
bongkah.id – Sebanyak tiga orang dari 430 warga dari luar kota Sidoarjo yang wajib uji cepat antigen, ditetapkan harus melakukan isolasi di tempat yang disediakan Pemkab Sidoarjo, Hotel Delta Sinar Mayang, Jalan Raya Diponegoro, Sidoarjo. Ini karena hasil uji usapnya di pos erbatasan Kota Sidoarjo menunjukkan hasil reaktif.
Hal itu diketahui saat petugas melakukan razia bagi masyarakat luar kota yang hendak masuk ke Kabupaten Sidoarjo di pos perbatasan Jalan Raya Waru, Sidoarjo, Jumat (12/2/2021).
Sebagaimana diketahui, Polresta Sidoajo memperketat mobilitas warga di wilayah perbatasan Kabupaten Sidoarjo sebagai upaya mencegah penyebaran Covid-19. Selain mendirikan pos pemeriksaan di Waru, perbatasan Sidoarjo dengan Surabaya. Juga, dibuka pos serupa di Prambon dan Krian sebagai perbatasan dengan Kabupaten Mojokerto. Demikian pula, di Porong sebagai perbatasan dengan Kabupaten Pasuruan.
“Tiga orang warga luar kota Sidoarjo itu ditemukan di pos Waru. Hasil tes antigen ketiganya reaktif. Mereka langsung diwajibkan isolasi di tempat yang disediakan Pemkab Sidoarjo, sebagaimana peraturan yang ada terhadap pendatang dari luar Kota Sidoarjo,” kata Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol. Sudarmaji di sela melakukan peninjauan pelaksanaan razia warga luar Sidoarjo di Pos Polisi, Waru, Sidoarjo, Jumat (12/2/2021).
Menurut dia, pendirian pos pantau di empat titik perbatasan antara Kota sidoarjo dengan Kabupaten Mojokerto, dan Kabupaten Pasuruan tersebut merupakan aplikasi pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro. Mengamankan Kabupaten Sidoarjo dari paparan virus Covid-19, yang berasal dari luar kota lewat para calon pendatang. Salah satu upaya yang dilakukan dengan uji cepat antigen kepada warga luar kabupaten yang akan masuk ke dalam wilayah Sidoarjo.
“Kepada warga luar kota yang akan masuk ke Sidoarjo dilakukan uji cepat antigen. Diawali dengan pemeriksaat identitas kendaraan yang berasal dari luar Sidoarjo. Selanjutnya e-KTP penumpangnya Jika mereka berasal dari luar kota, langsung dilakukan uji cepat di tempat,” kata perwira dengan tiga melati di pundaknya itu.
Penyelenggaran pemantauan mobilitas kendaraan dan penumpangnya diperketat, diakui, karena saat ini sedang libur imlek. Kondisi ini dapat diasumsikan akan terjadi pergerakan masyarakat yang sangat tinggi masuk ke wilayah Sidoarjo.
Prosedur tetap (Protap) pelaksanaan pemantauan mobilisitas calon pendatang ke wilayah Sidoarjo, dikatakan, kendaraan bernopol luar Kabupaten Sidoarjo diberhentikan petugas dari TNI, Polri, dan Dinas Perhubungan (Dishub) Sidoarjo di empat titik pos pemantauan perbatasan Kabupaten Sidoarjo dengan Kota Surabaya, Kabupaten Mojokerto, dan Kabupaten Pasuruan.
Setelah diberhentikan petugas, pengendara diperiksa identitas diri. Selanjutnya ditanya tujuan dan keperluannya. Kemudian petugas melakukan pemeriksaan suhu tubuh dan tes cepat antigen. Bagi masyarakat luar kota yang hasil reaktif, maka langkah berikutnya adalah dibawa ke tempat karantina atau isolasi di salah satu hotel di Sidoarjo.
Pada kesempatan berbeda, Forum komunikasi pimpinan daerah (Forkopimda) Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur memastikan pelaksanaan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro seperti di Desa Bluru Kidul berjalan sesuai regulasi yang ada. Sehingga berpotensi menekan penyebaran virus Covid-19.
Penjabat Bupati Sidoarjo Hudiyono mengatakan, pihaknya bersama Forkopimda Kabupaten Sidoarjo memastikan pelaksanaan PPKM mikro berjalan sesuai dengan instruksi menteri dalam negeri (Inmendagri) Nomor 03 Tahun 2021.
“Dari pantauan di lokasi ada dua posko penjagaan yang disiapkan selama PPKM Mikro pada tanggal 9 hingga 22 Februari. Masing-masing posko dijaga TNI-Polri bersama Satpol PP dan Satgas Covid-19,” katanya di sela pemantauan lokasi posko PPKM skala mikro di Desa Bluru Kidul Sidoarjo, Rabu (10/2/2021).
Menurut dia, fungsi posko itu untuk pemeriksaan tamu yang keluar masuk. Untuk mempermudah sistem kontrolisasi pergerakan warga. Karena itu, petugas menerapkan satu akses masuk.
Di dalam posko disiapkan perlengkapan seperti baju hazmat, masker bedah, masker N95, masker KN 95, handscoon, kacamata goggles, cairan pembersih tangan dan sepatu boot. Termasuk rapid antigen untuk warga yang tinggal di kawasan PPKM mikro. Juga, disiapkan ruang isolasi untuk antisipasi jika ada yang melakukan isolasi mandiri.
“Kami sudah siapkan perlengkapan protokol kesehatan untuk petugas dan warga, mulai dari masker sampai sepatu boot. Kami juga siapkan rapid antigen dan alat bantu pernafasan HFNC (High Flow Nasal Cannula) jika ada warga yang merasakan sesak nafas ,” ujarnya.
Menurut dia, hasil pengecekan dan kondisi posko sudah menunjukkan siap untuk pelaksanaan PPKM skala mikro.
“Ruang isolasi juga sudah siap hanya saja tadi saya cek tinggal menambah tempat cucinya dan hand sanitizer. Di posko ini nanti disiapkan tenaga kesehatan dari puskesmas untuk membantu warga saat ada keluhan pernafasan. Pelaksanaan kerja petugas didukung alat bantu pernafasan 1 unit HFNC yang sudah disiapkan,” tambahnya.
Dari laporan yang diterima Hudiyono, ada beberapa RT atau RW yang dengan sukarela menerapkan PPKM mikro secara mandiri. Dia juga berharap kepala desa lain bisa menjalankan PPKM mandiri jika ada warganya yang terpapar.
Selama pelaksanaan PPKM mikro, menurutnya, tamu atau pengunjung dari luar desa harus melewati posko terlebih dulu. Mereka yang akan bertamu diminta menunjukkan surat keterangan sehat. Petugas posko akan mengawal tamu menuju ke alamat yang dimaksud.
Selama PPKM mikro, lanjutnya, Pemkab Sidoarjo memberikan bantuan berupa kebutuhan pokok. Untuk memudahkan warga, depan pintu masuk sudah disediakan sayur-sayuran.
Sebagaimana diketahui, penerapan PPKM mikro di Perum Bluru Kidul Regency jadi percontohan bagi desa lain. Desa Bluru Kidul masuk kategori desa zona merah. Jumlah kasus konfirmasi positif masih tinggi. Yakni 17 orang. Ada dua RW dan empat RT di perum Bluru Kidul regency yang masuk kategori pengawasan ketat. (ima)