Syaifullah Mahdi (kiri) dan bandeng piaraannya yang memenangi Kontes Bandeng Kawak 2026

bongkah.id – Selama hampir dua dekade, Syaifullah Mahdi merawat lahan tambak berikut ikan bandeng piaraanya di Desa Pangkahwetan, Kecamatan Ujung Pangkah, Gresik, Jawa Timur.

Ia tak bosan belajar membaca air seperti orang membaca tanda-tanda alam: warna yang menguning tipis, bau yang berubah pelan, hingga riak kecil yang tak biasa.

ads

Dari situlah ia tahu kapan harus mengganti air, kapan harus menahan pakan, dan kapan membiarkan tambak “bernapas”.

“Bandeng itu sensitif. Kalau airnya sudah tua, harus diganti,” kata Syaifullah Mahdi yang juga Ketua DPW PKDI (Persaudaraan Kepala Desa Indonesia) Jawa Timur masa bakti 2025 – 2030.

Ketekunan itu bukan perkara sehari dua hari. Ia merawat satu ekor bandeng unggulan sejak masih kecil, menjaganya melewati musim hujan, kemarau panjang, hingga perubahan cuaca yang tak menentu.

Di saat petambak lain memanen dalam hitungan bulan, ia justru memilih menunggu, tahun demi tahun.

Bandeng itu tidak dibiarkan hidup sendiri. Syaifullah menciptakan ekosistem kecil di dalam tambaknya.

Beberapa bandeng berukuran satu hingga dua kilogram ikut berenang, menjaga keseimbangan alami agar ikan utamanya tetap sehat.Ia merawat bukan hanya ikan, tetapi juga waktu yang menyertainya.

Delapan belas tahun kemudian, ketekunan itu menemukan panggungnya. Bandeng tersebut tampil dalam Kontes Bandeng Kawak pada gelaran Pasar Bandeng Gresik 2026—dan keluar sebagai pemenang pertama, Senin (16/3/2026) malam.

Namun, bagi Syaifullah, kemenangan itu bukan semata tentang ukuran atau berat ikan yang mengundang decak kagum.

Lebih dari itu, ada prestise yang dipertaruhkan, kebanggaan yang dirawat, dan kecintaan yang tumbuh pada tanah kelahirannya.

“Ini bukan sekadar lomba,” ujarnya. “Ini tradisi sejak zaman Sunan Giri.”

Kontes bandeng kawak memang telah lama menjadi bagian dari denyut budaya pesisir Gresik. Ikan-ikan raksasa dari tambak lokal dihadirkan bukan hanya untuk dinilai, tetapi juga untuk merayakan warisan yang telah hidup turun-temurun.

Syaifullah adalah bagian dari cerita panjang itu. Ia sudah mengikuti kontes sejak Pasar Bandeng masih digelar sederhana di pasar krempyeng. Puluhan tahun ia setia hadir, melewati pergantian zaman dan kepemimpinan daerah.

Baginya, merawat bandeng kawak adalah bentuk lain dari menjaga tradisi.
Secara hitungan ekonomi, ia sadar betul langkahnya nyaris tak rasional.

Biaya pakan, pupuk tambak, dan perawatan selama belasan tahun jauh melampaui hadiah yang diterima, bahkan ketika juara pertama bernilai puluhan juta rupiah. Tidak semua hal bisa dihitung dengan angka.

Di Desa Pangkahwetan, bandeng adalah lebih dari sekadar komoditas. Ia adalah identitas. Dari tambak-tambak yang terbentang, bandeng dikirim ke berbagai daerah, bahkan hingga pasar ekspor.

Permintaan yang tinggi kerap membuat pasokan tak pernah benar-benar cukup.
“Kalau orang cari bandeng, biasanya ke Gresik,” kata Syaifullah, yang juga Kades Pangkahwetan.

Di tengah geliat itu, ia berharap ada perhatian yang terus mengalir dan stabilitas harga yang terjaga, fasilitas penyimpanan seperti cold storage, hingga dukungan agar tradisi kontes tetap hidup dan menarik generasi baru.

Sebab pada akhirnya, bandeng kawak bukan hanya tentang siapa yang paling besar.

Ia adalah cerita tentang kesabaran yang dipanjangkan, tentang waktu yang tidak tergesa-gesa, dan tentang seseorang yang memilih bertahan merawat sesuatu yang mungkin baru akan dipanen belasan tahun kemudian.

Dan di tambak itu, di antara air yang terus diperbarui dan musim yang silih berganti, Syaifullah Mahdi telah membuktikan: ketekunan bisa tumbuh sebesar apa pun, selama dirawat dengan sepenuh hati. (anto)

3

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini