Mahasiswa Untag menyajikan inovasi pengecek kelayakan air gunung untuk diminum.

bongkah.id — Banyak pendaki mengira sumber air di alam yang tampak jernih pasti aman diminum. Namun anggapan itu kini mendapat tantangan dari generasi muda inovatif.

Aditya Vahresi Ramadhan, lulusan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, meraih predikat karya terbaik pada wisuda Februari 2026 setelah menciptakan alat pendeteksi kualitas air instan.

ads

Mahasiswa Teknik Elektro ini termotivasi oleh pengalaman melihat sesama pendaki meneguk air dari sungai atau sumber alami hanya berdasarkan pandangan mata.

Menurut Aditya, air yang tampak bening belum tentu aman dikonsumsi karena kemungkinan terkontaminasi partikel halus atau pencemaran yang tak terlihat.

“Air yang terlihat jernih itu belum tentu aman dikonsumsi. Bisa saja ada pencemaran tanah atau kotoran yang tidak kasat mata,” ujarnya menjelaskan dasar penciptaan alat tersebut.

Alat karya Aditya menggunakan mikrokontroler ESP32 yang terintegrasi dengan sensor pH dan turbidity (kekeruhan). Sistem ini mampu membaca kualitas air secara real-time dan menampilkan datanya di layar LCD, membantu pengguna menilai apakah air tersebut berada dalam rentang aman sesuai standar kesehatan (skala pH 6,5–8,5).

Proyek ini tidak mudah. Aditya mengaku mengalami tantangan dalam kalibrasi sensor agar hasilnya presisi dan dapat diandalkan.

Ketekunan itu membuahkan hasil: alat siap dipakai di berbagai kondisi lapangan, terutama oleh pendaki, petualang alam atau komunitas yang bergantung pada sumber air alami.

Inovasi tersebut juga membuka peluang kolaborasi dengan teknologi lain dalam ekosistem air bersih, seperti sistem filtrasi IoT atau penggunaan bahan alami untuk penyaringan air.

Langkah ini penting, karena masalah kualitas air bukan hanya soal volume, tetapi juga kandungan kimia dan mikroba yang sering luput dari penilaian kasat mata.

Aditya berharap alatnya dapat membantu meningkatkan kesadaran publik bahwa penilaian air hanya lewat “tampak bersih” bisa menyesatkan.

“Kesadaran masyarakat terhadap kualitas air tidak boleh hanya berdasar pada asumsi terlihat bersih, melainkan harus berdasarkan pengujian yang terukur demi keamanan kesehatan,” tegasnya.

Ke depan, ia juga mendorong adik tingkat dan mahasiswa dari berbagai kampus untuk menyempurnakan alat ini, sehingga bisa memberikan manfaat nyata bagi pengelola usaha air minum isi ulang, komunitas pedesaan, maupun aktivitas luar ruang lainnya. (kim)

6

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini