Ketua PWI Jawa Timur, Lutfil Hakim, Rokimdakas (eks Surabaya Post) dan Riamah M. Doulat (Liberty) masing-masing membacakan karya puisinya di Gedung PWI Jatim, Jumat (13 Februari 2026).

bongkah.id – Di tengah riuh peringatan Hari Pers 2026, ruang pertemuan di Gedung Persatuan Wartawan Indonesia Jawa Timur, Jumat (13/2/2026), terasa berbeda. Bukan sekadar seremoni, melainkan perayaan daya hidup kata-kata.

Komunitas Wartawan Usia Emas (Warumas) meluncurkan buku antologi puisi kedelapan mereka bertajuk Tanpa Jeda — sebuah penegasan bahwa kreativitas tak mengenal pensiun.

ads

Sebanyak 19 penulis terlibat dalam buku setebal 160 halaman itu. Sebagian besar adalah wartawan “sepuh” yang rata-rata telah mengabdi sekitar 40 tahun di dunia jurnalistik.

Sebanyak 19 penulis terlibat dalam buku setebal 160 halaman itu. Sebagian besar adalah wartawan “sepuh” yang rata-rata telah mengabdi sekitar 40 tahun di dunia jurnalistik

Mereka menyebut diri Warumas, singkatan dari wartawan usia emas. Sejak terbentuk pada masa pandemi COVID-19, komunitas ini telah konsisten menerbitkan delapan antologi puisi, dimulai dari Kutulis Puisi Ini yang diluncurkan di kampus Untag Surabaya.

Ketua PWI Jawa Timur, Lutfil Hakim, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam. “Tidak semua wartawan bisa menulis puisi, tetapi seorang penyair akan lebih mudah menulis jurnalistik. Nah, mereka ini kebetulan sastrawan yang berprofesi sebagai wartawan,” ujarnya.

Pernyataan itu menjadi penegas bahwa disiplin jurnalistik dan kedalaman sastra sejatinya saling menguatkan.

Ketua Dewan Pakar PWI Pusat, Dr. Dimam Abror Djuraid, menilai setiap puisi dalam “Tanpa Jeda” adalah upaya mengabadikan momen-momen yang kerap luput dari ingatan publik. “Di dalamnya ada jejak pengalaman panjang, ada refleksi, ada kesadaran,” tuturnya.

Senada, Wakil Direktur Uji Kompetensi Wartawan PWI Pusat, Dr. Eko Pamuji, menyebut para penulis dalam buku ini sebagai “wartawan tulen”.

“Bagi saya, wartawan tulen tidak pernah benar-benar berhenti bekerja. Mereka hanya mengganti cara bekerja, dan hasilnya disimpan dalam bentuk puisi,” katanya.

Kalimat itu seperti merangkum semangat Tanpa Jeda: bekerja tanpa henti, hanya medium yang berubah. Nama-nama yang berkontribusi dalam antologi ini bukanlah sosok asing di dunia pers Jawa Timur dan nasional.

Ada Sasetyo Wilutomo (eks Penyebar Semangat dan SCTV), Amang Mawardi (Terbit dan Jawa Pos Group), Adam A. Chevni (Bisnis Indonesia), Imung Mulyanto dan Rokimdakas (Surabaya Post).

Juga mencatat Kris Maryono (pensiunan RRI Surabaya), Ariyoko (Republika), A. Pramudito dan Herry Siswanto (Surya), Ida Noershanty Nicholas (Warta Ekonomi), Riamah M. Doulat (Liberty), Toto Sonata (Suara Indonesia), hingga Widodo Basuki (Jayabaya).

Sejumlah penulis tamu seperti Sapto Anggoro, Poedianto, Nunung Harso, Sidiarto, Suhartatik, dan Hidayatur Rachman turut memberi warna.

Bagi Sasetyo Wilutomo, peluncuran ini adalah “reuni dalam bentuk kekaryaan.” Ungkapan itu terasa tepat. Mereka mungkin telah melepas rutinitas liputan harian, namun tidak pernah melepaskan panggilan batin untuk merekam zaman.

Secara edukatif, kehadiran “Tanpa Jeda” menjadi pengingat bahwa literasi bukan sekadar urusan generasi muda. Justru pengalaman panjang para wartawan senior menyimpan kekayaan perspektif yang tak tergantikan.

Dalam puisi-puisi itu, fakta yang dahulu disajikan dalam berita menjelma renungan yang lebih personal dan spiritual.

Tidak Kenal Pensiun

Secara inspiratif, Warumas menunjukkan bahwa produktivitas kreatif dapat terus menyala di usia senja. Tidak ada kata pensiun bagi gagasan. Yang ada hanyalah transformasi cara menyampaikannya.

Secara spiritual, “Tanpa Jeda” adalah ikhtiar merawat makna. Ketika berita bersifat cepat dan sementara, puisi memberi ruang hening untuk merenung.

Dari ruang itulah para wartawan usia emas ini membuktikan bahwa pengabdian pada kata dan kebenaran dapat terus berlanjut — tanpa jeda. (kim)

7

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini