Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan, keputusan Pemerintah Turki mengembalikan fungsi Hagia Sophia sebagai masjid merupakan hak kedaulan bangsa dan negara Turki. Negara asing, UNESCO, dan umat Kristen Ortodok tidak memiliki hak memaksa Turki dalam mengatur aset negara.

bongkah.id – Batas kesabaran Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, akhirnya mencapai klimaknya. Kecaman dari negara-negara non muslim dan kelompok Kristen Ortodoks atas perubahan fungsi Situs Hagia Sopia, dinilai mencermikan perilaku yang tidak menghormati kedaulatan Pemerintah Turki. Memaksakan ambisi politik berkedok agama, untuk mengatur kebijakan pemerintahan yang dipimpinnya dalam mengatur aset negara.

“Keputusan mengembalikan fungsi Hagia Sophia sebagai masjid adalah hak Pemerintah Turki, sebagai pemilik. Negara lain, UNESCO, kelompok Katholik Orthodok tidak memiliki hak untuk mengatur dan mendikte pemerintahan kami. Keputusan itu ditetapkan tidak dibuat untuk mendengar apa yang orang lain katakan. Keputusan itu ditetapkan sebaga hak dari kedaulatan bangsa dan negara Turki,” kata Erdogan sebagaimana dilansir Reuters, Sabtu (11/7) waktu setempat.

Keputusan mengembalikan fungsi Hagia Sophia sebagai masjid, setelah diubah politisi sekuler Mustafa Kamal Attatruk sebagai musim negara. Ditegaskan, sebagai keputusan yang ditetapkan untuk mewakili Negara Turki dalam menggunakan hak kedaulatan yang dimiliki. Karena itu, dia sangat jengkel atas sikap negara-negara asing, yang memaksa Turki untuk menuruti ambisi politik mereka.

Negara-negara yang melontarkan kecaman atas keputusan Pemerintah Turki mengembalikan fungsi Hagia Sophia sebagai masjid, menurut ia, seharusnya berkaca diri. Sebelum melontarkan kecaman, mereka seharusnya bersikap adil terhadap agama Islam. Mereka seharusnya melakukan sikap sama saat Yunani mengalih fungsikan puluhan masjid di negaranya. Masjid-masjid ditutup sebagai tempat ibadah umat muslim. Fungsinya diubah sebagai toko buku, restaurant, museum, bahkan ada yang diubah sebagai tempat minum alkohol.

Karena itu, Erdogan menegaskan, kecaman yang dilontarkan negara-negara asing, UNESCO, dan kelompok Kristen Ortodoks atas dijadikannya Hagia Sophia sebagai masjid, tidak sekadar alasan melestarikan kebudayaan dunia. Namun, terdorong oleh sikap Islamofobia. Mereka ketakutan agama Islam akan kembali mengalami kebangkitan. Kembali fungsi sebagai masjid dicurigai sebagai awal kebangkitan Islam di dunia, dengan kekuatan politik sebagaimana masa keemasan Kesultanan Ottoman.

Sebagaimana diketahui, Erdogan pada hari Jumat (10/7/2020) waktu setempat, memutuskan kembali memfungsikan Situs Hagia Sophia kembali sebagai masjid. Ibadah jamaah umat muslim akan mulai digelar di salah satu Situs Warisan Dunia itu pada 24 Juli mendatang. Pengumuman tersebut disampaikan, setelah Majelis Negara Turki mengumumkan pembatalan Keputusan Kabinet tahun 1934, yang mengubah fungsi Hagia Sophia sebagai museum negara.

Mengembalikan fungsi Hagia Sophia sebagai masjid, sesungguhnya sudah lama digadang-gadang Erdogan. Berulang kali menyerukan, bangunan bersejarah tersebut untuk dikembalikan fungsinya sebagai masjid. Namun perjuangan tersebut selalu gagal.

KECAMAN DUNIA

SITUS Hagia Sophia yang kini telah berubah fungsi sebagai masjid, dijamin Erdogan tetap terbuka dalam menyambut kunjungan wisatawan berbagai agama. Yang berbeda terbatas pada tata tertip dalam berkunjung. Semua tamu rumah Allaoh SWT diwajibkan untuk melepas alas kaki di luar pintu masuk masjid.

Kendati saat ini sudah ditetapkan sebagai masjid, Erdogan menjamin, Hagia Sophia akan terbuka untuk semua pengunjung, termasuk non-Muslim. “Pintu Hagia Sophia akan tetap terbuka untuk pengunjung dari seluruh dunia,” tulis ajudan Erdogan, Fahrettin Altun dalam akun Twitter-nya.

Kendati demikian, keputusan Erdogan itu langsung dihujani kecaman dari berbagai pihak di seluruh dunia, di antaranya Amerika Serikat dan Rusia. Kedua negara tersebut diketahui menjalin hubungan dekat dengan Turki dalam beberapa tahun terakhir.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Alexander Grushko menyesali keputusan tersebut. Melalui pernyataan resmi di Moskow. “Katedral itu berada di wilayah Turki. Tapi, tanpa pertanyaan lagi, Hagia Sophia adalah warisan semua orang. Sehingga tidak serta merta fungsinya bebas diubah oleh Turki,” katanya.

Kementerian Luar Negeri AS menyatakan, Gedung Putih mendesak Turki agar tetap memberikan akses bagi semua pengunjung, meski bangunan era Bizantium itu telah diubah fungsinya dari museum menjadi masjid.

“Kami kecewa dengan keputusan pemerintah Turki mengubah status Hagia Sophia,” kata juru bicara Kemlu AS Morgan Ortagus.

Kendati demikian, Ortagus mengakui, bahwa AS memahami Turki akan tetap berkomitmen untuk mempertahankan akses Hagia Sophia, yang terbuka bagi semua orang. Selain itu, berharap Turki tetap terbuka dalam menjelaskan rencana pengelolaan bangunan bersejarah tersebut.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan, langkah Turki tersebut berisiko mengubah nilai warisan bangunan. Fungsi sebagai museum sebenarnya merupakan kebijaka paling tepat. Sebab akan mencerminkan komitmen Turki dalam menghormati tradisi agama dan keberagaman sejarah yang lekat pada bangunan kuno tersebut.

Sedangkan Gereja Ortodoks Rusia menganggap, bahwa Hagia Sophia sebagai salah satu tempat suci bagi umat Kristen Ortodoks Negeri Beruang Merah. Perubahan fungsinya merupakan ancaman bagi seluruh peradaban Kristen, baik secara spiritual maupun sejarah.

Tak hanya itu, Dewan Gereja Dunia, yang mewakili 350 gereja di dunia, juga telah menuliskan pernyataan kekecewaan terhadap Erdogan atas keputusannya kembali memfungsikan Hagia Sophia sebagai masjid. (ima)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here