Gedung ini dibangun lebih dari 110 tahun lalu tepatnya tahun 1907 oleh arsitek Belanda Westmaes, awalnya bernama "De Simpangsche Societeit".

Oleh: Hamid Nabhan

bongkah.id – Saya menulis surat ini dengan hati yang berat dan suara yang penuh harapan, sebagai seorang pelaku seni yang telah menghabiskan sebagian besar masa kreatif saya di ruang-ruang yang kini akan dikosongkan, dan sebagai bagian dari komunitas yang merasa seperti kehilangan rumah yang penuh kenangan.

ads

Dewan Kesenian Surabaya (DKS) bersama Galeri DKS dan galeri Merah Putih bukan sekadar bangunan bata dan semen, begitu pula dengan Balai Pemuda Surabaya, tempat yang resmi terdaftar sebagai cagar budaya kota, dengan sejarah panjang yang mengalir seperti nadi kota Surabaya.

Gedung ini dibangun lebih dari 110 tahun lalu tepatnya tahun 1907 oleh arsitek Belanda Westmaes, awalnya bernama “De Simpangsche Societeit” setelah kemerdekaan pada tanggal 12 Desember 1957 gedung ini diserahkan kepada Pemerintah Kota Surabaya dan diberi nama Balai Pemuda, dengan fungsi sebagai balai pertemuan umum dan narkas gerakan pemuda.

Sejak 30 September 1971, setelah didirikan melalui pertemuan bersama walikota Soekotjo Sastrodinoto, sekretariat DKS beserta galeri nya telah berada di sebelah utara Balai Pemuda yang kemudian menjadi Pusat Pagelaran Kesenian Surabaya (PPKS).

Bahkan sebelum itu, pada tahun 1968, Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera) telah menjadikan ruang di Balai Pemuda sebagai tempat berkegiatan, sebagai lembaga pendidikan seni rupa bergaya sanggar yang melahirkan banyak pelaku seni ternama. Hingga tahun 1972-an, Aksera kemudian dipindahkan ke Dukuh Kupang, dan kini bertransformasi menjadi galeri publik untuk karya seniman Surabaya.

Tempat ini bukan hanya menjadi rumah bagi Bengkel Muda Surabaya (BMS) yang membina generasi muda seniman, melainkan lanskap dimana nama nama besar Seniman Surabaya tumbuh dan berkembang. Amang arahman, OH. Supono, Daryono, dan banyak pelukis terkenal lainnya yang pernah meneteskan keringat yang menghiasi lantai-lantai ini dengan warna-warna kehidupan yang indah.

Di dunia musik nama-nama seperti Gombloh, Leo Kristi, Naniel hingga Franky Sahilatua sempat berkumpul dan mencipta di sini. Dan juga tak ketinggalan sastrawan seperti Muhammad Ali yang menemukan suara untuk menyampaikan cerita masyarakat Surabaya juga dari ruang ini.

Balai Pemuda juga menjadi saksi bagi para seniman, ketika tahun 1969 saat Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-7 digelar di Surabaya, para seniman Aksera yang berkumpul di Balai Pemuda bekerja tanpa lelah untuk membuat spanduk, tulisan, dan karya seni yang memeriahkan acara besar tersebut.

Ini membuktikan bahwa seni bukan hanya tentang karya, tapi juga tentang cinta tanah air serta kontribusi nyata.

Dulu tempat ini adalah tempat singgah bagi seniman dari berbagai generasi dan dari berbagai kota di tanah air, mereka datang bukan hanya untuk pamer, tapi untuk berbagi, menginspirasi, dan membuktikan bahwa Surabaya adalah rumah bagi kreatifitas yang besar.

Tak hanya ruang-ruang untuk berkarya, Balai Pemuda juga memiliki hati yang berdenyut, sebuah kantin yang dikelola oleh Mak Ning (begitulah kami sering memanggilnya) seorang janda tua yang telah melayani sejak tahun 1970an, ia selalu menghidangkan makanan hangat untuk para seniman dan juga supir dan para pegawai DPRD Surabaya.

Ketika surat perintah pengosongan tiba di tangannya yang gemetar saat ia membacanya, dan air mata yang tak dirasakan nenetes di pipinya “Saya sudah menganggap tempat ini sebagai rumah saya”, ujarnya dengan suara gemetar.

