Prosesi rangkaian peringatan 1 Suro di kompleks makam Nyai Andongsari, Gunung Ratu.

bongkah.id – Narasi tentang asal-usul Mahapatih Gajah Mada kembali mencuat setelah temuan dan tradisi di Gunung Ratu, Ngimbang, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, menjadi pusat diskusi sejarah dan budaya.

Situs ini kini disebut bukan sekadar legenda, tetapi berpotensi membuka perspektif baru tentang masa kecil figur legendaris kerajaan Majapahit.

ads

Menurut Rudi Hariono, pemerhati budaya Nusantara, sintesis antara bukti material dan cerita rakyat membuat Gunung Ratu relevan untuk kajian sejarah yang lebih luas.

“Gunung Ratu Ngimbang bukan sekadar situs legenda, melainkan simpul sejarah yang memperlihatkan bagaimana catatan resmi kerajaan Majapahit, pakem cerita rakyat, dan bukti arkeologis saling melengkapi,” katanya, Jumat (27/02/2026).

Rudi mengulas bahwa catatan sejarah klasik seperti Nagarakretagama dan Pararaton memang mencatat kiprah Gajah Mada sebagai mahapatih yang mengucapkan Sumpah Palapa dan mendirikan caitya untuk Raja Kertanegara sekitar tahun 1351 Masehi, namun dokumen-dokumen tersebut tidak secara tegas menjelaskan asal-usul biologisnya.

Narasi lokal menjelaskan bahwa Tribhuwaneswari — permaisuri utama Raden Wijaya — difitnah dan diasingkan ke Gunung Ratu dengan nama Dewi Andongsari, lalu melahirkan Gajah Mada di sana.

Arkeolog Wicaksono Dwi Nugroho menambahkan perspektif ilmiah terhadap temuan ini.

Ia menegaskan bahwa bukti-bukti artefak di Gunung Ratu, seperti makam purba, pecahan keramik, dan bata merah khas periode Majapahit, menunjukkan bahwa wilayah ini pernah menjadi “perkampungan bangsawan Singosari–Majapahit”.

“Temuan tersebut memperkuat keterhubungan antara tradisi lisan dan catatan sejarah resmi, bukan sekadar kisah rakyat tanpa dasar,” ujar Wicaksono.

Pendapat Wicaksono memberi bobot akademik pada interpretasi situs ini sebagai lebih dari sekedar lokasi cerita rakyat.

Bukti-bukti fisik itu menjadi landasan awal untuk melihat Gunung Ratu sebagai area permukiman besar pada masa lalu — sebuah “prasasti hidup” yang menyatukan bukti arkeologis dengan narasi tradisi lokal.

Cerita rakyat yang hidup di masyarakat Lamongan juga memberi dimensi human interest pada wacana sejarah ini.

Banyak warga setempat yang menjaga tradisi ritual di Sendang Tujuh dan makam yang diyakini terkait dengan legenda Dewi Andongsari, menunjukkan hubungan emosional masyarakat terhadap kisah tersebut.

Temuan itu bukan hanya memicu diskusi ilmiah, tetapi juga memberi kebanggaan emosional bagi komunitas lokal.

Rudi Hariono menambahkan, “Narasi ini membuka ruang baru bagi generasi muda untuk mengapresiasi sejarah lokal, sehingga sejarah tidak hanya terbatas pada dokumen kerajaan yang jauh di Jawa Timur bagian tengah.”

Upaya untuk menggali sisi ilmiah situs ini mendapat respon beragam.

Beberapa sejarawan mengakui pentingnya bukti cerita rakyat sebagai bagian dari identitas budaya, namun tetap menekankan perlunya penelitian lebih lanjut dengan metode arkeologi formal seperti penanggalan stratigrafi atau penggalian sistematis agar klaim asal-usul Gajah Mada memiliki bukti empiris yang kuat.

Pemkab Lamongan sebelumnya juga telah berupaya mengangkat cerita sejarah lokal seperti ini sebagai modal spirit pembangunan budaya dan pariwisata.

Pemerintah lokal bahkan menjadikan makam Dewi Andongsari dan situs Gunung Ratu sebagai daya tarik sejarah yang bisa memperkaya pengalaman wisatawan sekaligus menjaga tradisi yang telah hidup berabad-abad di Lamongan.

Dengan keterlibatan narasumber dari budaya hingga arkeologi, narasi tentang Gunung Ratu kini berkembang dari sekadar folklore menjadi wacana sejarah yang berlapis.

Hal ini membuka kemungkinan reinterpretasi figur Gajah Mada bukan hanya sebagai mahapatih mahir, tetapi juga sebagai tokoh yang berakar kuat dalam budaya dan memori masyarakat Nusantara. (kim)

5

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini