bongkah.id – “Daly City”, film pendek berdurasi sekitar 16 menit yang ditulis dan disutradarai oleh Nick Hartanto, menghadirkan kisah sederhana namun penuh makna tentang keluarga, identitas, dan pencarian rasa diterima di negeri yang jauh dari kampung halaman.
Tahun lalu, 2025. Film yang menyiratkan budaya Indonesia ini diikut sertakan dalam ajang Oscar, meski belum beruntung namun menarik untuk diapresiasi.
Oscar adalah nama populer untuk Academy Awards, penghargaan prestisius dalam industri film yang diberikan setiap tahun oleh Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS) untuk mengakui keunggulan artistik dan teknis dalam perfilman.
Film Daly City tidak mengejar konflik besar, melainkan menangkap kegelisahan batin yang sering tersembunyi di balik senyum orang orang yang mencoba menyesuaikan diri di lingkungan baru.
Cerita berfokus pada Bastian, seorang anak Indonesia yang tumbuh di Daly City, California. Ia dan ibunya menghadiri acara church potluck, tradisi kumpul di gereja di mana setiap keluarga membawa hidangan untuk dibagikan.
Demi terlihat menyatu dengan komunitas, sang ibu membawa ayam panggang ala Tionghoa dan mengatakan bahwa itu adalah makanan tradisional keluarga mereka. Kebohongan kecil ini menjadi titik awal sebuah refleksi tentang betapa kompleksnya upaya “cocok” dan “diterima” oleh masyarakat baru.
Film ini dibintangi oleh Jett Automo sebagai Bastian, Michelle Lukiman sebagai sang ibu, dan Kaidy Kuna sebagai ayahnya, bersama Catherine Telford, Troy Metcalf, dan aktor pendukung lain yang memberikan nuansa autentik pada kisah ini.
Selain sutradara dan penulis naskah, Daly City melibatkan tim yang solid di belakang layar. Film ini diproduseri oleh Clara Peterson dan Anton Vicente Kliot, dengan Guido Raimondo sebagai sinematografer yang berhasil menangkap suasana hangat sekaligus penuh refleksi keluarga tersebut.
Sementara Aacharee Ungsriwong bertanggung jawab sebagai editor, sementara tim produksi juga mencakup desainer kostum Kara Fabella, serta penata suara dan mixer yang mendukung kualitas narasi yang rapih.
Akademisi film Ari Dina Krestiawan menilai karakter Bastian sebagai kekuatan utama film ini. Ia melihat tokoh anak tersebut tampil cerdas dan hidup berkat akting yang matang.
Ari menilai Daly City menyerupai perjalanan awal memasuki “dunia nyata”, ketika seseorang mulai memahami bahwa berbohong kadang dianggap perlu untuk bisa fit in. Namun film ini tidak menghakimi; ia justru menunjukkan bahwa benar dan salah selalu hadir bersama konteks.
Sutradara Hartanto menggarap film ini secara subtil, lembut, dan mengandalkan dialog dengan ritme pelan. Dengan minim kejutan visual, struktur cerita tetap kuat dan konsisten membawa penonton ke dalam sudut pandang karakter.
Tema “loss of innocence” ditangkap lewat pengamatan Bastian terhadap orang tuanya. Sang ibu yang berusaha diterima dan sang ayah yang menahan ejekan di tempat kerja demi tetap bertahan.
Praktisi film Betet Kunamsinam menyoroti kehangatan keluarga imigran sebagai daya tarik utama Daly City.
Baginya, kebohongan kecil yang hadir terasa sangat manusiawi dan dekat dengan realitas banyak keluarga diaspora. Detail-detail seperti makanan Indonesia dan kebiasaan makan dengan tangan menjadi simbol kuat bahwa sejauh apa pun pergi, akar budaya tetap menjadi tempat pulang.
Dari sisi teknis, sinematografi yang hangat dan penggunaan bahasa campuran Indonesia–Inggris memperkaya pengalaman menonton, sekaligus menunjukkan kompleksitas identitas yang dialami para tokohnya.
Daly City adalah film tentang kebhinekaan dan toleransi yang tidak berteriak, melainkan mengalun pelan melalui momen-momen kecil. Ia mengingatkan bahwa hidup di tanah orang lain sering kali bukan soal menjadi lebih hebat, melainkan tentang belajar bertahan dan berdamai dengan diri sendiri.
Sebuah kisah universal yang menyentuh, tanpa kehilangan akar budaya yang kaya dan autentik. (kim)

























