bongkah.id — Sebuah prasasti abad ke-11 peninggalan Raja Airlangga berdiri di lahan sempit RT 9 RW 4, Dusun Klegen, Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Sidoarjo, Jawa Timur.
Di tempat itulah sang raja Kerajaan Kahuripan mengukir pesan-pesan kenegaraan, huruf demi huruf, di atas batu andesit, dengan keyakinan bahwa waktu akan berlaku adil pada ingatan setiap zaman.
Prasasti bernama Prasasti Kamalagyan itu dibuat pada tahun 959 Saka atau 1037 Masehi. Terdiri atas 28 baris tulisan beraksara Jawa Kuno, sebagian teksnya masih dapat terbaca hingga kini.
“Yang bisa terbaca jelas baris pertama sampai baris ke-11. Pada baris selanjutnya hingga akhir, huruf-hurufnya telah terkikis dimakan zaman,” ujar Dr. Sudi Harijanto, Ketua Komunitas Sidoarjo Masa Kuno, dalam perbincangannya dengan bongkah.id, Sabtu (28/2/2026).
Pada abad ke-11, prasasti adalah medium komunikasi. Batu menjadi halaman, pahat menjadi pena, dan sejarah ditulis dengan kesabaran yang nyaris asketis. Berabad-abad kemudian, pesan itu tetap bisa dibaca di abad ke-21.
Secara historis, prasasti tersebut merupakan arsip penting Kerajaan Kahuripan pada masa pemerintahan Airlangga.
Di dalamnya disebutkan bahwa prasasti dibuat setelah Airlangga menaklukkan Raja Wijayawarman—raja terakhir yang belum tunduk—sehingga kekuasaan Airlangga atas seluruh wilayah Kahuripan pun dikukuhkan.
Selain itu, prasasti juga mencatat pembangunan bendungan Wringin Sapta oleh Raja Airlangga untuk menanggulangi banjir Sungai Brantas.
Wilayah tersebut kemudian ditetapkan sebagai daerah bebas pajak, sebuah kebijakan yang menunjukkan perhatian raja terhadap kesejahteraan rakyatnya.
Kini, pengunjung prasasti kebanyakan adalah pelajar, mahasiswa, serta masyarakat umum dari berbagai kalangan.
“Mereka hanya datang melihat-lihat. Tidak banyak yang duduk bersila semedi di sini,” kata Husein (80), juru pemelihara prasasti.

Prasasti berukuran 115 x 28 x 215 sentimeter itu tampak dingin, keras, dan abadi. Ia tidak berkilau seperti layar gawai, tidak pula viral di linimasa.
Namun di situlah ironi zaman bekerja: pesan kuno itu tetap bertahan, sementara banyak unggahan media sosial menguap ditelan algoritma.
Jejak arkeologi tersebut kini bertransformasi menjadi jejak digital. Dari pahat ke piksel, dari batu andesit ke penyimpanan i-Cloud.
Apa yang dahulu ditujukan bagi rakyat pada zamannya, kini masih dapat dibaca ulang oleh masyarakat lintas generasi.
Prasasti ini menjadi bukti bahwa Airlangga memahami satu hal penting: pesan kekuasaan harus melampaui usia kekuasaan itu sendiri.
Ia mungkin tak pernah membayangkan internet, tetapi ia memilih medium yang paling mungkin bertahan menghadapi waktu, yakni batu andesit, sebagai sarana publikasi Kerajaan Kahuripan yang abadi hingga hari ini. (anto)























