Heri “Lento” Prasetyo, Founder Komunitas Surabaya Juang.

bongkah.id – Polemik penataan ruang di Balai Pemuda yang menyasar Galeri Merah Putih, Dewan Kesenian Surabaya, dan Bengkel Muda Surabaya memunculkan kegelisahan di kalangan pelaku seni.

Di tengah kebuntuan komunikasi antara komunitas dan pemerintah, Heri “Lento” Prasetyo, Founder Komunitas Surabaya Juang, memaparkan pandangannya dalam wawancara bersama Rokimdakas, jurnalis bongkah.id berikut:

ads

Rokim: Bagaimana Anda melihat polemik yang terjadi di Balai Pemuda saat ini?

Lento: Yang terjadi bukan sekadar polemik penataan ruang. Ini adalah gejala dari kebuntuan komunikasi dalam ekosistem kebudayaan kita.

Ada rasa tidak didengar dari pelaku seni, ada rekomendasi yang tidak berjalan dari lembaga kesenian, dan ada tekanan administratif di pihak pemerintah. Ini menunjukkan sistemnya belum sehat.

Rokim: Apa yang dimaksud dengan ekosistem yang belum sehat?

Lento: Saya sering mengibaratkan ekosistem seni seperti pasien, dokter, dan apotek. Seniman itu pasien, lembaga kesenian adalah dokter, dan pemerintah adalah apotek.

Idealnya ada siklus, dari mendengar, mendiagnosis, memfasilitasi, lalu bertumbuh. Tapi sekarang siklus itu terputus di tengah jalan.

Rokim: Di mana letak kebuntuannya?

Lento: Pada pola komunikasi yang tidak setara. Seniman sering diposisikan sebagai objek, bukan subjek. Lembaga kesenian hanya jadi formalitas. Sementara pemerintah bekerja dalam logika proyek. Komunikasi yang seharusnya menjadi jembatan, justru berubah jadi sekat.

Rokim: Pemkot sebenarnya sudah menawarkan dialog, tapi belum ada respons. Bagaimana Anda melihat ini?

Lento: Itu menunjukkan bahwa kepercayaan sudah mulai tergerus. Dialog bukan sekadar undangan formal. Harus ada jaminan bahwa suara yang disampaikan benar-benar didengar dan dipertimbangkan. Kalau tidak, wajar jika responsnya dingin.

Rokim: Lalu apa solusi konkret yang Anda tawarkan?

Lento: Kita butuh “ruang diagnostik bersama”. Bukan forum seremonial, tapi ruang hidup di mana semua pihak duduk setara.
Seniman menyampaikan realitasnya, lembaga kesenian memaparkan kajiannya, dan pemerintah membuka kapasitas serta batasannya. Dari situ lahir kesepahaman kolektif.

Rokim: Apakah itu cukup menyelesaikan masalah?

Lento: Tidak cukup kalau hanya sekali. Harus berkelanjutan. Karena itu saya mengusulkan “Forum Triadik Kebudayaan”. Ini forum rutin, berbasis data dan kebutuhan riil, yang menghasilkan rekomendasi strategis dan terdokumentasi.

Rokim: Apa yang membedakan forum ini dengan rapat-rapat biasa?

Lento: Forum ini tidak berhenti di diskusi. Ia mengarah pada ko-kreasi kebijakan. Semua pihak terlibat sejak membaca masalah, merumuskan solusi, sampai menjalankan. Jadi tidak ada lagi kebijakan yang terputus dari realitas.

Rokim: Apa harapan Anda untuk Surabaya ke depan?

Lento: Surabaya punya sejarah dan kekuatan budaya yang besar. Tapi itu hanya bisa hidup kalau komunikasinya sehat.
Ketika seniman didengar, lembaga kesenian dipercaya, dan pemerintah responsif, yang lahir bukan sekadar program—tapi ekosistem. Dan dari ekosistem itu, peradaban bisa tumbuh.

Rokim:Jadi inti persoalannya bukan hanya ruang fisik?

Lento: Betul. Ini soal relasi. Soal cara kita saling mendengar. Kalau itu tidak dibenahi, polemik seperti ini akan terus berulang dalam bentuk yang berbeda.

Sebagai catatan dari wawancara ini menegaskan, bahwa polemik Balai Pemuda bukan sekadar konflik kebijakan, melainkan cermin dari komunikasi yang tersumbat.

Seperti disampaikan Heri Lento Prasetyo, membenahinya membutuhkan lebih dari sekadar keputusan tetapi perubahan cara berpikir bersama.

3

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini