bongkah.id – Dua fotografer memamerkan 24 karya mereka dalam Pameran Cagar Budaya, Aksara Gata, dan Pameran Visual di Gedung Kesenian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang, Senin (30/3/2026) hingga Kamis (2/4/2026).
Kedua fotografer adalah Sofan Kurniawan (Sofanka) dan Luhur Wahyu Wijaya. Mereka menampilkan karya foto jurnalistiknya bertema budaya yang sarat makna serta refleksi sosial.
Sofan sehari-hari fotografer di Radar Mojokerto, sementara Luhur tercatat sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Dinas Kominfo Pemkab Jombang.
Sofan tidak sekadar merekam dan menyajikan karya foto. Ia melakukan penelusuran “arkeologi visual” terhadap panggung-panggung ludruk di Mojokerto, Jombang, dan Surabaya.
Dari proses tersebut, ia menghasilkan 12 karya yang direkam dengan kamera Nikon D-70 bertajuk Travesti: Dialektika Tubuh dan Perlawanan.
“Di balik panggung, banyak cerita yang dapat diungkap melalui foto. Saya sengaja merawat stock shoot pertunjukan ludruk untuk dokumentasi pribadi,” ujar Sofan (41), lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Fakultas Seni Media Rekam (FSMR), angkatan 2003.
Melalui karyanya, ia menampilkan sosok laki-laki yang memerankan perempuan. Dalam perspektifnya, tubuh tidak lagi menjadi entitas biologis yang pasif, melainkan menjadi ruang negosiasi identitas, politik, dan perlawanan melalui medium seni tradisi.
Menurutnya, di balik riasan seperti bedak, gincu, dan sanggul yang menjulang, terdapat kode-kode tersembunyi yang merepresentasikan perlawanan terhadap kolonialisme.
Ia menambahkan, tubuh travesti hadir melalui celah estetika dan menjadi metafora kedaulatan yang tidak ingin ditundukkan.
Sementara, Luhur Wahyu Wijaya menampilkan karya bertajuk Wayang Topeng Jatiduwur: Nafas Lama dalam Tubuh Baru.

Kecintaannya pada fotografi telah membawanya menjadi fotografer jurnalistik sejak 2009 hingga sekarang, dengan kontribusi karya yang didistribusikan melalui Pacific Press Agency dan Getty Images.
Dalam setiap bidikannya dengan kamera Nikon D-300 dan lensa 35 mm, topeng tidak sekadar diposisikan sebagai benda. Bagi Luhur, topeng adalah representasi wajah sejarah sekaligus penanda yang menghubungkan masa lalu dan masa kini.
“Sejak SMA saya sudah menyukai fotografi dan seni budaya,” ujar Luhur (44).
Ketertarikannya itu mendorong dia untuk mendokumentasikan Wayang Topeng Jatiduwur sebagai tradisi khas Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Jombang.
Pameran ini menjadi pengingat bahwa fotografi bukan sekadar medium visual, melainkan juga ruang tafsir yang mampu merekam, merawat, dan menghidupkan kembali nilai-nilai budaya.
Melalui lensa para fotografer, tradisi tidak hanya didokumentasikan, tetapi juga diajak berdialog dengan zaman.
Di tengah arus modernitas, karya-karya ini menegaskan bahwa budaya adalah identitas yang harus terus dijaga dan dimaknai ulang.
Fotografi hadir sebagai jembatan yang menghubungkan masa lalu, membingkai masa kini, dan mengantar pesan kepada generasi mendatang agar tetap mengenal, menghargai, dan melestarikan warisan budaya bangsa. (anto)
.



























