Dr. Dhimam Abror Djuraid, Dewan Pakar PWI Pusat.

bongkah.id – Wartawan hari ini bukan kekurangan idealisme. Yang kian langka justru ruang untuk mempraktikkannya secara utuh.

Di tengah ledakan media digital, profesi jurnalistik berada pada posisi paradoksal: bebas secara formal namun terikat secara struktural.

ads

“Sekarang ini ada sekitar 60 ribu media online di Indonesia,” kata Dr. Dhimam Abror Djuraid, Ketua Dewan Pakar PWI Pusat, dalam sebuah dialog reflektif. “Yang terverifikasi Dewan Pers tidak sampai 2.000 media.”

Angka itu berbicara lebih jujur daripada retorika apa pun. Artinya, lebih dari 95 persen media online beroperasi di luar sistem verifikasi yang menjamin standar manajemen, kompetensi wartawan, dan kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik.

Sebuah lanskap luas, bebas, tetapi nyaris tanpa pagar kualitas.

Dicaci Tapi Dicari

Dalam ruang sebesar itu, fenomena yang dikenal sebagai “Pers ADV” tumbuh subur.

Advertorial bukan lagi pelengkap, melainkan penopang utama kehidupan media. Kontrak kerja sama, paket publikasi, dan berita pesanan menjadi sumber kalori agar redaksi tetap bernapas.

Ironinya, di tengah struktur semacam itu, wartawan tetap diminta menjaga idealisme. Tetap kritis. Tetap independen. Seolah-olah ruang redaksi steril dari urusan bisnis.

Padahal, dalam praktik sehari-hari, wartawan sering berada di persimpangan yang sunyi: antara menulis apa yang seharusnya diketahui publik, atau menahan diri karena sadar bahwa hidup-mati perusahaan bergantung pada relasi advertorial.

Macam lagu dangdut, dicaci tapi dicari.

Di titik inilah, banyak wartawan dipaksa “berjalan lurus sambil memiringkan badan”. Tetap idealis, tetapi dengan menutup sebagian telinga dan mata terhadap kenyataan yang seharusnya diungkap.

Bukan karena tidak tau mana yang benar, melainkan karena tahu persis konsekuensi ekonomi dari kebenaran itu.

“Mendirikan media sekarang jauh lebih mudah daripada membuat tempe. Tapi menjaga kualitas jurnalistiknya yang sulit,” ujar Abror.

Lonjakan jumlah media tidak dibarengi kesiapan ekosistem. Banyak media lahir lebih cepat daripada kesadaran etiknya, dan wartawan bekerja dalam sistem yang sejak awal rapuh secara bisnis.

Akibatnya, fungsi pers sebagai kontrol sosial perlahan mengalami distorsi. Kritik tetap hadir, tetapi sering kali selektif. Tajam ke pinggir, tumpul ke pusat. Berani kepada yang tak punya kontrak, hati-hati kepada yang menopang operasional redaksi.

Dalam situasi ini, jurnalisme tidak sepenuhnya mati—tetapi belajar berkompromi secara sistematis.

Abror menyebut kondisi ini sebagai konsekuensi dari mekanisme pasar yang terlalu dominan. “Kita sudah terlanjur hidup di sistem yang sangat liberal. Media akhirnya ikut logika pasar,” katanya.

Pers menjadi bebas secara formal, tetapi wartawannya terikat oleh realitas ekonomi yang tidak pernah netral.

Data 60 ribu media dengan kurang dari 2 ribu yang terverifikasi juga menyingkap persoalan lain: ketiadaan saringan publik yang memadai.

Ketika hampir semua orang bisa mengklaim diri sebagai media, maka advertorial, propaganda, dan berita berbayar lebih mudah menyaru sebagai karya jurnalistik.

Dalam situasi semacam itu, publik kerap menyalahkan wartawan sebagai individu.

Padahal persoalannya jauh lebih struktural: model bisnis media yang rapuh, ketergantungan pada iklan, dan minimnya keberpihakan ekosistem—termasuk pengiklan dan institusi negara—kepada media yang bekerja secara profesional.

“Dewan Pers hanya bisa mendorong standar pelaksanaan kode etik, bukan menutup media yang tidak memenuhi persyaratan,” kata Abror.

Selebihnya, pilihan ada pada publik, apakah akan terus mengonsumsi media yang kompromistis atau mulai memberi dukungan pada pers yang berupaya menjaga integritas.

Di tengah fakta dan data tersebut, idealisme wartawan memang tidak lenyap. Ia hanya dipaksa hidup di ruang sempit, bernegosiasi dengan proposal kerja sama, dan berdamai dengan batas-batas tak tertulis.

Jalan lurus jurnalisme masih ada, tetapi kini dipenuhi rambu yang tidak selalu dibuat atas nama kepentingan publik.

Mungkin di situlah satire terbesar pers hari ini: wartawan diminta setia pada nurani, sementara sistem justru mengajari dia untuk bertahan hidup dengan kompromi. (kim)

6

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini