
Bongkah.id – Kabupaten Kediri Jawa Timur diguncang kerusuhan hebat pada Sabtu malam (30/8/2025) hingga Minggu dini hari (31/8). Aksi massa yang semula berupa unjuk rasa berubah menjadi gelombang anarkis yang meluluhlantakkan pusat pemerintahan.
Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri, gedung DPRD, Samsat Katang, hingga 18 kantor Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terbakar dan rata dengan tanah. Polisi amankan 123 pelaku.
Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, berdiri pilu di depan puing-puing kantornya. Dalam konferensi pers Minggu pagi, dia mengakui roda pemerintahan hampir lumpuh total.
“Hari ini, mau tidak mau saya harus katakan, lumpuh,” ucap Bupati Dhito dengan wajah muram.
Tak hanya kehilangan gedung dan fasilitas, arsip-arsip penting serta inventaris kantor ludes terbakar. Ruang kerja Bupati, Wakil Bupati serta Sekretaris Daerah ikut dijebol dan dijarah.
Cagar Budaya Jadi Korban
Kerusakan juga menjalar ke ranah yang tak ternilai: aset budaya. Museum Bhagawan Tabari yang menyimpan fragmen kepala Ganesha, arca Bodhisatwa, miniatur lumbung, hingga koleksi wastra batik, ikut menjadi sasaran. Sejumlah artefak hilang dan kaca pelindung koleksi hancur.
“Ini peninggalan sejarah, cagar budaya. Mohon kepada siapapun yang membawa, silakan dikembalikan,” pinta Bupati.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri membenarkan kerusakan museum, meski sejauh ini masih melakukan inventarisasi kerugian.
Kapolres Kediri, AKBP Bramastyo Priaji, menyebut kepolisian telah mengamankan 123 orang yang diduga terlibat aksi anarkis di berbagai titik, mulai dari Ngasem, Gurah, Pare, Perumahan hingga Papar.
“Usianya bervariasi, ada anak di bawah umur hingga orang dewasa, termasuk seorang perempuan,” jelasnya.
Polisi juga berencana memanggil orang tua pelaku yang masih anak-anak. Nama mereka tercatat di kepolisian. Hal itu dapat memengaruhi masa depan ketika mengurus Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK).
Aksi Melebar
Berdasarkan informasi lapangan, massa awalnya berkumpul di Taman Sekartaji sekitar pukul 15.00 WIB setelah beredar flayer ajakan demonstrasi. Mereka longmarch menuju Mapolresta Kediri. Awalnya damai, namun berubah ricuh ketika massa melempari kaca, membakar kendaraan, dan menjungkirbalikkan mobil.
Polisi kemudian mengerahkan water cannon dan gas air mata. Massa berpencar ke gedung DPRD Kota Kediri lalu membakarnya. Dari sana amuk massa meluas ke Kantor Pemkab dan DPRD Kabupaten Kediri. Sejumlah ruangan dijebol, barang dijarah, bahkan Museum Kabupaten ikut dirusak.
Seorang warga bernama Antok mengaku suasana Kediri malam itu mencekam. “Sejumlah ruas jalan ditutup. Menjelang petang baru terjadi kericuhan yang berujung pembakaran,” tuturnya.
Meski kantor pemerintahan hancur, Bupati Dhito menegaskan roda pemerintahan dan ekonomi tidak boleh berhenti. Ia memerintahkan OPD dan para camat bekerja dengan fasilitas seadanya.
Dandim 0809 Kediri, Letkol Inf Ragil Jaka Utama, juga memastikan TNI-Polri bersiaga menjaga keamanan. “Yang lalu biarlah berlalu. Situasi kamtibmas sekarang aman terkendali. Roda pemerintahan dan perekonomian harus tetap berjalan,” ujarnya.
Sebagai langkah awal pemulihan, Pemkab Kediri akan menggelar rapat koordinasi dengan tokoh masyarakat. (wan/kim)