Kota Surabaya pada 14 Februari 2026, diprakarsai Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya (Disbudporapar).
Uji Kapasitas dan Integritas
Sebanyak 29 kandidat dipanggil satu per satu untuk diuji oleh tim asesor yang terdiri dari Isa Ansori, Cak Dullah, Adam, Sol Amrida, serta beberapa penguji lainnya.
Pertanyaan yang diajukan tidak sekadar normatif. Para kandidat diminta memaparkan strategi pengembangan potensi publik, cara mengonsolidasikan komunitas seni, langkah meningkatkan daya saing dengan daerah lain, hingga agenda kerja dalam 100 hari pertama.
Juga tentang integritas apabila lembaga tidak memperoleh dana hibah.
Seleksi ini dirancang memastikan calon anggota benar-benar “fit” (mampu secara teknis) dan “proper” (berintegritas secara moral).
“Selama ini ekosistem kebudayaan berjalan sendiri-sendiri. Ke depan harus ada harmoni antara lembaga, komunitas, dan fasilitator,” ujar Heri Lentho Prasetyo dalam sesi saat musyawarah. Dia mengibaratkan relasi itu seperti dokter, pasien, dan apotek.
Metode transparan juga tampak pada tahapan sebelumnya. Voting dilakukan secara digital menggunakan barcode pribadi. Hasil langsung ditampilkan di layar LCD lengkap dengan persentase dukungan.
Heri Lentho tercatat meraih 21 persen dukungan, disusul Heti Palestina Yunani dan Ris Handono masing-masing 18 persen.
13 Nama Terpilih
Berdasarkan pengumuman resmi tertanggal 26 Februari 2026, berikut 13 nama yang dinyatakan lulus uji kelayakan:
Achmad Zaki Yamani
Bagus Heri Setiadji
Dhany Nartawan
Hery Prasetyo (Heri Lentho)
Heroe Boediarto
Heti Palestina Yunani
Jarmani
Probo Darono Yakti
Ris Handono
Rojil Nugroho Bayu Aji
Rokim Dakas
Sekar Alit Santya Putri
Yogi Ishabib
Ketigabelas nama ini akan kembali bermusyawarah untuk membentuk struktur organisasi DKS periode baru.
Pendidikan Demokrasi Kultural
Rangkaian proses ini dinilai sebagai model demokrasi kultural. Dari 114 pendaftar awal, tersaring 76 peserta musyawarah, lalu 38 nama melalui seleksi esai, hingga jadi 29 akhirnya mengerucut pada 13 anggota terpilih.
Model “simulasi game” yang digunakan saat musyawarah awal terbukti memecah potensi blok-blokan dan mendorong partisipasi setara.
Dalam 15 menit, satu meja diskusi mampu menghasilkan sekitar 30 ide — menunjukkan energi kolektif komunitas budaya Surabaya yang besar.
Secara nasional, pembentukan dewan kebudayaan daerah memang menjadi instrumen penting dalam implementasi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Kehadiran DKS diharapkan mampu merumuskan strategi pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan secara berkelanjutan.
Kini publik menunggu bagaimana 13 nama tersebut merumuskan struktur dan program kerja.
Tantangannya bukan hanya menjaga transparansi yang telah dibangun, tetapi juga memastikan DKS benar-benar menjadi ruang kolaborasi, bukan sekadar simbol kelembagaan.
Transformasi telah dimulai. Ujian sesungguhnya adalah konsistensi. (kim)


























