
bongkah.id – Jejak masa kecil Soekarno di tanah Ploso, Jombang, Jawa Timur, perlahan terangkat dari lipatan waktu.
Di sudut Desa Losari, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, berdiri kompleks Pondok Majmaal Bahrain Shiddiqiyyah.
Di sanalah, menurut penuturan yang terjaga turun-temurun, pernah berdiri sebuah langgar panggung sederhana, tempat bocah bernama Koesno mengeja huruf-huruf hijaiyah, jauh sebelum ia dikenal sebagai Bung Karno.
Langgar itu dahulu berada di kawasan Pondok Kedungturi, ketika wilayah tersebut masih termasuk Karesidenan Surabaya. Kini bangunan aslinya telah tiada, tergantikan masjid permanen.
Namun ingatan tentangnya belum sepenuhnya hilang. Ia hidup dalam cerita, dalam gambar yang dipajang sebagai penanda, dan dalam keyakinan para pewaris sejarah.
Raden Mas Kuswartono, keluarga Situs Persada Soekarno Kediri, menuturkan kisah itu dengan nada yang nyaris seperti merawat bara.
Dari cerita keluarganya, Pondok Majmaal Bahrain Shiddiqiyyah dahulu bernama Pondok Kedungturi. Di sana berdiri langgar panggung yang dibangun Mbah Syuhada, yang disebut sebagai pengikut Pangeran Diponegoro. Sebuah bangunan kayu yang mungkin tak megah, tetapi menyimpan getar zaman.
Sejarah kemudian memberi konteks. Pemerhati sejarah Jombang, Arif Yulianto, akrab disapa Cak Arif, menyebutkan bahwa ayah Bung Karno, Raden Soekeni Sosrodihardjo, mulai bertugas sebagai mantri guru di sekolah Ongko Loro, Ploso, pada 28 Desember 1901.
Enam bulan berselang, tepat 6 Juni 1902, lahirlah Koesno, di wilayah yang kini masuk Kabupaten Jombang itu. Tahun 1907, Raden Soekeni dipindah tugas ke Sidoarjo, menandai babak baru perjalanan keluarga tersebut.
Di antara rentang tahun itulah, kisah mengaji itu dipercaya berlangsung.
Keterangan dari Pengasuh Pondok Shiddiqiyyah, Kiai Muchtar Mu’thi, menyebutkan bahwa Raden Soekeni semasa tinggal di Ploso juga memperdalam ilmu agama kepada Kiai Abdul Mu’thi, ayahnya.
Lingkaran kecil pendidikan agama itu—ayah yang belajar, anak yang mengaji—seakan menjadi fondasi bagi tumbuhnya kesadaran dan karakter.
Ploso selama ini dikenang sebagai tempat kelahiran Bung Karno. Namun jejak langgar panggung di Kedungturi menambahkan lapisan makna lain: bahwa di desa yang tenang itu, di atas papan-papan kayu sederhana, pernah duduk seorang anak yang kelak mengguncang podium-podium sejarah.
Dari langgar kecil di tepian zaman, gema suaranya akhirnya menjangkau dunia sebagai Presiden Republik Indonesia. (anto)


























