Tiyo Ardianto, Ketua BEM Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

bongkah.id – Di tengah riuh politik nasional, nama Tiyo Ardianto, Ketua BEM Universitas Gadjah Mada, mencuat sebagai simbol keberanian mahasiswa.

Saat sebagian publik merasa kehilangan penyambung lidah rakyat, kehadiran Tiyo menghadirkan harapan bahwa kampus masih menjadi ruang lahirnya suara kritis yang terstruktur dan argumentatif.

ads

Sorotan terhadap Tiyo menguat setelah ia melontarkan kritik tajam terhadap pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka.

Kritik itu bukan sekadar retorika. Ia bahkan secara terbuka mengundang Presiden Prabowo untuk hadir di kampus dan berdebat langsung di ruang akademik.

“Kalau memang kebijakan itu untuk rakyat, mari kita uji bersama secara terbuka di forum kampus. Kami siap berdialog dan beradu argumen,” tegas Tiyo dalam pernyataannya.

Bagi Tiyo, kampus adalah ruang intelektual yang sah untuk membedah kebijakan negara. Ia menilai mahasiswa tidak cukup hanya mengkritik dari kejauhan, tetapi juga harus membuka ruang dialog rasional.

“Mahasiswa ingin penjelasan yang transparan dan mendalam. Demokrasi tidak boleh berhenti pada komunikasi satu arah,” ujarnya.

Namun keberanian itu berbuah tekanan. Kepada wartawan, Tiyo mengaku mengalami teror setelah kritiknya viral.

“Saya merasa dikuntit oleh orang tidak dikenal,” ungkapnya. Ia juga menyebut mendapat ancaman melalui pesan yang bernada intimidatif.

“Ada ancaman penculikan. Ini tentu membuat saya dan keluarga khawatir,” katanya.

Meski demikian, ia menegaskan tidak akan mundur. “Saya hanya menjalankan fungsi kontrol sebagai mahasiswa. Kritik adalah bagian dari demokrasi,” tandasnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Istana belum memberikan tanggapan resmi atas ajakan debat terbuka tersebut maupun terkait pengakuan teror yang dialami Tiyo.

Di ruang publik, langkah Ketua BEM UGM ini menuai respons beragam. Sebagian memuji keberanian dan konsistensinya sebagai agen perubahan.

Sebagian lain mempertanyakan efektivitas debat terbuka antara mahasiswa dan kepala negara.

Terlepas dari pro-kontra, sosok Tiyo Ardianto kini menjadi potret generasi muda yang memilih berdiri di garis depan diskursus kebijakan.

Sikapnya berani, pikirannya tajam, dan tutur bahasanya terstruktur—sebuah pengingat bahwa api kritis belum padam. (kim)

6

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini