Benny Butar-Butar

bongkah.id – Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara selaku pemegang modal Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Kantor Berita ANTARA, resmi mengganti nahkoda dan awak utamanya. Sebuah surat keputusan ditandatangani, dan bersamaan dengannya, babak baru dimulai.

Akhmad Munir dilepas dari jabatan Direktur Utama. Tongkat estafet diserahkan kepada Benny Butar-Butar, seorang wartawan senior yang lebih akrab dengan debu lapangan, bau tinta, dan denyut deadline ketimbang kursi empuk kekuasaan.

ads

Pergantian ini bukan sekadar urusan administrasi; ia adalah penanda waktu, bahwa ANTARA kembali dipanggil untuk menegaskan jati dirinya di tengah riuh industri media dan deras arus digital.

Tak hanya di pucuk pimpinan, perubahan juga menyentuh jantung redaksi dan nadi bisnis. Irfan Junaedi digantikan Virgandi Prayudantoro sebagai Direktur Pemberitaan, sementara jabatan Direktur Komersial, Pengembangan Bisnis, dan Teknologi Informasi beralih dari Jaka Sugiyanta kepada Rachmat Hidayat.

Susunan baru ini diharapkan menjadi rangka yang lebih lentur sekaligus kokoh, cukup kuat menahan badai, cukup lincah membaca angin zaman.

Di antara nama-nama itu, Benny Butar-Butar berdiri sebagai figur yang membawa cerita panjang. Ia bukan orang baru bagi ANTARA. Ia adalah anak kandung rumah berita itu sendiri.

Lulus dari Universitas Indonesia, Benny bergabung dengan ANTARA pada 1992 sebagai wartawan pemula. Meja pertamanya adalah desk kriminal, wilayah keras yang mengajarkan bahwa berita bukan sekadar teks, melainkan potongan hidup manusia yang sering kali berdarah dan berair mata. Hingga kini, ia kerap menyebut masa itu sebagai tempaan paling jujur dalam hidup jurnalistiknya, tempat naluri diasah, keberanian diuji, dan empati dilahirkan.

Kariernya menanjak seiring waktu. Pada 2014, ia dipercaya menjadi Manajer Pemberitaan Internasional ANTARA. Dunia menjadi ruang liputannya. Dari Perang Bosnia yang menyisakan luka kemanusiaan, penugasan di Timor Leste yang sarat dinamika sejarah, hingga Tokyo, tempat ia menjabat Kepala Biro ANTARA pada 2006–2008.

Di negeri sakura itu pula, pada 2007, ia mencatat salah satu pengalaman penting adalah mewawancarai Perdana Menteri Jepang Yasuo Fukuda, sebuah pertemuan singkat yang menyatukan diplomasi, jurnalisme, dan kepercayaan.

Namun bagi Benny, jabatan tak pernah menghapus identitas. “Wartawan adalah passion,” begitu keyakinannya. Ia boleh berpindah kursi, memasuki ruang rapat strategis, atau berbicara dalam bahasa kebijakan, tetapi naluri jurnalistiknya dalam bertanya, meragukan, memverifikasi, tetap melekat.

Kepada wartawan muda, ia sering berbagi satu pesan sederhana: jangan takut ditempa, terutama di desk kriminal, karena di sanalah ketangguhan lahir.

Di luar redaksi, Benny juga menjejak dunia akademik dan komunikasi korporasi. Sejak 2010, ia mengajar selama tujuh tahun di universitas swasta nasional. Ia pernah terlibat dalam komunikasi korporasi Garuda Indonesia dan Citilink, pengalaman yang memperkaya pandangannya bahwa media bukan sekadar saluran publikasi, melainkan mitra strategis dalam membangun komunikasi yang sehat dan kredibel.

Latar belakang akademiknya pun solid. Ia meraih gelar Magister Ilmu Komunikasi dari Universitas Indonesia (2004–2006). Kini, ia aktif sebagai Sekretaris Jenderal PERHUMAS (sejak Desember 2020), Penasehat Senior Hubungan Media dan Komunikasi Perum BULOG, serta staf pengajar dan penasehat komunikasi di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya dan LSPR Communication and Business Institute.

Lahir di Jakarta, 10 Juli 1968, Benny Butar-Butar membawa usia, pengalaman, dan ingatan panjang tentang jurnalisme yang bekerja dalam diam, namun berdampak luas.

Pergantian direksi ini menandai satu hal penting: ANTARA sedang bersiap menegosiasikan ulang posisinya, antara idealisme dan keberlanjutan, antara kecepatan dan ketepatan, antara teknologi dan nurani. Di tangan seorang wartawan yang tumbuh dari lapangan, harapan itu kembali disematkan.

Sejarah memang tidak pernah berhenti menulis. Ia hanya berganti penulis. Dan hari ini, pena itu berada di tangan seorang wartawan. (anto)

46

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini