Wakil Ketua DPRD Sidoarjo, Warih Andono, meninjau robohnya atap ruang kelas SMPN 1 Gedangan, Sidoarjo.

bongkah.id – Langkah kaki Wakil Ketua DPRD Sidoarjo, Warih Anggono, terdengar pelan menapaki halaman SMPN 1 Gedangan, Sidoarjo, Senin (23/2/2026). Pandangannya terhenti pada puing-puing kayu yang berserakan di salah satu ruang kelas.

Di sanalah, tiga hari sebelumnya, atap bangunan itu roboh, ambruk bukan oleh angin atau hujan, melainkan oleh waktu yang diam-diam menggerogoti.

ads

Peristiwa ambruknya atap itu pada Jumat (20/2/2026) sekitar pukul 09.00 WIB. Beruntung, kegiatan belajar mengajar sedang libur.

Tidak ada siswa, tidak ada guru di dalam kelas ketika rangka atap runtuh dan menghantam lantai. Ruangan yang biasanya dipenuhi suara pelajaran mendadak berubah sunyi oleh serpihan kayu dan debu.

Dari penelusuran awal, Warih Anggono menduga penyebabnya bukan faktor cuaca atau bencana alam. Struktur bangunan yang telah rapuh menjadi sumber persoalan.

Rangka kayu penyangga atap diduga lama digerogoti rayap. Pelapukan yang tak kasatmata itu perlahan melemahkan kekuatan, hingga akhirnya tak lagi mampu menahan beban.

“Kami sangat prihatin. Seharusnya kejadian ini bisa dicegah jika ada pemetaan dan pengecekan rutin terhadap bangunan sekolah yang sudah berusia,” ujar Warih di sela inspeksi mendadaknya.

Ia menunjuk bagian rangka yang tersisa. Hampir seluruh kayu tampak keropos, kehilangan daya dukung. Serangan rayap disebutnya telah merusak struktur secara menyeluruh, membuat bangunan kehilangan kekokohan sebelum akhirnya runtuh.

DPRD pun mendorong Pemerintah Kabupaten Sidoarjo melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap bangunan sekolah lain.

Kekhawatiran muncul: jangan sampai ada ruang belajar lain yang menyimpan ancaman serupa.

Kepala sekolah, Aris Setiawan, mengisahkan bahwa tanda-tanda kerusakan sebenarnya sudah terlihat. Plafon ruang kelas itu sempat jatuh lebih dulu. Sekolah segera mengosongkan ruangan dan memindahkan siswa ke laboratorium sebagai langkah antisipasi.

“Pukul 09.00 atap ambruk. Untungnya saat itu kegiatan belajar sedang libur,” katanya.

Hasil rapat antara pihak sekolah, DPRD, dan Dinas Pendidikan menyepakati empat ruang kelas di sekitar lokasi turut dikosongkan sementara waktu. Kekhawatiran akan kerusakan serupa membuat kehati-hatian menjadi pilihan utama.

Untuk menjaga proses belajar tetap berjalan, ruang laboratorium komputer dan laboratorium IPA kini disulap menjadi kelas sementara. Sekolah memastikan pembelajaran daring tidak menjadi opsi, terutama bagi siswa kelas IX yang tengah bersiap menghadapi kelulusan.

Reruntuhan atap itu kini bukan sekadar puing kayu. Ia menjadi penanda bahwa di balik rutinitas pendidikan, ada bangunan yang menua dan perlu dirawat. Sebab keselamatan di ruang kelas semestinya tak pernah menjadi taruhan. (anto)

4

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini