
Bongkah.id – Pertama sejak tahun 1953, dua wartawan sukses meraih Nobel Perdamaian 2021. Penghargaan paling bergengsi dunia diraih jurnalis asal Filipina, Maria Ressa serta Dmitry Muratov dari Rusia.
Kedua wartawan itu meraih Hadian Nobel Perdamaian 2021 atas upaya mereka untuk melindungi kebebasan berekspresi. Komite pemberi hadiah Nobel Perdamaian menyebut, isu yang diusung kedua jurnalis itu memang sedang terancam di seluruh dunia.
“Ressa dan Muratov diberi penghargaan bergengsi dalam perjuangannya yang berani menyuarakan dan melakukan kebebasan berekspresi di Filipina dan Rusia,” kata Berit Reiss-Andersen, ketua Komite Nobel Norwegia, pada Jumat (8/10/2021).
Penganugerahan Hadiah Nobel Perdamaian kepada wartawan ini bukan pertama kali. Sebelumnya, seorang jurnalis asal Jerman Carl von Ossietzky telah memenangkan penghargaan itu pada 1935 karena mengungkapkan program persenjataan kembali rahasia negaranya pasca-perang.
“Mereka adalah perwakilan dari semua jurnalis yang membela cita-cita ini di dunia di mana demokrasi dan kebebasan pers menghadapi kondisi yang semakin buruk,” ujarnya di Oslo, Norwegia.
“Jurnalisme bebas, independen, dan berbasis fakta berfungsi untuk melindungi dari penyalahgunaan kekuasaan, kebohongan, dan propaganda perang,” imbuhnya.
Ressa yang juga sits jurnalisme investigasi Rappler memfokuskan sebagian besar karyanya pada perang kontroversial dan kekerasan Presiden Filipina Rodrigo Duterte terhadap narkoba. Dia juga mendokumentasikan bagaimana media sosial digunakan untuk menyebarkan berita palsu, melecehkan lawan dan memanipulasi wacana publik.
“Saya sedikit terkejut. Benar-benar emosional. Jurnalisme tidak pernah sepenting sekarang,” kata Ressa setelah mengetahui kemenangan atas penghargaan tersebut.
Sedangkan Muratov selaku pendiri sekaligus pemimpin redaksi surat kabar Rusia Novaya Gazeta sejak 1993. Media cetak ini merupakan salah satu dari sedikit media independen di Rusia.
Muratov mengatakan dia akan menggunakan kemenangannya untuk membantu jurnalis independen yang menghadapi tekanan yang semakin besar dari pihak berwenang. Termasuk mereka yang organisasinya dinyatakan sebagai agen asing.
Sejak berdirinya, enam jurnalis dari Novaya Gazeta telah menjadi korban pembunuhan.
“Saya tidak bisa mengambil kredit untuk ini. Ini milik Novaya Gazeta. Itu untuk mereka yang tewas membela hak orang atas kebebasan berbicara,” kata Muratov seperti dikutip kantor berita Rusia TASS. (bid)