Selama puluhan tahun kantin ini bukan hanya sumber nafkah, tapi juga tempat di mana cerita-cerita terlontar dalam berbagi, kekhawatiran dan harapan diutarakan, dan tawa bersama mengisi sudut kecil yang penuh kehangatan itu, kini ia bingung harus kemana dan bagaimana untuk mencari nafkah setelah semua yang sudah ia kenal selama bertahun-tahun harus ditinggalkan.

Untuk saya pribadi, di Galeri DKS di Komplek Balai Pemuda adalah tempat dimana saya pertama kali menunjukkan karya saya kepada publik. Di sana saya banyak belajar dan menemukan bahwa seni bukan hanya tentang lulusan, patung, musik, tari, atau kata-kata, tapi tentang menyampaikan suara kota kita.

Setiap sudut ruangan itu menyimpan cerita dari ungkapan karya yang terlukis di kanvas, hingga nyanyian yang menyuarakan harapan rakyat serta puisi-puisi yang mengabadikan jiwa kota. Bahkan lezatnya masakan Mak Ning yang selalu mengisi hari-hari yang penuh tawa telah menjadi bagian dari kenangan kita tentang rumah ini.

Kabar bahwa tempat-tempat ini akan dikosongkan tentu kita bingung dan membuat kita sedih. Sebuah keputusan yang tampaknya berasal dari pihak yang ‘maaf’ tidak mengerti akan sejarah panjang dan kontribusi yang telah diberikan oleh insan seni Surabaya selama lebih dari setengah abad.

Di mana kita akan bertemu? Di mana karya arek-arak Suroboyo akan bisa dilihat oleh masyarakat? Di mana para seniman itu akan hidup dan tumbuh? Dan di mana Mak Ning yang selalu melayani makanan hangatnya yang sudah menjadi bagian dari kehidupan para seniman?

Bukankah undang-undang no. 5 tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan jelas menyatakan bahwa Pemerintah Daerah memiliki kewajiban untuk memfasilitasi dan memajukan kebudayaan. Yang di dalamnya termasuk menyediakan fasilitas fisik dan anggaran dana, namun tindakan pengusiran ini seolah-olah mengabaikan mandat tersebut.

Pak walikota yang saya cintai, seniman bisa menjadi duta terbaik bagi Surabaya, Karya-karya mereka bisa membawa nama kota Surabaya ke berbagai tempat, menarik perhatian dunia pada kekayaan budaya kita. Tapi bagaimana bisa kita melakukannya tanpa tempat yang bisa kita sebut sebagai ‘milik kita sendiri’, apalagi tempat tersebut adalah bagian dari cagar budaya yang telah menyaksikan perjuangan dan perkembangan kota Surabaya selama puluhan tahun?

Bagaimana bisa sebuah kota membangun masa depannya dengan menggusur bagian penting dari dirinya sendiri?

Saya dan para insan seni kota Surabaya berharap, pemerintah Kota Surabaya bisa melihat betapa berharganya warisan ini. Balai Pemuda, DKS dan tempat-tempat seni lainnya, tak terkecuali kantin Mak Ning, bukanlah beban, melainkan aset berharga yang telah mengangkat martabat kita Surabaya selama bertahun-tahun, mari kita mencari solusi bersama.

Pak walikota yang saya cintai, Surabaya layak punya seniman yang berkembang, seniman layak punya rumah di kotanya sendiri yang mereka cintai, dan setiap orang yang telah mengabdikan hidupnya untuk merawat tempat ini layak mendapatkan wadah untuk terus hidup dan berkontribusi.

Demikian saya sampaikan surat ini dengan harapan yang tulus dari hati yang dalam. Balai Pemuda, Dewan Kesenian Surabaya, Bengkel Muda Surabaya dan semua ruang kreatifnya itu adalah jantung kebudayaan Surabaya, bukan hanya cagar budaya yang punya sejarah panjang, tapi juga rumah buat saya dan teman-teman seniman lainnya, bahkan jadi tempat penghidupan buat orang seperti Makning yang sudah begitu lama merawat tempat itu.

Sekali lagi saya memohon dan sangat berharap Bapak Walikota Surabaya bisa memperhatikan hal ini.

Semoga kita bisa cari jalan keluar bersama yang bisa menghargai sejarahnya. Atas perhatian dan kebijaksanaannya saya ucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya.

Surabaya, 30 Maret 2026

*Hamid Nabhan Seniman

27

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini