
Budi menjelaskan, PMT stunting diberikan pabrikasi susu formula, maka dapat dipastikan bahwa penanganan stunting ini tepat sasaran. Karena susu itu, pasti dikonsumsi oleh balita.
“Alasan kami supaya menggunakan pabrikasi itu gini, kalau pabrikasi berupa susu, itu pasti dan bisa dipastikan, yang akan mengkonsumsi adalah si balita, atau si anak-anak stunting. Karena tidak mungkin diminum orang tuanya, saudaranya atau kakaknya,” tutur Budi memungkasi.
Diberitakan sebelumnya, pada makanan tambahan yang diberikan pada balita stunting, wasting dan ibu hamil (bumil) di Kecamatan Sumobito serta Kecamatan Bareng, balita dan bumil menerima sayur sop yang ada ulatnya. Selain itu bumil di Kecamatan Bareng, mendapatkan susu yang ada ulatnya.
Baca: Makanan Tambahan untuk Cegah Stunting Terkontaminasi Belatung, Begini Sikap Dinkes Jombang
Kades Madiopuro Suwito Hadi mengaku, dari 8 warga penerima bantuan stunting yang mengikuti PPG di kecamatan Sumobito, terdapat dua warganya yang menerima makanan tambahan tidak layak.
“Bantuannya saya tolak saya kembalikan, karena makanannya tidak layak. Bantuan PPG, khususnya bantuan stunting di Desa Madiopuro saya tolak karena tidak layak dimakan,” ujar Suwito, Senin 13 November 2023.
Dari 8 warga masyarakat Desa Madiopuro yang balitanya menderita stunting, semuanya menerima makanan berulat dan tidak layak konsumsi.
“Yang stunting di Desa saya ada 8, Ada dua warga yang makanannya sempat dibuang karena tidak layak dimakan manusia. Yang 6 saya kembalikan,” katanya.
Dia mengaku heran dengan kondisi makanan tambahan untuk perbaikan gizi yang tidak layak konsumsi. Padahal, lanjut Suwito, pemerintah pusat mengucurkan anggaran miiaran rupiah untuk pelaksanaan program ini.
“Pemerintah pusat memberikan biaya untuk stunting itu bukan jutaan, tapi miliaran khusus untuk mengentas masalah stunting. Tapi pemerintah daerah memberikan bantuan makanan untuk stunting tidak layak konsumsi, ini sangat memalukan,” tandas Suwito. (ima)