Ocim dkk ziarah ke Gombloh di pemakaman Tembok, Surabaya, (10/03/2026).

bongkah.id – Tahun itu Ocim berusia sekitar 20 tahun. Seperti biasa ia mengamen, memainkan gitar sambil menyanyikan lagu-lagu idolanya. Saat itulah sebuah kabar yang tidak pernah ia bayangkan datang.

Melalui siaran televisi nasional, diumumkan bahwa Gombloh telah meninggal dunia pada 9 Januari 1988.

ads

Bagi banyak orang, itu adalah berita duka bagi dunia musik Indonesia. Namun bagi Ocim, itu seperti kiamat.

Ia pulang ke rumah dalam keadaan tidak percaya. Tetapi televisi kembali menyiarkan kabar yang sama. Gombloh benar-benar telah tiada. Seketika pikirannya terguncang.

Sejak saat itu, hidup Ocim berubah drastis. Ia tidak bisa tidur. Dari pagi hingga pagi lagi ia terus bernyanyi keras, melantunkan lagu-lagu Gombloh seakan memanggil idolanya kembali.

Orang-orang di sekitarnya mulai khawatir. Sebagian mengira Ocim telah kehilangan akal sehat. Akhirnya keluarga membawanya ke rumah sakit jiwa. Ia dirawat beberapa waktu sebelum dipulangkan.

Namun keadaan belum berubah. Ocim masih menyanyi tanpa henti. Keluarga bahkan sempat curiga ia mengonsumsi narkoba.

Karena itulah Ocim kemudian dibawa ke Pondok Pesantren Suryalaya di Tasikmalaya, yang dikenal sering menangani rehabilitasi pecandu narkotika.

Setelah beberapa waktu, ia dinyatakan membaik dan diizinkan pulang. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu.

Ocim masih terus bernyanyi. Ia seperti hidup di dalam dunia yang dipenuhi lagu-lagu Gombloh.

Karena kasihan melihat kondisinya, keluarga akhirnya kembali membawanya ke rumah sakit jiwa.

Entah bagaimana proses batin yang ia lalui, suatu hari Ocim akhirnya bisa menerima kenyataan pahit itu, Gombloh benar-benar telah pergi.

Bagi Ocim, sosok Gombloh bukan sekadar musisi. Ia seperti pengganti ayah yang telah lama tiada. Sejak saat itu ia membuat keputusan besar dalam hidupnya. Ia akan merawat karya-karya Gombloh agar tetap hidup.

Di Kota Serang, Banten, tempat ia tinggal sekarang bersama istrinya Witri Lasmi Utami dan dua anaknya, Lazuardi Gilang Gemilang serta Deka Sekar Mayang, Ocim mulai membimbing komunitas pecinta Gombloh. Komunitas itu berkembang pesat.

Setiap tahun, Ocim memiliki satu ritual yang tidak pernah ia lewatkan, yaitu berziarah ke makam idolanya di pemakaman Tembok, Surabaya.

Baginya, ziarah itu seperti “mengisi ulang energi”.

“Saya merasa seperti mendapat tenaga baru setelah dari makam Gombloh,” katanya.

Ritual itu kembali ia jalani ketika menghadiri peringatan Hari Musik Indonesia tahun 2026 di Surabaya. Acara tersebut digelar di kompleks makam Wage Rudolf Soepratman pada 8–9 Maret 2026.

Ocim datang dari Serang, tampil di panggung menyanyikan lagu-lagu Gombloh. Keesokan harinya ia bersama sejumlah pegiat seni Surabaya berziarah ke makam sang legenda.

Mereka membuat lingkaran di sekitar pusara, berdoa bersama, dipimpin oleh Esty dan dilanjutkan oleh Syakun. Ada Dhimas, Indri dan Untung, sesama musisi jalanan.

“Ketika dekat makam Gombloh rasanya tenang sekali,” kata Ocim.

Setelah itu rombongan juga mengunjungi makam Cak Durasim, tokoh ludruk legendaris Surabaya.

Bagi Ocim, semua perjalanan itu bukan sekadar nostalgia. Itu adalah bentuk kesetiaan.
Seorang musisi jalanan yang pernah kehilangan arah, kini justru menjadi penjaga nyala lagu-lagu seorang legenda.

Dan selama gitar masih dipetik di tangannya, nama Gombloh seakan tidak pernah benar-benar pergi. Tinggal di dalam suara Ocim. (kim)

3

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini