bongkah.id – Hari Pers Nasional selalu jatuh pada 9 Februari, bertepatan dengan hari lahir Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), organisasi yang menjadi rumah besar para pewarta.
Tahun ini, tema yang diusung terasa lugas sekaligus mendalam: “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat.”
Sebuah kalimat yang tidak sekadar slogan, melainkan pengingat bahwa pers yang merdeka dan berintegritas adalah fondasi bagi kedaulatan ekonomi dan keteguhan bangsa.
Tanpa pers yang sehat, informasi mudah terdistorsi, kebijakan kehilangan pengawasan, dan rakyat kehilangan arah.
Di tengah rangkaian peringatan itu, hadir sebuah sosok yang mencuri perhatian: Si Juhan.
Ia bukan sekadar maskot. Ia adalah simbol. Nama Si Juhan, akronim dari Si Jurnalis Handal, diwujudkan dalam rupa Badak Jawa, satwa endemik Banten yang langka, tangguh, dan terus berjuang melawan kepunahan.
Badak Jawa hidup dalam senyap, jauh dari sorotan, tetapi keberadaannya menentukan keseimbangan alam.
Seperti itulah pers idealnya bekerja. Tidak selalu terlihat, tidak selalu dipuja, namun konsisten menjaga kebenaran.
Di tengah tekanan ekonomi, arus disinformasi, dan ancaman terhadap independensi, pers dituntut tetap berdiri tegak, sebagaimana badak bercula satu yang bertahan di habitatnya yang kian menyempit.
Si Juhan digambarkan jenaka namun berwibawa. Ikat kepala lomar melingkar di kepalanya, simbol penghormatan pada tradisi dan leluhur Banten, sekaligus penanda integritas yang tidak mudah goyah.
Tangannya melambai, menyapa dengan keramahan, seolah menyambut ribuan wartawan yang akan datang membawa kisah dari daerah masing-masing.
Mata Si Juhan tampak ceria dan ekspresif sebagai cermin pers yang terbuka, dekat dengan masyarakat, dan tidak berjarak.
Di tangannya, pena dan buku catatan setia menemani: alat sederhana, namun menjadi senjata utama dalam mencatat fakta, menghimpun suara publik, dan merekam denyut zaman.
Pangsi hitam yang dikenakannya melambangkan kesederhanaan dan kejujuran, nilai yang kerap diuji namun tak boleh ditinggalkan.
Di punggungnya tergantung tas koja, ruang simbolik tempat informasi dan aspirasi publik dikumpulkan. Di dalamnya terselip kartu pers sebagai identitas, otoritas, sekaligus pengingat akan tanggung jawab profesional yang melekat pada setiap wartawan.
Melalui Si Juhan, HPN 2026 tidak hanya berbicara tentang pers hari ini, tetapi juga tentang pers yang berakar pada budaya, berintegritas dalam kerja, dan berani menatap masa depan.
Banten, dengan sejarah perlawanan dan kearifan lokalnya, menjadi panggung yang tepat untuk pesan itu.
Di sanalah, pers kembali diingatkan akan perannya menjaga akal sehat publik, mengawal kedaulatan ekonomi, dan merawat kekuatan bangsa.
Seperti badak Jawa yang bertahan dalam sunyi, pers Indonesia diharapkan tetap hidup, bernapas, dan bermakna, meski zaman terus berubah. (anto)




























