Kemenkes menyatakan vaksin influenza masih ampuh daya kerjanya melawan resiko sakit berat, rawat inap, hingga kematian.

bongkah.id – Awal tahun 2026 belum sepenuhnya berjalan ramah. Di tengah rutinitas, kabar tentang super flu pelan-pelan menyusup ke ruang publik, menimbulkan kegelisahan yang sulit diabaikan. Varian baru influenza A (H3N2) subclade K, nama ilmiah yang terdengar asing namun cepat menjadi buah bibir, telah terdeteksi di Indonesia.

Kementerian Kesehatan RI mencatat 62 kasus hingga akhir Desember lalu, tersebar di delapan provinsi. Angka itu mungkin belum mencolok, namun cukup untuk menyalakan alarm kewaspadaan. Ingatan kolektif masyarakat akan wabah-wabah sebelumnya membuat setiap istilah “varian baru” terasa lebih berat dari sekadar angka statistik.

ads

Di media sosial, kata super flu bergema. Di rumah-rumah, orang tua mulai lebih sering meraba dahi anak-anak mereka. Di ruang tunggu puskesmas, batuk dan bersin terdengar sedikit lebih mencurigakan dari biasanya. Pemerintah berusaha menenangkan suasana.

Kemenkes menegaskan bahwa vaksin influenza yang tersedia daya kerjanya masih ampuh sebagaimana mestinya sebagai benteng perlawanan risiko sakit berat, rawat inap, hingga kematian.
“Vaksin influenza tetap efektif untuk mencegah sakit berat, rawat inap, dan juga kematian,” ujar juru bicara Kemenkes RI, drg Widyawati, MKM, Kamis (1/1/2026).

Namun di balik pernyataan resmi, data berbicara dengan caranya sendiri. Hasil whole genome sequencing (WGS) terhadap 248 sampel influenza menunjukkan dominasi virus influenza tipe A, dengan 62 di antaranya merupakan subclade K, sebuah varian yang kini menjadi sorotan. Sebagian besar penderita adalah perempuan, dan yang paling rentan justru anak-anak usia 1–10 tahun, kelompok yang seharusnya sedang riang berlarian, bukan berjuang melawan demam.

Sebaran kasus menempatkan Jawa Timur di urutan teratas dengan 23 kasus, disusul Kalimantan Selatan (18 kasus) dan Jawa Barat (10 kasus). Daerah lain seperti Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Sulawesi Utara, hingga DI Yogyakarta ikut tercatat, seakan menegaskan bahwa virus ini tak memilih batas geografis.

Plt Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, menyebut subclade K pertama kali terdeteksi pada 25 Desember 2025 dalam pemantauan rutin influenza nasional. Sebuah temuan yang awalnya bersifat laboratorium, kini menjelma menjadi percakapan sehari-hari.

Meski namanya terdengar mengintimidasi, Kemenkes memastikan subclade K tidak menunjukkan tingkat keparahan yang lebih tinggi dibanding influenza musiman. Gejalanya masih serupa yakni demam tinggi, batuk, pilek, sakit kepala, kelelahan berat, dan nyeri tenggorokan. Namun bagi masyarakat yang baru saja melewati tahun-tahun penuh krisis kesehatan, kesamaan gejala tak serta-merta menenangkan.

Pemerintah mengimbau agar publik tidak larut dalam kepanikan, namun tetap menjaga jarak aman dengan kewaspadaan mencuci tangan, menerapkan etika batuk, dan mempertimbangkan vaksinasi influenza, terutama bagi kelompok rentan.

Di antara data dan imbauan, satu hal terasa jelas yakni super flu mungkin datang tanpa suara, tetapi kecemasan yang mengikutinya bergema di banyak kepala. Awal tahun ini, Indonesia kembali belajar bahwa kewaspadaan adalah harga yang harus dibayar untuk rasa aman. (anto)

14

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini