Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

bongkah.id – Kabar tentang “super flu” beredar luas. Wajah-wajah cemas muncul di timeline, pesan berantai menyebar, dan kekhawatiran publik membuncah. Namun, di balik kegaduhan itu, pemerintah menegaskan: virus ini bukan ancaman baru, dan tubuh manusia seharusnya sudah siap.

Kementerian Kesehatan menegaskan, virus yang ramai diperbincangkan itu bukanlah ancaman baru. “Ini bukan virus baru seperti COVID-19. Super flu sudah lama ada. Tubuh kita seharusnya sudah bisa menghadapinya,” ujar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

ads

Budi menjelaskan perbedaan mendasar antara COVID-19 dan influenza. Pada COVID-19, sistem imun manusia belum siap, sehingga risiko kematian tinggi. Influenza, sebaliknya, telah menjadi “teman lama” tubuh manusia—menular cepat, tetapi jarang menimbulkan kematian.

“Virus itu butuh inang. Jika tingkat kematiannya tinggi, virus juga mati karena inangnya cepat meninggal. Virus influenza H3N2 subclade K sekarang menular cepat, tapi ringan,” kata Budi.

Kemenkes juga menepis kabar kematian di Bandung yang sempat dikaitkan dengan super flu. Menurut Budi, penyebab kematian pasien adalah penyakit penyerta, bukan influenza. Ia memberi analogi sederhana: “Kalau orang flu tertabrak mobil, penyebab kematiannya mobil, bukan flu.”

Dari sisi laboratorium, Kepala Biro Komunikasi Kemenkes, Aji Muhawarman, memaparkan bahwa sekitar 800 sampel positif influenza telah diterima dari berbagai daerah. Dari jumlah tersebut, 40 persen dianalisis melalui whole genome sequencing, menemukan virus influenza yang sudah dikenal, termasuk A H3N2 dan PDN09. Dari kasus H3N2, sebagian masuk subclade K, sisanya influenza B.

Meski penularan tinggi, gejala yang muncul menyerupai flu biasa: batuk, pilek, nyeri tenggorokan, sesak napas ringan, dan demam 38–39°C. Dari 62 pasien subclade K, semua telah sembuh tanpa kasus serius atau kematian.

Kemenkes menegaskan, kewaspadaan tetap dijaga. Pemantauan dilakukan setiap hari melalui jejaring surveilans di rumah sakit, laboratorium kesehatan daerah, hingga balai karantina. Thermal scanner di pintu masuk negara pun mulai diaktifkan kembali.

Vaksinasi influenza boleh dilakukan, khususnya untuk kelompok rentan, tapi bersifat opsional. Fokus utama tetap pada penguatan imunitas tubuh: makan bergizi, istirahat cukup, dan menerapkan kebiasaan sehat, pakai masker saat sakit, etiket batuk, dan cuci tangan.

Pendekatan pemerintah jelas tidak panik, tidak lengah. Dengan data dan pengalaman pandemi sebelumnya, pesan sederhana disampaikan kepada masyarakat: tetap tenang, rasional, dan jaga kesehatan, tanpa dibebani ketakutan berlebihan. (anto)

8

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini