
bongkah.id — Menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026, Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Gresik menetapkan target minimal nilai Matematika 6,00 dan Bahasa Indonesia 7,00. Target tersebut dipasang bukan tanpa alasan, melainkan berangkat dari capaian akademik nasional yang dinilai masih memprihatinkan.
Hasil TKA SMA tahun 2025 secara nasional menunjukkan rata-rata nilai Bahasa Indonesia 57,39, Matematika 37,23, dan Bahasa Inggris 26,71. Data ini menjadi sinyal peringatan bagi dunia pendidikan daerah.
“Angka ini menjadi peringatan serius,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik, Hariyanto, dalam keterangannya, Selasa (13/1/2026), selepas acara pelatihan guru di Gedung Mandala Bhakti, Gresik, Jawa Timur.
Di ruang pelatihan itulah, satu pertanyaan lama kembali dirumuskan ulang mengapa matematika kerap menjadi momok bagi siswa, dan bagaimana cara mengubahnya menjadi sahabat berpikir. Pertanyaan tersebut pula yang menjadi latar pesan Wakil Bupati Gresik, Asluchul Alif, saat membuka pelatihan bertajuk Pembelajaran Diferensiasi dan Motivasi Siswa ala Jepang.
Di hadapan ratusan pendidik, Alif tidak langsung berbicara soal rumus atau target nilai, melainkan menekankan pentingnya kejujuran.
“Yang sedang kita pikirkan adalah bagaimana matematika bisa menjadi pelajaran yang menyenangkan. Saya hanya menitipkan satu pesan penting, yakni kejujuran,” ujarnya.
Menurut Alif, kejujuran bukan sekadar etika mengajar, tetapi fondasi utama pendidikan. Jujur dalam proses pembelajaran, jujur dalam penilaian, dan jujur membaca kemampuan siswa. Tanpa itu, peningkatan kualitas pendidikan hanya akan berhenti sebagai deret angka di atas kertas.
Pelatihan yang digelar pada 12–14 Januari 2026 tersebut diikuti 321 guru SD dan SMP se-Kabupaten Gresik. Hadir pula Staf Ahli Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga, Prof. Biyanto. Fokus pelatihan diarahkan pada pembekalan pendekatan pembelajaran matematika yang lebih manusiawi, berangkat dari cara berpikir siswa, bukan dari ketakutan terhadap jawaban salah.
Hariyanto menjelaskan, pelatihan ini dirancang untuk mendorong guru keluar dari pola mengajar yang kaku. Matematika tidak lagi disajikan sebagai hafalan rumus, melainkan sebagai proses bernalar yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Pelatihan ini memperkuat numerasi guru sekaligus mensosialisasikan pembelajaran ala Jepang. Tujuannya jelas, menyiapkan peserta didik menghadapi TKA April 2026,” katanya.
Pendekatan ala Jepang menempatkan siswa sebagai subjek berpikir. Kesalahan tidak diposisikan sebagai kegagalan, melainkan sebagai bagian dari proses memahami konsep. Di titik inilah matematika diharapkan berubah wajah dari pelajaran yang menekan menjadi ruang eksplorasi logika.
Karena itu, Disdik Pemkab Gresik menargetkan tidak ada lagi nilai TKA di bawah 5 untuk jenjang SD dan SMP pada April mendatang. Target minimal Matematika dipatok 6,00 dan Bahasa Indonesia 7,00, dengan upaya perbaikan yang dilakukan secara bertahap dan terukur.
Untuk penguatan Bahasa Inggris, Pemkab Gresik menggandeng Kampung Inggris Pare melalui proyek percontohan di SDN 4 Petrokimia Gresik dan SMP Plus Jauharul Maknuun Sidayu. Di sekolah-sekolah tersebut, Bahasa Inggris tidak hanya diajarkan, tetapi dihidupkan sebagai ekosistem yang melibatkan guru, siswa, tenaga administrasi, hingga petugas kebersihan.
Sementara untuk matematika, fokus diarahkan pada pembiasaan bernalar. Siswa diajak memahami mengapa sebuah jawaban benar, bukan sekadar apa jawabannya. Proses ini diyakini mampu menumbuhkan rasa percaya diri dan ketahanan belajar, dua hal yang kerap hilang ketika matematika hanya dipersepsikan sebagai angka dan tekanan nilai. Melalui langkah-langkah tersebut, Disdik Pemkab Gresik menargetkan peningkatan nilai TKA yang konsisten dan mampu menembus 10 besar tingkat Provinsi Jawa Timur.
Di ruang pelatihan itu, matematika tak lagi dibicarakan sebagai pelajaran yang menakutkan. Ia mulai diperlakukan sebagaivg bahasa berpikir yang jika diajarkan dengan jujur dan manusiawi, justru dapat membebaskan. (anto)
























