Guru SMP PGRI 1 Buduran, Sidoarjo, tiap Kamis berbusana tradisi Jawa dan berbahasa Jawa di lingkungan sekolah.

bongkah.id – Setiap Kamis pagi, halaman SMP PGRI 1 Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, terasa berbeda dari hari-hari lainnya.

Pagi hari saat udara masih lembap oleh sisa embun, sementara langkah siswa yang datang ke sekolah diiringi sapaan yang terdengar lembut dan akrab. “Sugeng enjing.”

ads

Sapaan itu meluncur dari bibir siswa kepada guru, dari guru kepada siswa, juga dari sesama teman. Bahasa Jawa krama halus mengalir di lorong-lorong sekolah, di ruang kelas, hingga di halaman tempat anak-anak berkumpul sebelum pelajaran dimulai.

Bagi warga sekolah ini, Kamis bukan sekadar hari biasa. Ia adalah hari ketika bahasa Jawa hidup kembali dalam percakapan sehari-hari. Sebuah kebiasaan yang mereka sebut Kamajaya Ratih—akronim dari Kamis Anjaga Budaya Terampil Terlatih.

Program itu lahir dari kegelisahan yang sederhana, namun penting: semakin sedikit anak muda yang terbiasa berbicara dengan bahasa daerahnya sendiri.

Di tengah arus modernisasi yang begitu cepat, bahasa-bahasa lokal sering kali tersisih oleh bahasa populer yang dianggap lebih praktis. Padahal, di dalam bahasa daerah tersimpan nilai, etika, dan cara pandang hidup masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kepala SMP PGRI 1 Buduran Sidoarjo, Indrajayanti Ratnaningsih, melihat kegelisahan itu sebagai sesuatu yang harus dijawab dengan tindakan nyata.

“Bahasa daerah adalah bagian dari identitas bangsa. Kalau tidak dijaga, lama-lama bisa hilang,” ujarnya.

Maka setiap Kamis, seluruh warga sekolah—guru, siswa, hingga tenaga kependidikan—diwajibkan berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa.

Sekolah yang Berubah Wajah

Pada hari itu, sekolah seolah berganti wajah. Para guru dan siswa laki-laki mengenakan pakaian lurik, sementara guru dan siswi perempuan tampil anggun dengan kebaya tradisional. Nuansa Jawa terasa begitu kental, seolah waktu berjalan sedikit lebih pelan.

Namun yang paling terasa bukan sekadar pakaian, melainkan cara orang-orang saling menyapa.
“Sugeng rawuh.”
“Nuwun sewu.”
“Matur nuwun.”

Kata-kata itu terdengar di berbagai sudut sekolah. Ungkapan sederhana, tetapi sarat makna kesopanan dan penghormatan.

Di sinilah bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, melainkan juga cara belajar tentang tata krama.

Drs. Koesmoko, guru Bahasa Jawa yang juga menjadi penggerak program ini, menyebut Kamajaya Ratih memiliki tiga tujuan utama: melestarikan bahasa Jawa di kalangan generasi muda, menanamkan budi pekerti luhur, serta memperkuat karakter kearifan lokal.

“Bahasa Jawa itu tidak hanya soal kata, tetapi juga sikap,” katanya.

Karena itu, siswa tidak hanya diajak berbicara menggunakan bahasa Jawa, tetapi juga memahami unggah-ungguh, tata krama yang menyertainya.

Radio Sekolah yang Bertutur Jawa

Menjelang waktu istirahat, suara penyiar muda terdengar melalui pengeras suara sekolah.

Ia adalah Reno Fitra Kharisma, siswa kelas IX C yang hari itu bertugas membawakan siaran radio sekolah bertajuk Giyaran Adicara Suka-Parisuka.
Dengan suara tenang, Reno membuka siaran:

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sugeng enjing para pamiyarsa, warga SMP PGRI 1 Buduran Sidoarjo ingkang minulya.”

Bahasa Jawa krama halus mengalir lancar dari bibirnya. Ia menyapa para guru, teman-temannya, lalu menyampaikan doa agar semua yang mendengarkan senantiasa diberi keselamatan.

Setelah itu, alunan lagu Jawa mulai diputar. Ada langgam campursari klasik karya Manthous dan Waljinah, lalu disusul tembang-tembang yang lebih akrab di telinga generasi muda seperti milik Didi Kempot, Happy Asmara, dan Denny Caknan.

Sesekali terdengar juga lagu yang dibawakan Niken Salindri, yang cukup populer di kalangan remaja.

Di sela-sela lagu, Reno kembali menyapa para pendengar. “Sumangga, sugeng midangetaken,” ucapnya.

Radio sekolah itu sederhana. Namun pada hari Kamis, ia menjadi ruang kecil tempat bahasa Jawa hidup dengan cara yang menyenangkan.

Bahasa yang Tetap Bertahan

Program Kamajaya Ratih mulai dijalankan sejak 28 Januari 2026. Dalam waktu sekitar satu setengah bulan, perubahan mulai terasa.

Anak-anak yang awalnya canggung kini semakin terbiasa menggunakan bahasa Jawa krama. Mereka mulai memahami kapan harus menggunakan kata yang halus, kapan harus berbicara dengan penuh hormat.Bahkan ketika bulan Ramadan tiba, semangat itu tidak surut.

Pada Kamis, 5 Maret 2026, pengantar pembacaan Surat Yasin di sekolah juga disampaikan menggunakan bahasa Jawa krama halus. Suasana terasa khidmat, sekaligus hangat.

Bagi warga sekolah, program ini mungkin tampak sederhana. Hanya berbicara dengan bahasa Jawa setiap Kamis.

Namun dari kebiasaan kecil itulah sesuatu yang lebih besar sedang dijaga. Bahasa yang diwariskan oleh leluhur. Bahasa yang mengandung nilai kesopanan, kebijaksanaan, dan cara menghargai orang lain.

Di halaman SMP PGRI 1 Buduran Sidoarjo, setiap Kamis pagi, bahasa itu kembali hidup—diucapkan oleh generasi yang kelak akan membawanya ke masa depan. (anto)

7

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini