bongkah.id – Di balik meja rias yang penuh kuas dan botol perawatan, di antara pola busana yang digambar dengan presisi, lahir ketekunan yang tak selalu terlihat publik.
Rabu (11/2/2026), SMKN 1 Sooko kembali menjadi titik temu talenta-talenta terbaik dalam Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Tata Kecantikan Kulit dan Rambut tingkat kabupaten/kota Mojokerto.
Sejak pagi hingga sore, ruang-ruang praktik di sekolah yang beralamat di Jalan Raya Basuni itu dipenuhi konsentrasi.
LKS bukan sekadar perlombaan tahunan, melainkan ruang uji bagi kualitas pendidikan vokasi—sejauh mana keterampilan siswa berkembang dan siap diuji di panggung lebih luas.
Tahun ini, SMKN 1 Sooko menurunkan dua andalannya: Yuni Ayunda, kelas XII, pada cabang Fashion Teknologi, serta Jadidah Vania Rabbani, juga kelas XII, di bidang Beauty Therapy. Keduanya bukan pendatang baru dalam atmosfer kompetisi.
Pada 2025, mereka telah merasakan atmosfer persaingan tingkat provinsi, pengalaman yang memperkaya teknik sekaligus menguatkan mental bertanding.
“Untuk tingkat provinsi, anak-anak sudah sering menang,” ungkap Kurnia, guru yang juga menjabat Humas sekolah, didampingi Bu Endang selaku pengajar setempat. “Yang belum pernah adalah tampil di tingkat nasional. Itu target besar kami.”
Kompetisi Fashion Teknologi diikuti lima peserta dari SMKN 1 Sooko, SMKN Jatirogo, SMK Baburrahman, dan SMK Thoriqul Ulum.
Sementara cabang Beauty Therapy menghadirkan peserta dari SMKN Pungging, SMK Pemuda, SMK Kutorejo, serta tuan rumah SMKN 1 Sooko. Ajang ini menjadi gerbang seleksi untuk menentukan wakil terbaik menuju tingkat provinsi.
Secara nasional, LKS SMK dirancang sebagai instrumen peningkatan mutu pendidikan vokasi.
Data Kementerian Pendidikan menunjukkan bahwa penguatan kompetensi berbasis praktik menjadi kunci agar lulusan SMK adaptif terhadap kebutuhan industri.
Bidang kecantikan dan fashion sendiri termasuk sektor yang terus berkembang, seiring pertumbuhan industri kreatif dan jasa perawatan diri di Indonesia.
Di SMKN 1 Sooko, kesiapan itu dibangun melalui pendampingan intensif. Para peserta mendapat program khusus penguatan skill sebelum lomba berlangsung.
Latihan teknis dipadukan dengan pembinaan mental agar siswa tidak hanya piawai secara praktik tetapi juga percaya diri menghadapi dewan juri.
“Kompetisi ini untuk menjaring pemenang tingkat kabupaten/kota,” kata Kurnia. “Namun yang terpenting, anak-anak belajar tentang proses, ketelitian dan tanggung jawab atas karya mereka.”
Prestasi yang berulang di tingkat provinsi bukan kebetulan. Ia adalah hasil konsistensi—kolaborasi guru dan siswa yang percaya bahwa keterampilan adalah investasi masa depan.
Dari ruang praktik sederhana di Sooko, harapan itu terus dirawat. Suatu saat, nama mereka tak hanya bergema di Jawa Timur, tetapi juga di panggung nasional. (kim)




























