Presiden sebelum menyampaikan Pidato pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI Dalam Rangka HUT Ke-75 Proklamasi Kemerdekaan RI, Jumat (15/8), di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Senayan, Provinsi DKI Jakarta. (Dok. DPR)

bongkh.id – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyambut hangat seruan moral penuh kearifan dari para ulama, para pemuka agama, dan tokoh-tokoh budaya. Untuk menjadikan momentum musibah pandemi ini sebagai sebuah kebangkitan baru. Sekali lagi kebangkitan baru. Untuk melakukan sebuah lompatan besar.

Hal tersebut disampaikan Presiden saat Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia (RI), Sidang Bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Dalam Rangka HUT Ke-75 Proklamasi Kemerdekaan RI di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Senayan, Provinsi DKI Jakarta, Jumat (14/8/2020).

ads

”Sebanyak 215 negara, tanpa terkecuali, sedang menghadapi masa sulit di tengah pandemi Covid-19. Dalam catatan WHO, sampai dengan tanggal 13 Agustus kemarin, terdapat lebih dari 20,4 juta kasus di dunia. Jumlah kematian di dunia sebanyak 744 ribu jiwa. Semua negara. Negara miskin, negara berkembang, termasuk negara-negara maju, semuanya mengalami kemunduran akibat paparan Covid-19,” katanya.

Menurut dia, krisis perekonomian dunia juga terparah dalam sejarah. Ia menambahkan kuartal pertama 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih plus 2,97 persen. Tetapi pada kuartal kedua telah berada di minus 5,32 persen.

”Ekonomi negara-negara maju bahkan minus belasan persen, sampai minus 17-20 persen. Kemunduran banyak negara-negara besar ini bisa menjadi peluang dan momentum bagi kita untuk mengejar ketertinggalan,” ujarnya.

Ibarat komputer, tambahnya, perekonomian semua negara saat ini sedang macet. Sedang hang. Semua negara harus menjalani proses mati komputer sesaat. Harus melakukan restart. Harus melakukan rebooting. Dan, semua negara mempunyai kesempatan men-setting ulang semua sistemnya.

Ditegaskan, inilah saatnya Bangsa Indonesia membenahi diri secara fundamental. Melakukan transformasi besar. Menjalankan strategi besar baik di bidang ekonomi, hukum, pemerintahan, sosial, kebudayaan, termasuk kesehatan dan pendidikan. Inilah saatnya membajak momentum krisis untuk melakukan lompatan-lompatan besar.

Pada usia ke-75 tahun ini, Presiden sampaikan bahwa Indonesia telah menjadi negara upper middle income country. Pada 25 tahun lagi, saat berusia seabad, Republik Indonesia harus mencapai kemajuan yang besar. Menjadikan Indonesia Negara Maju.

”Kita harus melakukan reformasi fundamental dalam cara kita bekerja. Kesiap-siagaan dan kecepatan kita diuji. Kita harus mengevakuasi Warga Negara Indonesia dari wilayah pandemi Covid-19 di Tiongkok. Kita harus menyiapkan rumah sakit, rumah isolasi, obat-obatan, alat kesehatan, dan mendisiplinkan protokol kesehatan. Semuanya harus dilakukan secara cepat, dalam waktu yang sangat singkat,” katanya.

Ketika krisis kesehatan tersebut berdampak pada perekonomian nasional, Jokowi menegaskan, pemerintah harus cepat bergerak. Di antaranya memberikan bantuan sosial bagi masyarakat. Melalui bantuan sembako, bansos tunai, subsidi dan diskon tarif listrik, BLT Desa, subsidi gaji, membantu UMKM untuk memperoleh restrukturisasi kredit, memperoleh banpres produktif berupa bantuan modal darurat, membantu pembelian produk-produk UMKM, membantu tenaga kerja yang menjadi korban PHK, antara lain melalui bantuan sosial dan Program Kartu Prakerja.

Untuk itu semua, diakui, pemerintah cepat melakukan perubahan rumusan program. Menyesuaikan program kerja dengan situasi terkini. Melakukan realokasi anggaran dalam waktu singkat. Menerbitkan Perppu Nomor 1 Tahun 2020, yang kemudian disetujui oleh DPR. Menjadi Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2020.

”Terima kasih para Anggota DPR atas kerja cepatnya; menyinergikan BI, OJK, dan LPS dalam rangka juga untuk memulihkan perekonomian nasional,” ujarnya.

Krisis ini, menurut dia, telah memaksa menggeser channel cara kerja. Dari cara-cara normal menjadi cara-cara ekstra-normal dan luar biasa. Juga, dari prosedur panjang dan berbelit menjadi smart shortcut. Dari orientasi prosedur menjadi orientasi hasil. Pola pikir dan etos kerja, juga harus berubah. Karena itu, fleksibilitas, kecepatan, dan ketepatan sangat dibutuhkan serta efisiensi, kolaborasi, dan penggunaan teknologi harus diprioritaskan.

”Kedisiplinan nasional dan produktivitas nasional juga harus ditingkatkan. Jangan sia-siakan pelajaran yang diberikan oleh krisis. Jangan biarkan krisis membuahkan kemunduran. Justru momentum krisis ini harus kita bajak untuk melakukan lompatan kemajuan,” jelas Presiden. (rim)

5

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini