Taman Bhinneka berlokasi di Jalan Medokan Keputih No. 29, Kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya. (ist)

bongkah.id – Di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks dan pengaruh global yang terus masuk ke Indonesia, sebuah ruang edukasi kebangsaan hadir di Kota Surabaya bernama Taman Bhinneka Nusantara Creativity Center.

Taman tematik tersebut dirancang sebagai ruang pembelajaran publik tentang nilai keberagaman, toleransi, dan semangat kebangsaan Indonesia.

ads

Taman Bhinneka berlokasi di Jalan Medokan Keputih No. 29, Kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya.

Kawasan ini berada di lingkungan kegiatan sosial Yayasan Pondok Kasih, sebuah lembaga sosial yang sejak lama dikenal aktif dalam kegiatan kemanusiaan, pendidikan, serta dialog lintas agama di Surabaya.

Kehadiran taman ini bukan sekadar menghadirkan ruang wisata baru, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi masyarakat untuk memahami kembali makna semboyan nasional Bhinneka Tunggal Ika. Demikian reportase rajapatni.com edisi 13 Maret 2026.

Melalui pendekatan budaya dan visual, pengunjung diajak melihat langsung bagaimana keragaman budaya, suku, dan agama dapat hidup berdampingan dalam satu ruang yang sama.

Miniatur Indonesia dalam Satu Taman

Konsep utama Taman Bhinneka adalah menghadirkan gambaran kecil tentang Indonesia. Di dalam kawasan ini dibangun berbagai miniatur rumah adat dari sejumlah daerah di Nusantara, mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua.

Setiap miniatur rumah adat dilengkapi dengan informasi mengenai latar belakang budaya dan sejarah daerah tersebut.

Selain rumah adat, taman ini juga menampilkan miniatur rumah ibadah dari berbagai agama yang ada di Indonesia.

Simbol-simbol keagamaan tersebut ditempatkan berdampingan sebagai representasi bahwa masyarakat Indonesia hidup dalam keberagaman keyakinan.

Tidak hanya itu, kawasan taman juga dilengkapi berbagai fasilitas edukatif seperti amphitheatre terbuka untuk pertunjukan seni dan diskusi kebangsaan, taman budaya Nusantara, ruang pertemuan komunitas, perpustakaan lintas agama, hingga area pertanian perkotaan atau urban farming yang dimanfaatkan sebagai media pembelajaran lingkungan.

Dengan konsep tersebut, Taman Bhinneka dirancang bukan hanya sebagai tempat rekreasi, tetapi sebagai laboratorium sosial yang memperkenalkan nilai toleransi dan keberagaman kepada masyarakat.

Latar Belakang Pembangunan

Taman ini digagas oleh pendiri Yayasan Pondok Kasih, Dr. Hana Amalia Vandayani, seorang aktivis sosial yang selama puluhan tahun aktif dalam gerakan kemanusiaan dan dialog lintas agama di Surabaya.

Menurut Hana, pembangunan taman ini berangkat dari keinginan menghadirkan ruang publik yang dapat menjadi sarana pendidikan kebangsaan bagi masyarakat.

“Taman Bhinneka merupakan wujud nyata nilai-nilai Pancasila. Di sini agama, budaya, dan kehidupan sosial dapat hidup berdampingan dalam harmoni,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa taman ini diharapkan menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda agar memahami bahwa Indonesia sejak awal berdiri di atas fondasi keberagaman.

Bagi Hana, keberagaman bukan sekadar slogan politik, tetapi realitas sosial yang harus terus dirawat melalui pendidikan dan pengalaman langsung di ruang publik.

Keberadaan Taman Bhinneka menjadi relevan di tengah perubahan sosial yang cepat dan masuknya berbagai pengaruh ideologi serta budaya dari luar negeri.

Dalam konteks ini, ruang-ruang edukasi kebangsaan menjadi penting untuk mengingatkan masyarakat pada fondasi dasar negara.

Ketua Yayasan Pondok Kasih, Dr. Hana Amalia Vandayani, aktivis sosial, pemrakarsa Taman Bhinneka.

Pemikir kebangsaan Yudi Latif menjelaskan bahwa Pancasila lahir sebagai titik temu berbagai keyakinan dan pandangan yang hidup di Nusantara.

“Pancasila merupakan konsensus kebangsaan yang memungkinkan semua kelompok hidup bersama tanpa dominasi identitas tertentu,” kata Yudi Latif dalam sejumlah forum diskusi kebangsaan.

Secara historis, semangat tersebut terlihat jelas dalam proses perumusan dasar negara oleh Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia menjelang kemerdekaan Republik Indonesia pada 1945.

Dalam sidang tersebut, para tokoh bangsa yang berasal dari latar belakang agama dan ideologi yang berbeda melakukan perdebatan panjang untuk mencari rumusan dasar negara yang mampu mempersatukan bangsa.

Salah satu keputusan penting yang dihasilkan adalah perubahan rumusan sila pertama yang sebelumnya memuat frasa yang dianggap terlalu merepresentasikan satu kelompok agama.

Rumusan tersebut kemudian diganti menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Keputusan ini menjadi tonggak penting dalam sejarah bangsa karena menunjukkan bahwa para pendiri negara lebih mengutamakan persatuan nasional dibandingkan kepentingan kelompok tertentu.

Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, Mohammad Hatta, dalam berbagai catatan sejarah menjelaskan bahwa perubahan tersebut dilakukan untuk menjaga keutuhan bangsa yang baru lahir.

“Persatuan nasional harus ditempatkan di atas kepentingan golongan,” tulis Hatta ketika menjelaskan proses lahirnya konstitusi Indonesia.

Ruang Pembelajaran Toleransi

Kehadiran Taman Bhinneka di Surabaya menjadi contoh bagaimana nilai kebangsaan dapat diperkenalkan melalui pendekatan budaya dan pendidikan publik.

Pengunjung tidak hanya melihat simbol-simbol keberagaman, tetapi juga diajak memahami bahwa Indonesia dibangun sebagai rumah bersama bagi berbagai suku, agama, dan budaya.

Ruang seperti ini menjadi penting terutama bagi generasi muda yang hidup di tengah arus globalisasi, ketika berbagai identitas dan pengaruh budaya luar semakin mudah masuk ke dalam kehidupan sosial masyarakat.

Melalui simbol-simbol budaya yang berdampingan dalam satu kawasan, Taman Bhinneka menghadirkan pesan sederhana namun mendalam, bahwa keberagaman bukanlah ancaman bagi bangsa Indonesia, melainkan kekuatan yang sejak awal menjadi fondasi berdirinya republik ini.

Dengan demikian, taman ini tidak hanya menjadi destinasi wisata edukasi baru di Surabaya, tetapi juga menjadi pengingat bahwa semangat Bhinneka Tunggal Ika tetap relevan dan perlu terus dirawat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (kim)

6

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini