Kunjungan ke Peneleh hanya berlangsung sekitar 40 menit, namun dipadatkan dengan pengalaman yang kaya rasa.

‎bongkah.id – Pelabuhan Tanjung Perak pagi itu tampak berbeda. Deretan bus pariwisata dan mobil pribadi berjajar rapi, seolah menjadi karpet sambutan bagi ratusan tamu dari berbagai penjuru dunia.

‎Pada 24 Desember 2025, kapal pesiar MS Westerdam menutup rangkaian kunjungan kapal pesiar ke Surabaya sepanjang tahun—menjadi penanda senyap di penghujung kalender wisata maritim kota ini.

‎Seorang pecinta alam bernama Yoni Astuti yang berprofesi sebagai pemandu wisata berlisensi nasional, menyajikan kisahnya memandu rombongan wisatawan mancanegara.

‎Sebanyak 354 wisatawan mancanegara turun dari kapal megah tersebut. Di bawah koordinasi Cruise Asia, mereka menyebar ke berbagai rute wisata.

‎Delapan bus menyusuri sudut-sudut bersejarah Surabaya, tiga bus melaju menuju Trowulan, sementara 16 mobil melayani wisatawan yang memilih private tour dengan agenda personal.

‎Sebagian besar dari mereka adalah wisatawan lanjut usia—beberapa berjalan perlahan dengan tongkat, sebagian lain duduk di kursi roda—namun mata mereka memancarkan rasa ingin tahu yang sama: ingin mengenal Indonesia lebih dekat.

‎Para pemandu wisata dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) menjadi jembatan antara cerita dan pengalaman. Mereka bukan sekadar penutur sejarah, melainkan penjaga ritme perjalanan, memastikan setiap langkah aman, nyaman, dan bermakna.

‎Dalam waktu terbatas—sekitar 5,5 jam, wisatawan diajak menyusuri Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria, Hotel Majapahit, Joko Dolog, Pura Agung Jagat Karana, hingga sebuah kampung tua yang menyimpan denyut sejarah panjang: Kampung Wisata Peneleh Heritage.

‎Kampung Wisata Peneleh Heritage

‎Kunjungan ke Peneleh hanya berlangsung sekitar 40 menit, namun dipadatkan dengan pengalaman yang kaya rasa. Di gang-gang sempit Pandean—Gang 1, 2, dan 4—wisatawan disambut fragmen kehidupan yang hidup.

‎Denting angklung mengalun di dekat Sumur Jobong. Anak-anak perempuan bermain dakon, sementara para ibu menampi beras, memarut kelapa, dan merangkai ketupat dari janur.

‎Stan UMKM memamerkan perhiasan manik-manik, ecoprint, hingga sketsa rumah-rumah tua yang menyimpan cerita masa lalu.

‎Di Gang 4, aroma malam bercampur lilin batik dan wangi bunga canang. Sebuah keluarga Bali menata sesajen di halaman rumah berarsitektur Bali, dengan patung Dewa Brahma dan Dewa Wisnu berdiri hening.

Stan UMKM memamerkan perhiasan manik-manik, ecoprint, hingga sketsa rumah-rumah tua yang menyimpan cerita masa lalu.

‎Musik Bali mengalun pelan, menegaskan bahwa Peneleh adalah ruang hidup multikultural, dihuni etnik Jawa, Bali, Madura, Tionghoa, dan lainnya. Tak jauh dari sana, wisatawan menapaki rumah kelahiran Bung Karno, Presiden pertama Republik Indonesia, sebagai penutup perjalanan singkat namun sarat makna.

‎Anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) mengenakan kebaya, jarit, beskap, dan busana Bali, bukan sebagai kostum, melainkan cermin identitas keseharian.

‎Warga yang tak bertugas pun turut menyapa, tersenyum, dan melambaikan tangan, sebuah interaksi spontan yang kerap lebih membekas daripada penjelasan panjang.

‎Empat puluh menit memang terlalu singkat untuk sebuah kampung yang menghormati leluhur dan merawat kearifan lokalnya. Namun, dari sela waktu itu, Surabaya telah memperkenalkan wajahnya: hangat, beragam, dan berakar kuat pada sejarah.

‎Kolaborasi antara pemandu wisata, Pokdarwis, dan pemerintah pun terbingkai rapi, menjadi kenangan yang dibawa pulang wisatawan MS Westerdam.

‎Kampung Wisata Peneleh Heritage kini menanti bab berikutnya: berkembang, bertumbuh, dan terus menyambut dunia, dari kapal pesiar hingga langkah-langkah kecil pelancong nusantara. ‎(kim)

ads
15

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini