bongkah.id – Di sudut-sudut jalan, di antara riuh kendaraan dan lalu-lalang manusia yang terburu-buru, gitar sederhana sering menjadi saksi sebuah kesetiaan yang nyaris tak masuk akal. Kesetiaan itu bernama Ocim.
Nama lengkapnya Mohamad Saefudin, lahir di Bandung, 21 April 1968. Tetapi bagi banyak orang yang mengenalnya di dunia musik jalanan, ia cukup dipanggil Ocim.
Ada pula yang menyebutnya “Ocim Gombloh”, karena hampir seluruh hidupnya seakan menjadi perpanjangan napas dari karya-karya Gombloh.
Sejak kecil, Ocim sudah kehilangan sosok ayah. Ia menjadi anak yatim ketika masih belia. Dalam kesunyian masa kecil itu, musik menjadi pelarian sekaligus pelipur.
Pertemuannya dengan lagu-lagu Gombloh terjadi secara sederhana.
Saat duduk di kelas 5 SD, tetangga di samping rumahnya hampir setiap pagi dan sore memutar kaset Gombloh. Dari sanalah rasa penasaran muncul.
“Waktu itu saya tertarik sekali dengan lagu Berita Cuaca dan album Pesan Buat Kaum Belia,” kenang Ocim. Ketertarikan itu berubah menjadi kecintaan yang nyaris total.
Ketika masuk SMP kelas 2, ia memberanikan diri mendekati seorang tetangganya, almarhum Kang Iwa, yang memiliki koleksi kaset musik.
Di sana ada banyak nama besar: Leo Kristi, Franky Sahilatua, Iwan Fals, Ebiet G. Ade.
Namun bagi Ocim kecil, hanya satu yang benar-benar masuk ke dalam jiwanya, Gombloh.
Ayahnya sempat membelikan sebuah tape recorder. Dari situlah ritual dimulai. Hampir setiap hari kamar Ocim dipenuhi suara lagu-lagu Gombloh.
“Musisi lain seperti tidak diberi ruang di telinga saya,” katanya sambil tertawa kecil.
Duplikat Gombloh
Pelan-pelan, tanpa guru dan tanpa sekolah musik, Ocim belajar gitar secara otodidak. Ia menyerap lagu-lagu Gombloh, menghafal lirik-liriknya, memahami makna di balik diksi yang sederhana tetapi tajam.
Baginya, kekuatan Gombloh ada pada bahasa yang jujur.
“Liriknya sederhana, tapi kritiknya halus. Lagu candaannya lucu, tapi tetap dalam,” kata Ocim.
Beberapa lagu bahkan sering membuatnya larut secara emosional. Salah satunya Murni Perawan Bukit Unggaran.
Suatu kali, ketika menyanyikan lagu itu di sebuah pertunjukan kecil, Ocim tak kuasa menahan tangis. “Saya tidak sadar menangis di atas panggung,” ujarnya.
Lagu-lagu lain seperti Apa Kabar Monika atau Loni Pelacur juga selalu ia bawakan dengan penuh penghayatan. Tak berlebihan jika banyak orang menyebut Ocim sebagai “duplikat Gombloh”.
Hampir semua lagu karya sang legenda ia kuasai. Meski untuk beberapa lagu ia masih sesekali membaca teks lirik.
Namun bagi Ocim, semua itu bukan sekadar nostalgia. Lagu-lagu Gombloh menjadi modal hidupnya. Ketika kemudian memilih menjadi musisi jalanan, gitar dan lagu-lagu itulah yang mengantarnya bertahan.
Ia menyanyi di terminal, di sudut kota, di keramaian pasar, bahkan di pinggir jalan.
Dari sana ia belajar satu hal penting, bahwa karya musik bisa menjadi jembatan persaudaraan.
“Dari lagu-lagu Gombloh saya mendapatkan banyak teman dan saudara,” katanya.
Hari demi hari berlalu. Namun Ocim belum tau bahwa suatu hari nanti kecintaannya pada Gombloh akan membawanya melewati ujian batin yang sangat berat.
Sebuah kabar dari televisi kelak akan mengguncang hidupnya. Dan dari situlah perjalanan spiritual seorang penggemar berubah menjadi kisah kesetiaan yang hampir seperti legenda. (Bersambung) – (kim)



























