bongkah.id – Tiga puluh tahun adalah jeda yang panjang. Terlalu panjang untuk sekadar disebut istirahat, namun juga terlalu sunyi.
Bagi Bambang Sugiarto, tiga dekade tanpa menyentuh kuas adalah masa ketika seni tidak hadir di tangan, tetapi tetap bekerja diam-diam di pikiran dan perasaannya.
Pada 1 November 2025, Bambang resmi purna bakti dari Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas II Branta, Pamekasan, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.
Tak ada pesta besar, tak ada euforia berlebihan. Namun justru dari titik itulah hidupnya berbelok pelan, kembali ke kanvas yang pernah ia tinggalkan sejak muda.
Kini, ia menggelar pameran tunggal pertamanya di Galeri Merah Putih, kompleks Balai Pemuda, Surabaya, 3-12 Februari 2026. Sebuah kepulangan yang lama ditunggu, pamerannya diberi tema sederhana namun jujur: “Kembali.”
Sebanyak 24 lukisan dipajang. Obyeknya dekat dengan denyut kehidupan: potret budaya, fragmen sosial, dan manusia dalam keseharian.
Obyek karyanya tak lahir tiba-tiba. Selama tiga puluh tahun tak melukis, ide-ide visual itu rupanya tak pernah benar-benar tidur. Ia hanya menunggu waktu.
“Dalam dua bulan setelah purna, saya menyelesaikan 34 lukisan,” ujar Bambang, pria kelahiran Banyuwangi, 14 Oktober 1967.
Dari jumlah itu, ia memilih 24 karya untuk dipamerkan. Pilihan yang tidak mudah, karena setiap lukisan menyimpan ceritanya sendiri.
Tak ada fase pemanasan. Tak ada ragu. Ketika kuas kembali ia goreskan dengan kanvas, seolah sebuah bendungan dibuka. Gagasannya mengalir deras.
“Dalam satu hari saya bisa membuat 18 sketsa. Karena idenya sudah ada di pikiran, tinggal menyelesaikan pewarnaan,” katanya, ringan.
Barangkali justru karena jeda panjang itulah, setiap garis terasa matang. Setiap warna hadir dengan kesadaran penuh.
Bambang tidak datang sebagai pelukis yang belajar dari awal, melainkan sebagai manusia yang membawa akumulasi pengalaman hidup, dari masa remaja dan dewasa di Banyuwangi, hingga puluhan tahun mengabdi sebagai aparatur sipil negara.
Kembalinya Bambang ke dunia seni bukan romantisme masa lalu yang rapuh. Kesungguhan itu berwujud nyata. Ia juga membangun Babe Art Gallery di Jalan Semeru 31, Kota Probolinggo, serta satu lagi di Alana Regency, Gunung Sari Indah E 71, Surabaya.
Galeri itu bukan sekadar ruang kerja, melainkan penanda bahwa seni kini kembali menjadi rumah bagi Bambang.
“Katanya belum disebut pelukis kalau belum pernah pameran,” ucapnya pelan.
“Karena itu, ini pameran lukisan pertama saya setelah 30 tahun tidak melukis.” Kalimat sederhana, namun di dalamnya tersimpan perjalanan hidup yang panjang, tentang menunda, bertahan, dan akhirnya pulang kembali ke dunia seni lukis.
Bagi Bambang, melukis bukan hobi yang tertunda atau pengisi waktu pensiun. Ia adalah cara memaknai hidup. Sebuah laporan pertanggungjawaban paling jujur yang disampaikan bukan lewat kata-kata, melainkan melalui warna, garis, dan kanvas.
Melalui pameran tunggal “Kembali”, Bambang Sugiarto tidak sekadar kembali ke dunia seni lukis. Ia kembali pada dirinya sendiri. (anto)



























