Di balik rerimbunan pohon pisang bekas Asrama Polri, Ploso, Jombang, kedua jasad ditemukan membujur kaku tak bernyawa.

bongkah.id – Dua jenazah perempuan tanpa busana terbujur kaku di area bekas asrama Polri (Aspol) Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Rabu (25/2/2026).

Keduanya ditemukan tergeletak di dekat tembok tua di bawah rerimbunan pohon pisang. Keduanya mengenaskan dengan kondisi gosong melepuh, mengindikasikan kemungkinan adanya pembakaran sebelum korban meninggal.

ads

Tak jauh dari lokasi kejadian, terdapat motor Yamaha Vega bernomor polisi AG 5053 WO.

Awal penemuan mayat itu pertama kali diketahui warga sekitar pukul 14.30 WIB yang kemudian melapor ke Polsek Ploso dan Satreskrim Polres Jombang.

Sepeda motor Yamaha Vega itulah yang membuka tabir identitas jenazah.

“Saya yakin itu kakak saya, dari motornya dan ciri-cirinya,” ucap Marno Hidayat (31) yang memberanikan diri datang ke kamar jenazah RSUD Jombang pada malam harinya.

Marno mengaku yakin bahwa jenazah itu adalah kakak kandungnya, Sri Kusyanti (36), sementara satu lainnya adalah keponakannya, Tiara (5).

Sri Kusyanti dikenal sebagai buruh tani, warga Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang. Ia menjalani hari-hari sederhana, membesarkan dua anaknya, Tiara yang baru lima tahun, dan seorang anak lain yang kini duduk di bangku kelas II SMP.

Suaminya, Nur Yanto (38), tercatat sebagai warga Kecamatan Gondang, Kabupaten Nganjuk.

Menurut penuturan keluarga, Sri pergi dari rumah pada Selasa (24/2/2026) dini hari. Tak ada firasat aneh sebelumnya. Namun hingga lebih dari 24 jam berlalu, ia tak kunjung pulang dan tak bisa dihubungi.

Nur Yanto akhirnya melaporkan kehilangan itu ke polisi. Keluarga pun bergerak sendiri, menyusuri sejumlah wilayah di Kabupaten Nganjuk—mulai dari Gondang, Rejoso, hingga Kertosono—berharap menemukan jejak.

“Kami sempat berkeliling mencari ke beberapa daerah di Nganjuk, tapi tidak menemukan jejak,” kata Marno.

Jejak itu justru muncul di tempat yang tak pernah mereka bayangkan.

Kasatreskrim Polres Jombang, AKP Dimas Robin Alexander, menjelaskan bahwa proses identifikasi secara ilmiah masih menghadapi kendala. Kondisi sidik jari korban mengalami kerusakan sehingga tidak dapat terbaca melalui sistem forensik.

“Sebagian sidik jarinya rusak, sehingga tidak bisa kami identifikasi melalui sistem,” ujarnya.

Meski demikian, penyelidikan terhadap kendaraan yang ditemukan di lokasi mengarah pada laporan orang hilang yang dibuat dua hari sebelum penemuan jenazah.

“Dari penyelidikan awal, terdapat kecocokan antara laporan orang hilang dengan temuan di lapangan. Dugaan sementara mengarah pada ibu dan anak tersebut,” pungkasnya.

Kini, misteri itu belum sepenuhnya terjawab. Di balik garis polisi dan prosedur autopsi, ada keluarga yang menunggu kepastian dengan dada sesak.

Aparat masih mendalami kasus tersebut, memastikan identitas korban secara ilmiah sekaligus mengungkap penyebab pasti kematian keduanya. (anto)

5

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini