bongkah.id – Langit Jakarta seakan ikut berduka pada Senin, (2/3/2026). Kabar kepergian Try Sutrisno menyebar cepat dan menghadirkan kesedihan di berbagai kalangan.
Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia itu wafat pada usia 90 tahun setelah menjalani perawatan di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta.
Dalam lintasan zaman, tersimpan perjalanan panjang seorang prajurit yang menapaki tangga kekuasaan hingga menjadi orang nomor dua di republik ini.
Try Sutrisno lahir di Surabaya, 15 November 1935. Ia tumbuh dalam suasana Indonesia yang masih belia sebagai bangsa merdeka.
Pilihannya jatuh pada dunia militer, jalan hidup yang menuntut disiplin, keberanian, dan kesetiaan pada negara.
Sebagai lulusan Akademi Militer Angkatan Darat (Atekad) tahun 1959, ia terjun langsung ke berbagai operasi penting. Namanya tercatat dalam penumpasan DI/TII di Aceh pada 1957, operasi pembebasan Irian Barat tahun 1962, serta pengamanan situasi nasional pasca-peristiwa 1965.
Pengalaman di medan tugas membentuknya sebagai perwira lapangan yang matang dan teruji.
Kariernya terus menanjak.
Pada 1974–1978, ia dipercaya menjadi ajudan Presiden Soeharto, posisi strategis yang membawanya dekat dengan pusat kekuasaan.
Tahun 1982, ia menjabat Pangdam V/Jaya. Enam tahun kemudian, ia mencapai puncak karier militer saat dilantik sebagai Panglima ABRI.
Titik penting dalam hidupnya datang pada Sidang Umum MPR 1993. Di tengah dinamika politik Orde Baru, Try Sutrisno terpilih sebagai Wakil Presiden RI mendampingi Soeharto untuk periode 1993–1998.
Sosoknya dikenal tenang dengan latar militer yang kuat, menjadi simbol stabilitas pada masa ketika pembangunan berjalan beriringan dengan kritik pada pemerintah yang kian menguat.
Sejarah kemudian bergerak cepat. Krisis ekonomi dan gelombang demonstrasi pada 1998 mengguncang fondasi Orde Baru.
Pengunduran diri Soeharto menandai berakhirnya satu era panjang. Masa jabatan Try Sutrisno pun usai seiring pergantian kepemimpinan nasional.
Selepas dari kursi wakil presiden, ia tidak sepenuhnya menepi. Try Sutrisno masih terlibat dalam aktivitas politik, termasuk dalam kepengurusan Partai Keadilan dan Persatuan (PKP).
Meski tak lagi berada di panggung utama, kiprahnya tetap menjadi bagian dari dinamika politik pascareformasi.
Kini, kepergiannya mengingatkan publik pada perjalanan panjang seorang prajurit yang menapaki jalan sejarah Indonesia modern, dari taruna muda di Surabaya hingga wakil presiden di ujung era Orde Baru.
Try Sutrisno adalah potret generasi militer yang tumbuh bersama pergolakan bangsa: menyaksikan konflik, memegang komando, lalu duduk di kursi kenegaraan pada masa yang menentukan.
Kepergiannya bukan sekadar kabar duka, melainkan juga penanda bahwa satu lagi saksi hidup perjalanan panjang republik telah berpulang, meninggalkan jejak yang akan terus dikenang dalam lembar-lembar sejarah Indonesia. (anto)

























