bongkah.id – Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 menjadi penanda penting bagi perjalanan panjang pers dan kebudayaan Indonesia. Pada momentum itu, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat memberikan Anugerah Kebudayaan kepada tiga wartawan senior yang dinilai konsisten mengabdikan jurnalisme untuk merawat ingatan dan warisan budaya bangsa.
Ketiga penerima penghargaan adalah Rahmi Hidayati, mantan wartawan Bisnis Indonesia; Seno Joko Suyono, mantan wartawan Tempo; serta Henri Nurcahyo, mantan wartawan Surabaya Post. Mereka menerima Trofi Abyakta dan Piagam Anugerah Kebudayaan PWI Pusat.
Dalam siaran pers panitia yang diterima Kamis (1/1/2026), PWI Pusat menyebutkan bahwa penghargaan ini diberikan melalui kategori rintisan “Wartawan dan Komunitas”, yang untuk pertama kalinya dianugerahkan. Penilaian difokuskan pada kesinambungan kerja jurnalistik dan keterlibatan aktif dalam kegiatan seni budaya selama sedikitnya satu dekade, dengan dampak yang melampaui batas daerah.
Rahmi Hidayati dinilai memiliki jasa besar melalui kiprahnya sebagai Ketua Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI). Dari gerakan akar rumput hingga advokasi kebudayaan, Rahmi ikut mengantarkan kebaya memperoleh pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia UNESCO. Sementara, Seno Joko Suyono dikenal luas sebagai penggagas Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF). Melalui festival tersebut, Borobudur tidak hanya diposisikan sebagai situs sejarah, tetapi juga sebagai ruang dialog budaya yang mempertemukan sastrawan dan pemikir lintas negara.
Sedangkan Henri Nurcahyo menempuh jalur berbeda namun seirama. Melalui pengelolaan media budaya brangwetan.com serta jejaring komunitas Panji, ia secara konsisten menghidupkan kembali kisah Panji hingga menjangkau Asia dan dunia. Upaya tersebut turut berkontribusi pada pengakuan budaya Panji sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia UNESCO.
Penilaian dan Tahap Akhir
Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026 dinilai oleh Dewan Juri yang terdiri dari lima tokoh lintas disiplin: Dr. Nungki Kusumastuti, Agus Dermawan T., Sudjiwo Tejo, Akhmad Munir, dan Yusuf Susilo Hartono.
Selain wartawan, Dewan Juri juga menetapkan 10 kepala daerah yang dinilai memiliki kepedulian dan keberpihakan terhadap pemajuan seni dan kebudayaan. Kesepuluh kepala daerah tersebut akan mengikuti tahap akhir berupa presentasi langsung pada 8–9 Januari 2026 di Gedung Dewan Pers, Jakarta, sebelum penganugerahan pada puncak HPN 2026 di Banten, 9 Februari 2026.
Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat, Yusuf Susilo Hartono, menyatakan bahwa proses seleksi dilakukan secara ketat melalui penilaian proposal, regulasi pendukung, dokumentasi program, hingga jejak pemberitaan. “Presentasi diperlukan untuk memastikan konsistensi, inovasi, dan dampak nyata program kebudayaan terhadap masyarakat,” ujarnya.
Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026 mengusung tema “Pemajuan Kebudayaan Daerah yang Inklusif dan Berkelanjutan, Berbasis Media dan Pers”, menegaskan kembali posisi pers bukan sekadar pencatat peristiwa, tetapi juga bagian dari ekosistem kebudayaan itu sendiri. (anto)

























