Tiga elit politik PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, Ganjar Pranowo dan Puan Maharani.

Bongkah.id – Melejitnya popularitas Ganjar Pranowo di media sosial melahirkan iri dan kritikan dari kolega politiknya, Puan Maharani. Hubungan tidak harmonis dua kubu itu telah mencuatkan persaingan bakal calon presiden 2024 di internal PDI Perjuangan sudah mulai menghangat.

Persaingan antara dua kader elit PDI P dalam bursa kandidat presiden mengemuka saat Puan Maharani selaku Ketua DPP PDI Perjuangan mengumpulkan kader partainya di Jawa Tengah. Anehnya, kader elit PDIP yang menjabat Gubernur Jateng malah tidak diundang ke acara itu.

Bahkan pada undangan acara ada tulisan “kecuali gubernur” yang diberi tanda kurung. Meskipun kegiatan itu dimaksudkan untuk memberikan pengarahan untuk kepala daerah dan wakil kader se-Jateng.

Tak sampai di situ, Puan juga menunjukkan persaingannya dengan Ganjar secara lebih mencolok. Dia sempat menyindir sosok pemimpin yang hanya terkenal di media sosial tanpa menyebut nama figur yang dimaksud. Ketua DPR RI itu menegaskan, pemimpin sebaiknya juga dikenal di dunia nyata oleh para pendukungnya.

Sikap kontra Ganjar lebih tegas ditunjukkan Ketua DPD PDIP Jateng Bambang Wuryanto. Ia secara terang-terangan menyebut mantan Wakil Ketua Komisi II DPR RI itu terlalu berambisi maju pada pemilihan presiden (Pilpres) 2024 hingga mengabaikan etika politik partai.

Menurut Bambang, ambisi Ganjar itu terlihat dari intensitas kemunculan sang gubernur di media sosial dan media massa. Bahkan, Ganjar rela menjadi host di Youtube yang belum dilakukan kader PDIP lain yang juga berpotensi menjadi capres.

“Kalau dia menjawab, ‘saya kan tidak mengatakan mau nyapres’, silahkan saja kalau disampaikan di tingkat ranting partai. Tapi kalau dengan orang politik, ya pasti sudah paham arahnya ke mana,” tandasnya.

Bambang mengaku sudah memberikan sinyal jika sikap Ganjar tersebut tidak baik. Karena belum ada instruksi apapun dari Ketua Umun Megawati Soekarnoputri terkait pencapresan.

Apalagi, PDIP Jateng menilai langkah politik Ganjar itu itu tidak baik bagi keharmonisan partai yang wajib berjalan sesuai koridor AD/ART dan instruksi ketua umum.

Wis tak kode sik. Kok soyo mblandang, ya tak rodo atos (Sudah diberi kode, kok tambah kelewatan, jadi saya agak keras). Saya di-bully di medsos, ya bully saja, saya tidak perlu jaga image saya,” ucap dia.

Pihaknya juga mengingatkan jika elektabilitas saat ini belum bisa dijadikan patokan dalam pertempuran pilpres yang sesungguhnya. Elektabilitas yang saat ini hanya terdongkrak dari pemberitaan dan media sosial bisa dengan mudah dikalahkan dalam pertarungan secara riil.

“Ini (tidak diundang dalam acara DPD dengan Puan) bukan teguran, karena ia merasa lebih tinggi dari kita (DPD PDIP Jateng). Ia merasa yang bisa menegur hanya Ibu (Ketua Umum Megawati Soekarnoputri),” tandasnya.

Sementara Ganjar sendiri tak mau berpolemik dengan Bambang maupun Puan terkait isu pencapresan. Dalam sebuah video yang diunggah oleh melalui akun Instagram miliknya, @djokosusilo_painting, Sabtu (22/5/2021), dia memamerkan kedekatannya dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

“Pak Djoko lukisan sudah diterima ibu. Ibu senang banget gambar anaknya ceria-ceria. Monggo, Bu, ke Pak Djoko bu, pesan apa, Bu?” katanya dalam video itu.

Saat dikonfirmasi, Ganjar membenarkan bertemu dengan Megawati untuk mengantarkan lukisan karya Djoko di Jakarta. Ia mengungkapkan, pertemuan itu berlangsung untuk mengantarkan lukisan karya Djoko sekaligus silaturahmi.

“Silaturahmi halal bi halal, iya sama nganterin lukisan tentang keceriaan anak-anak. Bu Mega bilang, saya pengen melihat masa depan anak-anak khususnya perempuan yang menatap Indonesia dengan mata berbinar-binar dengan senyum lebar, jadilah lukisan itu terus saya halal bi halal, wis ngono tok, rak usah di kait kaitke karo liyane,” ucap Ganjar di kantornya, Senin (24/5/2021). (bid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here