Ir Nurul Huda M. Agr, Ketua Paguyuban Batik Sidoarjo (Pabis) 2009-2026.

bongkah.id – Di sebuah ruang kerja sederhana di Dusun Jetis, Kelurahan Lemahputro, Sidoarjo, Jawa Timur, aroma malam panas dan kain mori yang baru dijemur menyatu dengan cerita masa lalu.

Di sanalah pemuda 22 tahun, Nurul Huda, berdiri. Sesekali ia memerhatikan garis lilin yang mengalir dari canting di tangannya, di awal ia belajar membatik.

ads

Kini, Ir Nurul Huda M.Agr (65), jadi ikon perajin batik Sidoarjo. Semangatnya melestarikan batik Sidoarjo tak padam. Apalagi ia dipercaya sebagai Ketua Paguyuban Batik Sidoarjo (Pabis) 2009-2026, yang membawahi sekitar 70 perajin batik di Sidoarjo.

Secara motif, batik Sidoarjo memiliki tiga motif khas, yakni motif Udang dan Bandeng, lalu motif Kembang Tebu, dan motif Beras Kutah, sebagai simbol kesejahteraan yang lekat dengan identitas daerah.

“Batik bukan sekadar kain bermotif, melainkan jejak panjang kebudayaan yang terus hidup,” katanya berfilosofi.

Pemilik Rumah Batik Tulis Al Huda di Sidokare Asri AW 18, Kelurahan Sepande, Sidoarjo, itu menegaskan, batik Sidoarjo bukanlah tradisi yang muncul belakangan. Ia menyimpan sejarah yang jauh lebih panjang dari yang dibayangkan banyak orang.

“Batik Sidoarjo itu sudah ada sejak zaman Sidoarjo bernama Sidokare. Ini bukan budaya baru, melainkan warisan turun-temurun yang panjang,” ujar Nurul Huda yang juga dosen di Fakultas Pertanian Universitas Merdeka (Unmer) Surabaya.

Menurutnya, perkembangan batik di Sidoarjo tidak bisa dilepaskan dari dinamika kehidupan masyarakat pada masa lalu.

Ia menuturkan kisah tentang Mbah Mulyadi, tokoh yang membangun pusat aktivitas masyarakat melalui pasar, permukiman Kauman, serta Masjid Al Abror. Dari ruang-ruang sosial itulah batik Sidoarjo perlahan tumbuh.

Konsep kehidupan kota saat itu, kata Huda, mengikuti pola khas kota Jawa lama: masjid sebagai pusat spiritual, pasar sebagai denyut ekonomi, dan kampung Kauman sebagai ruang hidup masyarakat religius.

“Konsepnya waktu itu jelas, ada masjid, ada pasar, dan kampung Kauman. Itu konsep kota Jawa tempo dulu,” katanya berfilosofi.

Dari lingkungan tersebut masyarakat mulai belajar membatik, menjadikannya bagian dari aktivitas keseharian sekaligus ekspresi budaya.

Secara karakter, batik Sidoarjo dikenal sebagai batik pedalaman. Motifnya cenderung bernuansa keraton dengan warna cokelat dan hitam yang lembut.

Namun seiring waktu, arus perdagangan membawa pengaruh baru. Pedagang dari Madura yang datang ke wilayah pesisir membawa selera warna yang lebih terang. Perjumpaan budaya itu melahirkan ragam motif pesisir yang lebih cerah.

Selain pengaruh budaya, Huda menjelaskan karakter warna batik juga dipengaruhi kondisi alam setempat, terutama kandungan air yang digunakan dalam proses pewarnaan.

Setelah batik Indonesia diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia, eksplorasi warna semakin berkembang. Batik Sidoarjo pun ikut mengalami dinamika tersebut. Meski begitu, karakter warna pedalaman dan pesisir tetap dipertahankan sebagai identitas.

Namun perjalanan melestarikan batik tidak selalu mudah. Nurul Huda mengakui, tantangan terbesar saat ini datang dari perubahan pilihan generasi muda.

Banyak anak muda lebih tertarik bekerja di sektor industri dibanding menekuni kerajinan tradisional yang menuntut kesabaran.

Karena itu, ia memilih membuka ruang belajar bagi generasi muda. Di Rumah Batik Al Huda, siswa dan mahasiswa dari berbagai sekolah dan perguran tinggi diajak mengenal proses membatik dari awal hingga akhir.

Mereka belajar mendesain motif, menyanting kain, mewarnai, hingga menghilangkan malam dengan merebus kain.

“Kami ajarkan mulai mendesain, membatik, proses pewarnaan, menghilangkan malam dengan merebus kain hingga menjadi batik,” papar Huda.

Bagi Nurul Huda, upaya mengenalkan batik kepada generasi muda bukan sekadar kegiatan pelatihan. Di dalamnya ada harapan agar kearifan lokal tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Ia percaya, ketika budaya tetap dijaga, maka kehidupan ekonomi masyarakat juga ikut bergerak. “Kalau budaya hidup, ekonomi kerakyatan juga ikut terangkat,” katanya.

Di tangan-tangan yang belajar memegang canting itu, jejak panjang batik Sidoarjo seolah kembali menemukan masa depannya.

Kain yang semula putih perlahan berubah menjadi cerita—tentang sejarah, kesabaran, dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. (anto)

7

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini