Cho Youngho, WNA asal Korea Selatan jadi mualaf di Gresik

bongkah.id – Ramadan 1447 Hijriah di Kabupaten Gresik Jawa Timur terasa sedikit berbeda. Di sebuah ruangan sederhana di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI), Minggu (22/2/2026), suasana hening menyelimuti prosesi yang tak hanya sakral, tetapi juga menggetarkan hati.

Seorang pria asal Korea Selatan, Cho Youngho (36), duduk dengan tangan sedikit bergetar. Wajahnya tegang, namun sorot matanya menyimpan keyakinan. Di hadapannya, para ulama dan pengurus MUI menyimak dengan khusyuk. Detik itu menjadi titik balik dalam hidupnya.

ads

Saat dua kalimat syahadat dipandu Ketua Umum MUI Kabupaten Gresik, KH Ainur Rofiq Thoyyib, Cho Youngho mengikutinya perlahan, dengan suara yang sempat tercekat. Setiap lafaz yang terucap seakan membuka lembaran baru dalam hidupnya.

“Saudara telah dianggap sebagai muslim yang sah karena telah mengucapkan dua kalimat syahadat,” ujar KH Ainur Rofiq Thoyyib dengan nada lembut namun tegas.

Beberapa hadirin tampak menunduk, ada yang mengusap sudut mata. Ramadan selalu menghadirkan kisah-kisah hidayah, tetapi menyaksikannya secara langsung memberi kesan yang berbeda—lebih dekat, lebih nyata.

Cho Youngho bukanlah sosok yang sejak awal tumbuh dalam lingkungan religius. Sebelum ini, ia tidak menganut agama tertentu.

Sehari-hari ia bekerja di industri perakitan mobil, menjalani rutinitas seperti kebanyakan orang: bekerja, beristirahat, lalu kembali bekerja.

Namun di balik rutinitas itu, ada pencarian panjang yang tak banyak orang tahu.

Ia mulai mengenal Islam dari rasa penasaran sederhana. Dari membaca, berdiskusi, hingga mengamati kehidupan muslim di sekitarnya.

Perlahan, rasa penasaran itu berubah menjadi ketenangan yang sulit ia jelaskan. “Saya merasa tenang dan nyaman ketika mendalami ajaran Islam,” tuturnya pelan.

Bagi Cho, ketenangan itu berbeda. Ada rasa damai yang muncul setiap kali ia mempelajari tentang tauhid, tentang shalat, tentang konsep berserah diri kepada Tuhan. Rasa itulah yang akhirnya menuntunnya melangkah ke Kantor MUI pada hari itu.

KH Ainur Rofiq Thoyyib dalam nasihatnya menyampaikan bahwa iman adalah karunia yang tidak semua orang dapatkan. Ia mengingatkan bahwa setelah syahadat terucap, perjalanan sesungguhnya justru dimulai.

“Sedikit demi sedikit belajar syariat Islam dan menjaga shalat lima waktu. Insyaallah keberkahan akan menyertai,” pesannya.

Usai prosesi, Cho Youngho tampak lebih lega. Senyumnya mengembang, meski matanya masih berkaca-kaca. Ia mengaku terharu dan bahagia.

“Setelah mengucapkan syahadat, saya merasa sangat terharu. Saya ingin terus belajar dan menjaga semangat ini,” katanya.

Di bulan yang identik dengan ampunan dan hidayah, kisah Cho Youngho menjadi potret bahwa pencarian iman adalah perjalanan yang sangat personal.

Ia melintasi batas negara, bahasa, dan budaya, hingga akhirnya menemukan keyakinan yang membuat hatinya tenang. (anto)

2

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini