bongkah.id — Perupa Welldo Wnopringgo menggelar pameran tunggal ke-9 bertajuk “Tubuh-Tubuh Spiritual” di Galeri Prabangkara, Taman Budaya Jawa Timur, Jl. Gentengkali, Surabaya.
Pameran ini menjadi salah satu agenda yang turut meramaikan Pekan Seni Rupa Jawa Timur, menghadirkan karya-karya yang mengeksplorasi relasi tubuh manusia dengan dimensi spiritual dan semesta.
Dalam karya-karyanya, Welldo memandang penciptaan seni sebagai manifestasi keseimbangan antara alam kecil—yakni diri manusia—dan alam besar, yaitu semesta.
Figur-figur manusia dalam lukisannya tidak sekadar hadir sebagai representasi visual, tetapi menjadi medium untuk membaca mekanisme kehidupan yang penuh keteraturan sekaligus kejutan.
“Ketika kita menatap karya-karyanya, kita tidak hanya melihat sosok manusia, tetapi juga mekanisme alam yang bekerja—penuh nyawa dan dinamika,” tutur Agus Koecink, dosen senirupa STKW Surabaya.
Selaku kurator Agus Koecink mengungkapkan, dirinya telah mengenal Welldo sejak 1988 di Surabaya. Keduanya kembali bertemu saat sama-sama berproses di Bali, sebelum akhirnya kembali ke Surabaya.
Dari perjalanan panjang itu, Agus melihat konsistensi sekaligus perkembangan eksplorasi visual Welldo.
“Di studionya terdapat sekitar 600 gambar hitam putih di atas kertas, serta karya lukis lama dan baru yang terarsip dengan baik.
Periode Bali hingga Surabaya memperlihatkan bagaimana ia merespons fenomena sosial, spiritual, budaya, hingga politik,” ujar Agus.
Tubuh sebagai Medan Spiritual
Dari karya yang ditampilkan, tampak kecenderungan Welldo menggunakan figur manusia sebagai simbol kompleksitas batin.
Dalam salah satu lukisan, sosok manusia yang terikat pada kursi dengan lilitan tali menggambarkan keterjebakan, baik secara sosial maupun psikologis.
Di atasnya, figur bayi yang “mencair” memberi kesan rapuh sekaligus lahirnya kesadaran baru, sementara figur perempuan pucat di sampingnya menghadirkan nuansa dualitas antara kehidupan dan kehampaan.
Komposisi warna kontras—kuning, biru dan merah—membangun ketegangan emosional yang kuat.
Elemen-elemen surealis ini memperlihatkan bagaimana tubuh tidak lagi sekadar fisik melainkan ruang pertemuan antara trauma, harapan dan spiritualitas.

Pada karya lain, tubuh-tubuh perempuan ditampilkan dalam deformasi bentuk dengan latar penuh simbol. Ada gestur yang sensual namun juga getir, seakan menegaskan tubuh sebagai ruang pengalaman, baik personal maupun kolektif.
Tulisan-tulisan yang muncul di kanvas menambah lapisan makna, seperti fragmen pikiran atau suara batin yang tidak sepenuhnya terucap.
Secara keseluruhan, karya-karya Welldo memperlihatkan kecenderungan ekspresionisme dengan sentuhan surealisme.
Ia tidak hanya mengolah bentuk, tetapi juga membangun narasi psikologis yang dalam.
Tubuh dalam lukisannya menjadi “medan spiritual”—tempat di mana manusia bernegosiasi dengan dirinya sendiri dan semesta.
Ajakan Menengok ke Dalam
Welldo mengajak publik untuk menengok ke dalam diri. Pameran ini bukan sekadar perayaan visual tetapi juga refleksi atas perjalanan hidup manusia dengan segala luka, harapan, dan kesadaran yang menyertainya.
Lewat kanvas-kanvasnya yang digelar pada 15 – 21 April 2026, pengunjung diajak merayakan kemanusiaan sekaligus menyadari bahwa dalam setiap gerak tubuh, ada jiwa yang terus bergerak dalam harmoni semesta. (kim)




























