bongkah.id – Di pesisir utara Jawa, tepatnya di Desa Jellag, Banjarwati, Kecamatan Paciran, sejarah Islam tidak hanya bertumpu pada nama-nama besar Wali Songo.
Di antara riuhnya ziarah dan peringatan haul di kawasan Pondok Pesantren Sunan Drajat, muncul ikhtiar pelurusan sejarah yang digagas pegiat sosial Lamongan, Rudi Hariono.
Rudi, yang merekonstruksi pembangunan makam Mbah Mayang Madu di Desa Jellag, menilai telah terjadi penyamaan tokoh antara Sunan Mayang Madu dan Sunan Drajat.
“Secara legenda, memori kolektif, dan bukti arkeologis, keduanya adalah figur berbeda. Ini penting diluruskan agar masyarakat tidak kehilangan akurasi sejarah,” ujarnya.
Legenda yang Hidup di Tengah Masyarakat
Dalam tradisi tutur warga Jellag, terdapat tiga tokoh sentral: Mbah Banjar, Mbah Mayang Madu, dan Sunan Drajat.
Mbah Banjar dikisahkan sebagai tokoh agama dari Banjar, Kalimantan, yang terdampar di laut Jellag. Ia kemudian ditolong warga dan menetap di rumah pemimpin setempat, Mbah Mayang Madu.
Dari sinilah proses Islamisasi berlangsung. Mbah Banjar disebut sebagai sosok yang mengislamkan Mbah Mayang Madu.
Mbah Mayang Madu dalam legenda dipahami sebagai pemimpin Jellag yang kemudian memeluk Islam dan bersama Mbah Banjar menyebarkan ajaran baru tersebut.
Ketika dakwah membutuhkan penguatan, Mbah Mayang Madu disebut meminta bantuan kepada Sunan Ampel.
Sunan Ampel lalu mengutus putranya, Raden Qosim—yang kelak dikenal sebagai Sunan Drajat—untuk berdakwah di Jellag. Raden Qosim bahkan menikahi putri Mbah Mayang Madu, Kinanti, memperkuat ikatan dakwah dan sosial di wilayah pesisir tersebut.
“Dalam memori masyarakat, ketiganya terhubung erat. Tapi hubungan itu bukan berarti identitasnya sama,” tegas Rudi.
Dakwah Sosial dan Pesisir Perdagangan
Sebagai bagian dari Wali Songo, Sunan Drajat dikenal dengan pendekatan sosialnya, yang dirumuskan dalam ajaran Pepali Pitu —tujuh petuah moral tentang kepedulian sosial dan kesejahteraan umat.
Pendekatan ini relevan dengan karakter masyarakat pesisir yang kala itu hidup dari perdagangan dan pelayaran.
Rudi menjelaskan, kawasan Jellag pada abad ke-15 bukanlah wilayah terpencil. Secara geografis, Lamongan bagian utara dulunya masih merupakan bagian dari laut Tuban. Jalur ini menjadi simpul penting perdagangan internasional.
Penemuan pecahan keramik Tiongkok dalam jumlah besar di laut Jellag memperkuat dugaan bahwa kawasan tersebut merupakan pusat aktivitas dagang.
“Artinya, dakwah Islam tumbuh dalam ruang interaksi global, bukan dalam ruang tertutup,” kata Rudi.
Menurutnya, memori kolektif masyarakat tentang Gunung Dampu Awang juga memperkaya narasi sejarah lokal.
Legenda tersebut mengisahkan dinamika pelayaran dan hubungan dagang, yang memberi konteks sosial bagi munculnya tokoh-tokoh Islam di pesisir.
Pentingnya Pelurusan Sejarah
Rudi menekankan bahwa pelurusan sejarah bukanlah upaya meruntuhkan legenda, melainkan menyempurnakannya dengan bukti dan kajian kritis.
Legenda adalah bagian dari identitas budaya, tetapi tetap perlu ditopang data agar tidak menimbulkan kekeliruan turun-temurun.
“Kalau dua tokoh besar ini disamakan, kita kehilangan jejak peran masing-masing. Padahal kontribusinya berbeda,” ujarnya.
Ia menilai, selama ini terdapat kekeliruan dalam penyebutan di sejumlah penanda situs yang mencantumkan nama Sunan Mayang Madu seolah identik dengan Sunan Drajat.
Padahal secara narasi sejarah, Sunan Drajat adalah Raden Qosim, putra Sunan Ampel, sedangkan Sunan Mayang Madu memiliki latar dan legitimasi tersendiri.
Bagi Rudi, edukasi sejarah berbasis riset menjadi tanggung jawab bersama —baik pemerintah daerah, akademisi, maupun masyarakat.
Pelurusan ini juga penting untuk generasi muda agar memahami sejarah Islam pesisir sebagai proses yang kompleks dan dinamis.
“Jellag bukan sekadar lokasi ziarah. Ia adalah ruang pertemuan budaya, perdagangan, dan dakwah. Di sanalah sejarah harus dibaca dengan jernih,” pungkasnya. (kim)




























